Apa itu Konsultasi Infeksi Lanjutan?

Pasien yang sedang menjalani pengobatan antibiotik akibat infeksi atau penyakit infeksi menular akan dijadwalkan untuk menjalani konsultasi lanjutan. Tujuan dari konsultasi lanjutan ini adalah untuk memantau kemajuan dan pemulihan pasien jika pengobatan yang dilakukan berhasil. Kunjungan ini sebagian besar melibatkan pemeriksaan daerah infeksi (jika memungkinkan) dan gejala yang dialami pasien untuk menentukan apakah ada perkembangan sejak pertama kali pengobatan dilakukan. Konsultasi lanjutan juga bertujuan untuk melindungi pasien dari resiko dan komplikasi yang muncul akibat infeksi.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Infeksi Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi infeksi lanjutan ini dapat dijalani oleh semua pasien yang memiliki masalah infeksi dan sedang menjalani pengobatan. Konsultasi ini biasanya melibatkan:

  • Pemberian antibiotik atau obat antibakteri – Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, seperti E.coli dan salmonella, yaitu dua bakteri yang paling sering menyebabkan keracunan makanan.
  • Pemberian obat anti virus – Obat ini digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh virus. Pilek, kutil, dan flu adalah beberapa infeksi virus yang paling umum.
  • Pemberian obat anti jamur – Obat ini tersedia dalam bentuk oral maupun topikal dan digunakan untuk mengobati masalah atau infeksi akibat jamur. Jamur adalah penyebab utama infeksi kulit, yang menjadi alasan kebanyakan obat anti jamur diberikan dalam bentuk topikal.
    Dari semua obat infeksi ini, penggunaan antibiotik memerlukan pemantauan ketat karena dapat menyebabkan efek samping seperti resistensi antibiotik.

Jika antibiotik mulai menimbulkan efek samping, tidak bekerja seperti yang diharapkan, atau infeksi terlihat semakin parah dan bukan membaik, dokter dapat meningkatkan dosis atau mengganti dengan jenis obat-obatan lainnya. Bakteri dapat menjadi kebal terhadap antibiotik jika pasien tidak mengikuti anjuran dokter atau tidak menghabiskan antibiotik yang diberikan. Jika hal ini terjadi, bakteri dapat membentuk sistem pertahanan tertentu untuk melawan antibiotik atau mengubah serangan ke daerah tubuh yang berbeda.

Jika pengobatan pasien bekerja dengan baik, pasien akan tetap dijadwalkan untuk menjalani konsultasi lanjutan untuk memastikan infeksinya tidak kambuh.

Cara Kerja Konsultasi Infeksi Lanjutan

Konsultasi infeksi lanjutan dapat dilakukan oleh dokter yang memberikan resep obat infeksi kepada pasien, dan biasanya dilakukan setelah 7 atau 10 hari setelah pengobatan. Kunjungan ini berlangsung di kantor atau klinik dokter, dan mungkin berlangsung hingga 1 jam tergantung pada kondisi pasien.

Pemeriksaan fisik serta beberapa tes lainnya di bawah ini mungkin dilakukan selama konsultasi berlangsung:

  • Penghitungan darah lengkap
  • Kultur darah
  • Tes urin
  • Tes dahak
  • Kultur cairan serebrospinal
    Hasil tes yang dilakukan selama kunjungan lanjutan akan dibandingkan dengan hasil tes awal yang dilakukan sebelum pengobatan pasien dimulai. Dengan begitu, dokter dapat menilai apakah kondisi pasien telah membaik atau memburuk.

Kemungkinan Komplikasi atau Resiko Konsultasi Infeksi Lanjutan

Dokter yang meresepkan antibiotik untuk pengobatan infeksi akan selalu meminta pasien untuk melakukan konsultasi lanjutan untuk memastikan keamanan pasien selama menggunakan antibiotik. Jika antibiotik tidak bekerja, infeksi dapat memburuk dengan cepat dan dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang, seperti masalah kesehatan kronis dan kambuhnya infeksi.

Salah satu komplikasi yang paling berbahaya akibat pengobatan infeksi yang tidak efektif adalah sepsis, atau kondisi menyebarnya infeksi ke dalam darah pasien. Sepsis dapat menyebabkan reaksi yang parah seperti menggigil, mual, denyut jantung cepat, kebingungan, jarang buang air kecil, peradangan, pembekuan darah, dan bahkan kegagalan organ.

Konsultasi infeksi lanjutan juga dapat membantu memantau penggunaan obat oleh pasien agar tidak muncul efek samping dari obat antibakteri yang digunakan. Efek samping tersebut meliputi:

  • Reaksi alergi, seperti ruam gatal, batu, tenggorokan terasa sempit dan mengi
  • Anafilaksis atau reaksi alergi parah, yang dapat menyebabkan denyut jantung menjadi cepat, sesak napas, penurunan tekanan darah mendadak, dan pingsan
  • Diare
  • Kembung
  • Gangguan pencernaan
  • Nyeri perut
  • Kehilangan nafsu makan

    Rujukan:

  • Infectious Diseases Society of America

  • European Society for Microbiology and Infectious Diseases
Bagikan informasi ini: