Apa itu Pengobatan Psikosomatik Lanjutan?

Pengobatan psikosomatik lanjutan merupakan kunjungan ke dokter psikosomatik setelah melakukan konsultasi awal.

Gangguan psikosomatik merupakan gangguan yang menyerang tubuh dan pikiran penderitanya. Gangguan psikosomatik yang menyerang pikiran dapat menyebabkan tubuh penderitanya cacat dan bahkan kematian dini.

Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit psikosomatik sering disebut sebagai penyakit pikiran atau penyakit yang tidak nyata. Namun, para ahli telah menemukan cara untuk mengukur tingkat keparahan kondisi penyakit ini dengan menggunakan tes yang dapat memastikan ada atau tidaknya tanda dan gejala penyakit psikosomatik pada pasien.

Selain itu, gangguan psikosomatik berbeda dengan gejala fisik yang tidak dapat ditemukan penyebabnya secara medis (gangguan somatoform) karena gangguan psikosomatik dapat diukur. Gangguan somatoform hanya dirasakan oleh pasien, namun hasil tes yang dilakukan tidak dapat memastikan penyakit tersebut.

Contoh dari gangguan psikosomatik adalah kasus pasien yang merasa cemas hingga denyut jantung atau tekanan darahnya bergerak cepat. Kondisi ini dapat diukur dengan menggunakan pemeriksaan sederhana. Sedangkan contoh gangguan somatoform adalah kondisi nyeri punggung yang dirasakan oleh pasien, namun pemeriksaan yang dilakukan menyatakan punggung pasien baik-baik saja.

Karena pengobatan dan pengelolaan kedua gangguan ini berbeda, perbedaan antara kedua gangguan tersebut juga perlu diketahui.

Penyakit psikosomatik diyakini berhubungan dengan sistem saraf pusat. Tubuh memiliki sistem respon yang dikenal sebagai flight or fight (melarikan diri atau melawan), yang menentukan seberapa tertekan/stresnya seseorang. Ketika tubuh mengalami stres, tubuh akan mengirimkan sinyal ke otak, yang akan direspon otak dengan melepaskan hormon tertentu. Hormon ini dapat mengganggu fungsi normal tubuh, sehingga menyebabkan fungsi tubuh menjadi tidak seimbang.

Siapa yang Harus Menjalani Pengobatan Psikosomatik Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

  • Pasien yang telah didiagnosis dengan kondisi medis tertentu – Beberapa kondisi medis diyakani menjadi semakin parah akibat gangguan psikosomatik. Penyakit ini termasuk penyakit jantung dan psoriasis.

  • Pasien yang didiagnosis dengan gangguan mental – Penyakit psikosomatik sangat dipengaruhi oleh keadaan pikiran penderitanya. Jika keadaan pikiran sedang tidak seimbang atau stabil, potensi penderitanya terserang gangguan psikosomatik juga semakin meningkat.

  • Penyakit serius yang menyebabkan gangguan mental – Selain gangguan mental dapat menyebabkan penyakit, penyakit serius juga dapat membuat penderitanya mengalami gangguan mental. Misalnya, penyakit kanker dapat menyebabkan penderita menderita depresi , yang menyebabkan terganggunya fungsi tubuh. Gangguan ini dapat menyebabkan gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, dan memburuknya sistem kekebalan tubuh, yang dapat memperparah penyakit yang ada atau bahkan memunculkan penyakit baru.

  • Hasil tes memastikan adanya penyakit psikosomatik – Banyak tes yang dapat dilakukan untuk menentukan apakah pasien menderita penyakit psikosomatik. Jika hasilnya positif, pasien perlu melakukan kunjungan lanjutan.

Dengan melakukan pengobatan psikosomatik lanjutan yang teratur, gejala penyakit pasien dapat dicegah, dikurangi, atau dihilangkan, sehingga dapat mengurangi kemungkinan penyakit pasien bertambah parah.

Cara Kerja Pengobatan Psikosomatik Lanjutan

Pasien yang mengalami tingkat stres yang tinggi dapat dirujuk ke dokter dan psikiater. Pasien dapat dirujuk ke dokter ahli atau dokter umum yang dapat mendiagnosis atau memastikan kondisinya dengan melalui serangkaian pemeriksaan. Pasien juga mungkin memerlukan bantuan psikiater untuk menangani gangguan mental atau pikiran.

Selama konsultasi awal berlangsung, pasien akan diberikan serangkaian tes atau pemeriksaan, yang hasilnya akan menjadi pertimbangan rencana pengobatan. Pengobatan penyakit ini dapat bervariasi dan melibatkan penggunaan obat serta terapi seperti terapi perilaku kognitif(CBT).

Pengobatan lanjutan akan dijadwalkan setelah pasien menjalani pengobatan awal. Jangka waktu antara pengobatan lanjutan dan awal berbeda untuk setiap pasiennya karena kasus penyakitnya yang berbeda pula. Pasien yang menunjukkan gejala parah mungkin memerlukan pengobatan lanjutan yang lebih sering, misalnya seminggu sekail.

Selama pengobatan lanjutan berlangsung, dokter akan:

  • Mengajukan pertanyaan tentang tanda atau gejala yang baru muncul atau mungkin memburuk, seperti sesak napas atau meningkatnya kecemasan pasien
  • Menilai keampuhan obat yang dikonsumsi
  • Mengatur atau mengubah pengobatan pasien bila diperlukan
  • Melakukan pemeriksaan untuk mengukur gejala
  • Memberikan masukan jika diperlukan

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pengobatan Psikosomatik Lanjutan

Secara keseluruhan, penyakit psikosomatik merupakan penyakit yang rumit terutama karena melibatkan hubungan antara pikiran dan tubuh pasien. Untuk mengatasinya, baik penyakit pada pikiran maupun tubuh perlu diobati. Namun, tidak semua pasien merasa nyaman menjalani pengobatan dengan psikiater atau ahli terapi sementara pasien lainnya mungkin merasa tidak sepenuhnya yakin kondisi yang mereka alami sebagai kondisi psikosomatik. Kedua kondisi ini dapat membuat pasien enggan untuk mencari pengobatan dan bahkan merasa pengobatan lanjutan sia-sia.

Pengujian teratur yang dapat menghubungkan pikiran dan tubuh pasien, serta menjelaskan kondisi penyakit pasien, dapat meningkatkan komitmen pasien untuk menjalani pengobatan lanjutan.

Rujukan:

  • McEwen BS. Physiology and neurobiology of stress and adaptation: central role of the brain. Physiol Rev 2007; 87: 873–904.

  • McCauley J, Kern DE, Kolodner K et al. Clinical characteristics of women with a history of childhood abuse. JAMA 1997; 277: 1362–8.

  • Walker EA, Gelfand A, Katon WJ et al. Adult health status of women with histories of childhood abuse and neglect. Am J Med 1999; 107: 332–9.

Bagikan informasi ini: