Apa itu Konsultasi Spesialis ParuLanjutan?

Konsultasi lanjutan pulmonologi dilakukan dengan ahli pulmonology atau spesialis paru, yaitu dokter yang memiliki keahlian khusus dalam penyakit paru-paru, terutama penyakit yang mengganggu saluran pernapasan bagian atas. Selain itu, ahli pulmonologis juga dapat menangani penyakit paru-paru yang menyerang jantung.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Spesialis Paru Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi lanjutan dengan spesialis paru perlu dilakukan jika:

  • Pasien menderita penyakit paru-paru kompleks – Tidak semua jenis penyakit paru-paru membutuhkan bantuan spesialis paru. Seringnya, masalah paru-paru sederhana dapat didiagnosis dan diobati oleh dokter umum. Pasien akan dirujuk ke spesialis paru, jika penyakit paru-parunya cukup kompleks untuk dapat ditangani oleh dokter umum. Spesialis paru dibutuhkan untuk menangani penyakit paru-paru yang sulit untuk diobati dan ditangan karena sifatnya, usia pasien, dan fakor lainnya yang dapat mengganggu kesehatan dan kesbugaran pasien secara keseluruhan. Penyakit paru-paru juga dapat menjadi semakin parah dengan adanya penyakit lainnya seperti HIV/AIDS.

  • Pasien mengonsumsi obat – Salah satu cara paling efektif untuk menangani penyakit paru-paru adalah dengan meresepkan obat. Misalnya, dokter akan memberikan antibiotik jika pasien menderita infeksi saluran pernapasan. Namun, obat tetap membutuhkan pemantauan konstan untuk memastikan pasien mengonsumsinya sesuai dengan resep dokter. Jika pasien tidak merespon baik obat yang diberikan, dosis obat dan bahkan keseluruhan resep dapat diubah oleh spesialis paru.

  • Pasien menjalani operasi – Penyakit paru-paru dapat diatasi dengan melakukan operasi, misalnya, transplantasi paru. Meskipun begitu, operasi memiliki resiko dan komplikasi tertentu, seperti pendarahan, infeksi, atau penolakan pada kasus operasi transplantasi paru-paru yang harus dicegah dan ditangani secepat mungkin.

  • Pasien baru keluar dari rumah sakit – Di rumah sakit, spesialis paru dapat jauh lebih mudah memantau kemajuan pasien, terutama karena lingkungan rumah sakit yang lebih terkendali. Setelah pasien keluar dari rumah sakit, pasien mungkin dapat terserang faktor penyakit yang dapat memperparah kondisinya. Oleh karena itu, tindakan lanjutan dapat dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan pasien setelah pasien kembali menjalani aktivitasnya.

  • Diperlukan perubahan gaya hidup – Pasien yang menderita penyakit paru-paru, seperti emfisema, perlu mengubah gaya hidupnya untuk membuat penyakitnya lebih mudah dikelola. Salah satu perubahan besar yang harus dilakukan adalah berhenti merokok. Konsultasi lanjutan diperlukan sehingga dokter dapat memantau perkembangan pasien atau meneruskan bimbingan dan menginstruksikan pasien untuk mengubah gaya hidunya dengan cara yang lebih nyaman dan sederhana.

Manfaat konsultasi lanjutan dengan spesialis paru telah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Sebuah penelitian dilakukan untuk menilai kondisi kesehatan lebih dari 60.000 pasien dengan penyakit paru-paru obstruktif kronis(PPOK). Penelitian ini menunjukan pasien yang melakukan konsultasi lanjutan dengan spesialis paru setidaknya dalam waktu 30 hari setelah keluar dari rumah sakit memiliki resiko lebih rendah penyakit kambuh serta kemungkinan lebih kecil untuk dirawat di unit gawat darurat. Dalam sebuah penelitian serupa oleh Ben-Gurion University Medical Centre, pasien yang tidak melakukan konsultasi lanjutan setelah sebulan keluar dari rumah sakit berpotensi mengalami penyakit kambuh dalam waktu tiga bulan.

Cara Kerja Konsultasi Spesialis ParuLanjutan

Konsultasi lanjutan dengan spesialis paru akan dibahas selama konsultasi awal. Jika pasien memilih untuk menjalani operasi, konsultasi tersebut akan dibahas sebelum operasi dilakukan. Dokter perlu membuat pasien menjaga komitmennya untuk melakukan konsultasi lanjutan.

Tidak ada jadwal tertentu kapan konsultasi lanjutan harus dilakukan. Bagi pasien yang menderita PPOK, konsultasi lanjutan akan dilakukan berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien. Jika kondisnya ringan, konsultasi lanjutan cukup dilakukan dalam setahun sekali. Namun, jika kondisi pasien semakin parah, konsultasi ini akan lebih sering dilakukan. Untuk kasus pada umumnya, konsultasi lanjutan biasanya dijadwalkan setiap 3-6 bulan. Sementara itu, pasien penderita PPOK berat akan dipantau setiap 2-4 bulan.

Bagi pasien yang telah menjalani transplantasi paru, konsultasi lanjutan akan dilakukan tepat setelah operasi. Setelah pasien keluar dari rumah sakit, pasien akan diminta untuk mengunjungi spesialis paru setiap 2-3 minggu selama beberapa bulan untuk menilai kestabilan paru-paru yang ditransplantasikan. Jika sudah stabil, rencana konsultasi lanjutan selanjutnya dapat dibuat, di mana pasien akan mengunjungi dokter dalam jangka waktu yang lebih jarang kecuali terdapat kasus di mana pasien mengalami tanda dan gejala, seperti demam, yang dapat menunjukan adanya penolakan organ.

Selama konsultasi lanjutan berlangsung, dokter akan meminta pembaruan riwayat kesehatan pasien dan keluarga, perkembangan kesehatan atau adanya gejala baru atau memburuk, respon terhadap pengobatan atau perawatan, dan masalah lainnya. Jika diperlukan, pasien dapat menjalani tes tertentu seperti tes darah dan pencitraan, seperti sinar-X untuk pemantauan yang lebih akurat.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Lanjutan Spesialis paru

Tindakan ini tidak memiliki komplikasi dan resiko apapun. Namun, tidak semua pasien memiliki komitmen kuat untuk melakukan konsultasi lanjutan karena alasan seperti jauhnya jarak tempat tinggal dengan rumah sakit, tingkat keparahan kondisi, usia, dan status sosial serta ekonomi.

Rujukan:

  • Mason, R. Murray and Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine, 5th edition, Saunders, 2010.
Bagikan informasi ini: