Apa itu Konsultasi Gangguan Tidur Lanjutan?

Konsultasi gangguan tidur lanjutan adalah janji temu dengan spesialis gangguan tidur dan/atau dokter umum untuk melakukan tindak lanjut pasca konsultasi dan pasca menjalani berbagai tes diagnostik, seperti evaluasi tidur. Tujuan utamanya adalah menemukan penyebab utama dari gangguan tidur yang dialami pasien, serta menentukan jenis pengobatan terbaik. Konsultasi ini juga dilakukan untuk memastikan, apakah pengobatan yang sedang berjalan bekerja dengan baik, atau dilakukan untuk mengobati gejala baru yang muncul dan tidak teratasi pada janji temu sebelumnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Gangguan Tidur Lanjutan & Hasil yang Diharapkan

Konsultasi gangguan tidur lanjutan direkomendasikan bagi:

Mereka yang pernah menjalani tes diagnostik seperti evaluasi tidur – Evaluasi tidur adalah sebuah investigasi terhadap pola tidur, perilaku, dan kebiasaan seseorang saat tertidur. Ini perlu dilakukan untuk mendiagnosa gangguan tidur, seperti insomnia atau apnea tidur. Selain itu, tindakan ini juga membantu dokter untuk mengidentifikasi penyebab gangguan tidur dengan benar. Sehingga, pengobatan yang tepat dapat dirumuskan untuk menyelesaikan masalah dan mencegah akibat buruk yang dapat ditimbulkan oleh kurangnya waktu tidur.

Pengobatan dan perawatan yang dijalani pasien tidak bekerja – Pada kasus di mana pengobatan untuk gangguan tidur tidak memberikan hasil yang diharapkan, pasien dianjurkan kembali menemui dokter untuk menjalani konsultasi lanjutan. Sehingga, penyesuaian rencana perawatan bisa dilakukan.

Tindakan lanjutan dilakukan untuk memastikan pasien benar-benar memahami hasil diagnosis, berkomitmen untuk menjalani pengobatan sampai benar-benar sembuh, dan mendapatkan hidup yang sehat serta berkualitas. Ini juga berguna bagi spesialis gangguan tidur dan dokter umum, karena mendapatkan informasi yang dapat membantu untuk memahami kondisi pasien dengan baik.

Cara Kerja Konsultasi Gangguan Tidur Lanjutan

Konsultasi lanjutan perlu dilakukan segera setelah evaluasi tidur atau tindakan pemeriksaan lainnya dilakukan. Pada kebanyakan kasus, dokter umum dan spesialis gangguan tidur akan bekerjasama untuk memahami kondisi pasien. Lalu, keduanya akan merumuskan metode pengobatan terbaik bagi pasien dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi uniknya.

Saat konsultasi lanjutan, dokter akan meninjau riwayat kesehatan pasien dan keluargan, obat-obatan yang pernah dan sedang dikonsumsi, gaya hidup, serta gejala yang dirasakan.

Setelah itu, dokter akan membacakan hasil pemeriksaan. Ada dua kemungkinan yang dapat muncul. Pertama, diagnosis lengkap langsung dapat diberikan. Kedua, dokter meminta pasien melakukan pemeriksaan lagi, agar mendapatkan hasil yang lebih menyeluruh. Selain itu juga mencakup, rencana pengobatan dan manajemen gangguan tidur yang dialami pasien.

Ada beberapa metode pengobatan tergantung gangguan yang diderita pasien. Salah satunya menggunakan mesin CPAP bagi pasien penderita apnea tidur, di mana mesin tersebut akan membantu membuka jalan udara sehingga pasien bisa bernapas dengan baik saat tertidur. Pada kasus seperti ini, dokter akan memberitahukan cara penggunaan mesin, bagaimana memakai maskernya dan bagaimana merawat mesinnya.

Dokter spesialis gangguan tidur terkadang merujuk pasien ke psikolog atau psikiater, jika gangguan tidurnya disebabkan oleh masalah mental seperti depresi. Psikiater dan psikolog dapat melakukan terapi perilaku kognitif (CBT) di mana pola pikir pasien dimodifikasi, sehingga pasien dapat memiliki cara pikir yang lebih baik.

Jika sesi konsultasi membawa hasil positif, selanjutnya perkembangan pasien terhadap metode pengobatan yang diaplikasikan akan dipantau.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Gangguan Tidur Lanjutan

Konsultasi gangguan tidur lanjutan perlu dilakukan beberapa kali. Kadang ini terasa melelahkan dan membuat frustasi bagi sebagain pasien. Akhirnya, banyak dari mereka yang memutuskan menghentikan tindakan pengobatan. Tentu saja, gangguan tidur yang dialami menjadi makin parah dan menumpuk. Atau bisa juga disebabkan oleh dokter yang kurang proaktif dalam menghubungi pasien dan menjadwalkan konsultasi lanjutan.

Masa tunggu antara janji temu ke janji berikutnya juga dapat meningkatkan kecemasan pasien, sehingga tanpa disengaja dapat memengaruhi pola tidur pasien. Biasanya konsultasi lanjutan berjarak dua hingga empat minggu, sebelum pasien menjadwalkan konsultasi berikutnya.

Rujukan:

  • Balkin TJ. Performance deficits during sleep loss. In: Kryger MH, Roth T, Dement WC. Principles and Practice of Sleep Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 65.

  • Carskadon MA, Dement WC. Normal human sleep. In: Kryger MH, Roth T, Dement WC. Principles and Practice of Sleep Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 2.

  • Centers for Disease Control and Prevention. Sleep and Sleep Disorders. Updated March 12, 2015. www.cdc.gov/sleep/index.html. Accessed September 21, 2015.

  • Drake CL, Wright KP. Shift work, shift-work disorder, and jet lag. In: Kryger MH, Roth T, Dement WC. Principles and Practice of Sleep Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 71.

  • Philip P, Sagaspe P, Taillard J. Drowsy driving. In: Kryger MH, Roth T, Dement WC. Principles and Practice of Sleep Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 69.

Bagikan informasi ini: