Apa itu Perawatan Pra-Kelahiran Lanjutan?

Perawatan pra-kelahiran lanjutan adalah kunjungan yang dilakukan oleh wanita hamil pada beberapa dokter (bidan-dokter kandungan) selama masa kehamilan.

Perawatan kehamilan bukan hanya penting bagi kesehatan bayi, tetapi juga bagi calon ibu yang tengah mengandung. Tubuh akan mengalami banyak perubahan selama masa kehamilan yang dapat menyebabkan timbulnya komplikasi dan risiko. Menurut WHO (World Health Organization), angka kematian ibu hamil mengalami 44% penurunan selama tahun 1990-2015. Namun, terdapat lebih dari 800 wanita hamil yang meninggal akibat hal-hal yang sebenarnya dapat dicegah oleh perawatan sebelum persalinan. Berdasarkan hal ini, WHO menyusun Agenda Pembangunan Berkelanjutan untuk mengurangi angka kematian menjadi tidak lebih dari 70 orang untuk 100.000 persalinan dalam jangka waktu 14 tahun (2016-2030).

Siapa yang Perlu Menjalani Perawatan Pra-Kelahiran Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Perawatan sebelum persalinan diwajibkan bagi seluruh wanita hamil, terlebih jika:

  • Wanita hamil mengidap gangguan kesehatan tertentu – Kondisi yang dimaksud bisa dipicu oleh keadaan lingkungan atau bawaan genetik. Contohnya termasuk penyakit kelainan genetik resesif autosum Tay-Sachs, fibrosis sistik, diabetes kehamilan, atau diabetes yang timbul saat kehamilan. Dalam kasus ini, perubahan hormon cenderung membuat kadar insulin pada darah meningkat. Wanita hamil juga rentan terkena hipertensi (tekanan darah tinggi).

  • Wanita hamil yang gemuk atau kelebihan berat badan – Keadaan ini termasuk wajar terjadi saat kehamilan. Wanita hamil disarankan menjaga asupan makanan agar ia dan bayinya mendapat nutrisi yang tepat dan cukup, juga sebagai bantuan yang berguna bagi pertumbuhan janin. Riset terbaru mengatakan bahwa kenaikan berat badan melebihi batas normal dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur atau kematian janin. Bayi yang lahir dari ibu yang kelebihan berat badan (obesitas) juga mudah terkena obesitas dan diabetes sejak dini, jauh lebih awal dari usia rentan. Perawatan pra-kelahiran membantu menjaga berat badan ibu hamil selama kehamilan.

  • Kunjungan awal dapat mendeteksi masalah kehamilan sedini mungkin – Kunjungan saat perawatan pra-kelahiran sangat dianjurkan, khususnya jika dokter menemukan adanya risiko dan komplikasi terkait kehamilan, seperti posisi bayi terbalik, detak jantung janin melemah, atau keluarnya noda dan darah.

  • Usia kehamilan tua/mendekati waktu melahirkan – Persalinan juga mempunyai risiko dan komplikasi tersendiri, maka sangatlah penting untuk calon ibu agar benar-benar siap secara fisik dan mental.

  • Kehamilan pada trimester pertama – Trimester 1 merupakan usia yang paling rawan dalam kehamilan, karena sangat rentan akan keguguran [miscarriage].

  • Wanita yang menginginkan kehamilan – Walaupun perawatan pra-kelahiran dilakukan saat seorang wanita mengalami kehamilan, prosedur ini juga bisa menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan. Saat seorang wanita sudah mempersiapkan diri untuk hamil. Perawatan akan dilakukan untuk mengikuti dan mengetahui masa subur, begitu juga mempersiapkan tubuh untuk kehamilan dan melahirkan.

Manfaat perawatan pra-kelahiran bagi ibu dan bayi, antara lain:

  • Perkembangan dan pertumbuhan janin yang sehat dengan pemantauan berkala dan asupan gizi seimbang pada ibu (seperti, makanan dan suplemen yang baik dikonsumsi selama kehamilan)
  • Mengurangi risiko komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan prosedur persalinan
  • Persiapan wanita hamil menjadi seorang ibu
  • Mengatasi masalah terkait kehamilan, seperti hipertensi, preeclampsia (toksemia), diabetes kehamilan, kram perut, atau pendarahan pada vagina
  • Pemindaian bayi didalam perut, memudahkan dokter dan calon orangtua untuk mempersiapkan diri atas kemungkinan yang terjadi terkait gangguan bawaan genetik.

Cara Kerja Perawatan Pra-Kelahiran

Kunjungan awal yang dilakukan sebelum perawatan pra-kelahiran berlangsung bisa menjadi interaksi terpanjang antara dokter kandungan dengan calon ibu. Pada pertemuan ini, dokter akan melakukan pemeriksaan ekstensif, seperti pap smear, tes STD (Sexually Transmitted Disease) untuk mengetahui jika ibu mengandung tidak terkena penyakit menular seksual, dan pemeriksaan payudara. Dokter juga akan mencatat data medis calon ibu, yaitu berat badan, usia, detak jantung, tensi darah, alergi yang diderita, dan gangguan kesehatan yang berdampak pada bayi, seperti anemia dan infeksi yang disebabkan oleh virus atau kuman virus.

Setelah itu, dokter akan membantu membuat kehamilan menjadi lebih sehat dengan cara mengonsumsi makanan tepat, olahraga, gaya hidup yang lebih aktif tetapi aman untuk kandungan, konsumsi suplemen. Selanjutnya, dokter akan membuat rencana perawatan.

Biasanya, jarak antara tiap kunjungan tergantung pada usia kehamilan. Pada trimester 1 (0-28 minggu), kunjungan perawatan dilakukan satu kali dalam 4 minggu atau 1 bulan. Selama trimester 2 (29-35 minggu), kunjungan dilakukan setiap 2-3 minggu. Memasuki trimester 3 (setelah memasuki usia kehamilan 36 minggu), calon ibu akan dianjurkan menemui dokter satu kali dalam seminggu.

Pada setiap kunjungan perawatan, calon ibu diharapkan mampu mengikuti tes dan sesi tanya-jawab guna memudahkan dokter dalam menentukan:

  • Usia bayi yang sebenarnya
  • Berat badan
  • Ukuran bukaan rahim dan leher rahim
  • Tensi darah
  • Kadar glukosa pada air seni, sebagai acuan ada atau tidaknya diabetes kehamilan
  • Aktivitas dan posisi janin


Dokter perlu memeriksa tingkat risiko pada setiap kunjungan, juga tanda-tanda persalinan preterm (persalinan yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 37 bulan). Pemindaian genetik juga akan dilaksanakan sedini mungkin, saat usia bayi 8 minggu.

Saat perawatan, pasien diharapkan tidak malu dalam mengungkapkan kekhawatiran dan perubahan yang tidak wajar pada tubuhnya, seperti pendarahan atau keram.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perawatan Pra-Kelahiran

Walaupun sifatnya penting, perawatan sebelum bersalin tidak mudah untuk diikuti, terutama bagi pasien di negara berkembang. Menurut WHO, 99% kematian saat prosedur bersalin terjadi di daerah seperti sub-Sahara Afrika. Banyak faktor yang melatarbelakangi, seperti kurangnya tunjangan fasilitas kesehatan, kemiskinan, dan keyakinan pribadi yang menghalangi wanita untuk mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Selain itu, sebagian wanita mungkin enggan mengikuti prosedur perawatan karena masalah biaya, waktu, dan kurangnya usaha. Hal ini dapat menjadi masalah besar karena tanpa kehadiran pasien, dokter tidak bisa menjaga kondisi dan mengurangi risiko dengan tepat. Akan lebih baik jika dokter melakukan pendekatan yang lebih agresif pada pasien, dengan mengingatkan jadwal kunjungan perawatan dan manfaat atas perawatan pra-kelahiran rutin.

Rujukan:

  • Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Prenatal care. In: Cunningham FG, Leveno KL, Bloom SL, et al, eds. Williams Obstetrics. 24th ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2014: bab 9. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Prenatal diagnosis and fetal care. In: Cunningham FG, Leveno KL, Bloom SL, et al, eds. Williams Obstetrics. 24th ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2014: bab 14.

  • McDuffie RS Jr, Beck A, Bischoff K, Cross J, Orleans M. Effect of frequency of prenatal care visits on perinatal outcome among low-risk women. A randomized controlled trial. JAMA. 1996 Mar 20;275(11):847-51. PMID: 8596222 www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8596222.

Bagikan informasi ini: