Apa itu Konsultasi Terapi Okupasi Lanjutan?

Konsultasi terapi okupasi lanjutan adalah janji temu dengan dokter yang memiliki keahlian khusus dalam menangani faktor dan kondisi yang membahayakan kesehatan di lingkungan kerja. Yang termasuk dalam faktor tersebut antara lain adalah kesehatan, kesejahteraan, keamanan, kinerja, dan tata kerja karyawan di tempat kerja. Setiap jenis pekerjaan memiliki resikonya masing-masing, meskipun tergantung pada beragam faktor seperti usia, kondisi sebelum masuk kerja, deskripsi pekerjaan, durasi pekerjaan, dan bentuk pekerjaan. Sebagai contohnya, orang yang bekerja dalam bidang manufaktur lebih beresiko tergelincir sedangkan orang yang bekerja dalam bidang konstruksi beresiko terkena cedera akibat terjatuh dari ketinggian tertentu. Sementara itu, orang yang lebih sering melakukan pekerjaan sambil duduk di meja rentan terhadap nyeri punggung dan gangguan pergelangan tangan. Gaya hidup ini juga dapat meningkatkan resiko penyakit jantung dan diabetes. Kedokteran okupasi adalah ilmu kedokteran klinis yang bertujuan untuk mencegah cedera dan penyakit di tempat kerja. Jika penyakit ini tidak dapat dicegah sepenuhnya, tujuan dari terapi okupasi adalah untuk mengurangi paparan dan penyebaran, mengobati penyakit, dan membantu pasien menangani penyakit tersebut. Konsultasi lanjutan dilakukan untuk melengkapi proses penyembuhan, untuk memantau dan menyesuaikan saran yang diberikan dokter kepada pasien pada konsultasi awal. Melalui konsultasi okupasi lanjutan, diharapkan kesehatan karyawan dapat dijaga dan bahkan ditingkatkan.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Terapi Okupasi Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi terapi okupasi lanjutan disarankan bagi: * Karyawan yang terluka – Luka atau cedera akibat pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi, meskipun data Bureau of Labor Statistics 2014 mencatat bahwa jumlah kasus ini semakin menurun. Meskipun begitu, setidaknya 3 dari 100 karyawan masih beresiko mengalami cedera yang tidak terlalu fatal yang berkaitan atau terjadi ketika melakukan pekerjaannya. Konsultasi lanjutan ini diperlukan untuk memantau perkembangan pemulihan, mengurangi resiko cedera dan komplikasi, serta menangani cedera apabila terjadi. * Karyawan yang menderita penyakit akibat pekerjaannya – Tempat kerja sering dianggap sebagai faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan maupun kesejahteraan seseorang. Sebagai contoh, bagian tubuh yang digunakan berulang kali dapat mengalami gangguan muskuloskeletal, serta cacat tubuh. Penyakit umum lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan adalah radang sendi dan tendon seperti artritis dan nyeri punggung. Perawatan maupun konsultasi lanjutan bertujuan untuk membantu pasien menangani penyakit, mengobatinya, maupun mencegah kemungkinan munculnya penyakit atau komplikasi lain akibat penyakit yang diderita. * Orang yang bekerja di sekitar lingkungan yang mengancam kesehatan – Contohnya, perawat dan dokter bekerja di sekitar lingkungan yang dapat memaparkan zat-zat berbahaya seperti darah, muntahan, dan urin pasien yang terinfeksi. Konsultasi lanjutan ini dilakukan untuk melakukan beberapa tes untuk memastikan apakah pasien mengalami gangguan kesehatan. Setelah itu, pasien akan mendapatkan pengobatan dan/atau penanganan yang diperlukan . * Perusahaan yang mencari konsultan penyakit okupasi – Ahli kesehatan dan ahli pengobatan okupasi lainnya dapat melakukan konsultasi lanjutan untuk membantu perusahaan memeriksa apakah perusahaan telah mengikuti maupun melaksanakan kegiatan kerja sesuai rencana, pedoman, dan standar yang ditetapkan selama tahap konsultasi awal.

Cara Kerja Konsultasi Terapi Okupasi Lanjutan

Konsultasi lanjutan dilakukan setelah pasien melakukan konsultasi awal. Jeda antara konsultasi awal dan lanjutan dapat bervariasi, tergantung pada tujuan dari konsultasi awal. Contohnya, orang yang terpapar darah yang terinfeksi maupun zat berbahaya lainnya dan dirujuk ke dokter dapat menjalani konsultasi lanjutan setelah beberapa minggu atau bulan. Tes yang dilakukan ketika pasien terpapar zat-zat tersebut dapat dilakukan kembali pada konsultasi lanjutan. Kemudian, dokter akan memberikan vaksinasi untuk mencegah resiko terpaparnya pasien terhadap zat berbahaya, serta pengobatan dan penanganan penyakit pasien. Hal ini diharapkan dapat membantu pasien mengatasi penyakitnya sambil bekerja di tempat kerjanya serta mengurangi resiko paparan terhadap pekerja lainnya. Pekerja yang tidak terpapar zat berbahaya dapat menjalani konsultasi terapi okupasi agar mereka mengetahui cara menghindari paparan dan kekambuhan penyakit maupun kondisi yang pernah diderita. Konsultasi lanjutan juga dapat dilakukan setelah konsultasi kondisi kerja, yaitu konsultasi di mana ahli kesehatan okupasi diminta untuk membuat rancangan dan standar keamanan serta keselamatan kerja. Konsultasi lanjutan umumnya dilakukan pada jeda waktu yang lebih lama, seperti setiap 3-6 bulan bahkan 1 tahun sekali. Hal ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada perusahaan maupun pekerjanya untuk menerapkan dan menjalani saran yang diberikan. Selama konsultasi lanjutan berlangsung, ahli kesehatan okupasi akan meninjau ulang saran-saran sebelumnya, yang mengacu pada undang-undang pekerja yang ditetapkan oleh pemerintah dan negara. Lalu, saran tersebut akan dibandingkan dengan kondisi perusahaan selama ini. Jika diperlukan, saran yang diberikan dapat diperbarui, diubah, maupun dihapus.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Terapi Okupasi Lanjutan

Resiko terbesar dari konsultasi lanjutan adalah gagalnya konsultasi ini. Hal ini dapat terjadi akibat beragam faktor dan kondisi. Perusahaan mungkin tidak dapat lagi melakukan konsultasi dengan dokter, yang berarti karyawannya harus mengeluarkan dana sendiri untuk melakukan konsultasi dengan dokter. Para karyawan juga mungkin merasa tidak memilki waktu maupun kesulitan untuk menjalani konsultasi lanjutan dengan dokter. Lebih parah dari itu, konsultasi lanjutan ini juga mungkin diabaikan oleh perusahaan maupun pekerjanya. Konsultasi maupun perawatan lanjutan merupakan upaya gabungan untuk meningkatkan kinerja dan keselamatan serta keamanan pekerja. Oleh karena itu, semua pihak perlu mendukung berlangsungnya konsultasi lanjutan. Jika pasien merasa tidak memiliki tujuan untuk menjalani konsultasi lanjutan, tim ahli kesehatan dan perusahaan harus mengingatkan dan menjelaskan manfaat dari konsultasi lanjutan tersebut.

Rujukan:

  • Centers for Disease Control and Prevention. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Stress...At Work. Updated June 6, 2014. www.cdc.gov/niosh/docs/99-101
Bagikan informasi ini: