Apa itu Pengobatan Nyeri Lanjutan?

Nyeri adalah tanda gangguan kesehatan pada tubuh. Nyeri yang dirasakan dalam waktu singkat dan hilang jika mendapatkan pengobatan, disebut nyeri akut. Sedangkan [nyeri kronis] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/nyeri-kronis) adalah nyeri berkepanjangan yang terus dirasakan selama lebih dari 6 bulan dan sangat mengganggu kesehatan serta hidup pasien.

Tahap awal dalam penanganan nyeri adalah memeriksa dan menentukan penyebabnya. Konsultasi pengobatan nyeri yang pertama akan menetapkan prosedur pengobatan yang akan diberikan pada pasien. Saat pemeriksaan nyeri, dokter akan memberikan diagnosa berdasarkan keluhan pasien yang umumnya sulit dipahami karena sangat subjektif. Untuk menjaga objektivitas jawaban, dokter akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan sistem PQRST:

  • Penyebab nyeri (Provoked): Apa yang menyebabkan nyeri? Apa membuat nyeri memburuk dan membaik?

  • Kualitas nyeri (Quality): Nyeri apa yang dirasakan? Tumpul, tajam, menikam, membakar atau mencabik?

  • Lokasi nyeri (Region): Dimana rasa nyeri timbul? Apakah pada lokasi yang sama, berpindah-pindah atau menyebar ke bagian tubuh lain?

  • Tingkat keparahan nyeri (Severity): Seberapa parah nyeri yang dirasakan? (Gunakan skala nyeri untuk mengetahui jawaban pasien)

  • Frekuensi nyeri (Timing): Kapan nyeri mulai timbul? Seberapa sering Anda merasakannya? Berapa lama rasa nyeri bertahan? Apakah nyeri tidak kunjung hilang?

Setelah prosedur pemeriksaan selesai, dokter akan membuat resep pengobatan sesuai kondisi pasien. Obat analgesik (obat penghilang rasa nyeri) diberikan bagi pasien yang mengalami nyeri ringan hingga sedang (akut). Sedangkan obat-obat opioid digunakan untuk nyeri sedang hingga kronis.

Siapa yang Perlu Menjalani Pengobatan Nyeri Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Perawatan pasca-pengobatan nyeri berlaku bagi orang-orang yang sudah berkonsultasi dan mendapat pengobatan. Prosedur ini sangat diperlukan, jika:

  • Pasien membutuhkan pemeriksaan lanjutan - Tidak hanya memantau perkembangan pasien tetapi prosedur ini membantu mencegah konsumsi berlebihan dan penyalahgunaan dosis obat yang dapat membuat kecanduan, menimbulkan efek samping, komplikasi dan bahaya yang mengancam nyawa.

  • Pengobatan tidak efektif – Pertemuan rutin pasca pengobatan dilaksanakan satu bulan setelah kunjungan awal untuk melihat reaksi obat-obatan. Apabila pengobatan tidak memberikan pengaruh apapun, nyeri tidak hilang, maka akan dibuatkan penyesuaian dosis.

  • Efek samping yang tidak dapat ditangani - Pasien harus mengikuti prosedur pasca-pengobatan, bahkan lebih cepat dari jadwal kunjungan apabila terdapat efek samping yang tidak mampu ditangani. Dokter akan menyesuaikan dosis obat untuk meminimalisir timbulnya efek samping.

Cara Kerja Pengobatan Nyeri Lanjutan

Setelah diberi resep pengobatan, biasanya pasien akan mengikuti pemeriksaan lanjutan secara rutin. Saat berkunjung, tim dokter akan mengamati reaksi tubuh pasien terhadap obat-obatan yang dikonsumsi. Agar evaluasi menjadi objektif, tim dokter akan mengadakan pemeriksaan dengan dasar penilaian tertentu. Pada beberapa klinik, pasien akan diberikan kuesioner seputar kondisi kesehatannya, seperti:

  • Kondisi nyeri yang dirasakan– Sistem PQRST, seperti pada konsultasi awal, akan digunakan untuk memeriksa dan memastikan adanya perubahan positif pada tingkat nyeri.

  • Kedisiplinan pasien – Keberhasilan prosedur pengobatan tergantung pada kedisiplinan pasien. Dedikasi dan ketaatannya dalam mengikuti anjuran dosis, jadwal minum obat, terapi (jika ada) dan memperbaiki gaya hidup akan dinilai saat konsultasi.

  • Memeriksa pengobatan – Tim dokter akan meninjau dan memerhatikan ketergantungan pasien terhadap obat-obatan serta efek buruk lainnya.

  • Pemeriksaan fisik dan tes diagnostik – Pengobatan nyeri lanjutan berguna untuk memantau perkembangan nyeri dan reaksi tubuh terhadap pengobatan. Dokter akan memeriksa hati dan ginjal pasien serta melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan kesehatan pasien tidak terganggu. Tes urin juga diperlukan untuk mengetahui bahwa pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan yang tidak sesuai resep.

  • Pengawasan obat resep – Dokter dapat merujuk pada daftar jenis obat-obatan yang mengumpulkan dan mengatur resep dari apotek dan pelayanan obat. Setelah mengevaluasi jawaban kuesioner pasien, tim dokter akan menentukan resep pengobatan baru atau melanjutkan pengobatan yang sedang berjalan jika tidak perlu menyesuaikan dosis.

Kemudian, pasien akan diberi dan harus menandatangani resep pengobatan yang berisi daftar obat yang harus dikonsumsi beserta efek samping dan risikonya. Resep ini bersifat penting sebagai tanda bahwa pasien paham dan setuju dengan pengobatan. Salinan resep akan diberikan pada pasien dan lembar asli akan disimpan pada rekam medisnya.

Pasien memerlukan pengobatan yang berbeda jika ia terbukti kecanduan dan ketergantungan dan/atau apabila tidak ada perkembangan atau perubahan pada nyeri yang diderita pasien.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Pengobatan Nyeri Lanjutan

Prosedur pengobatan nyeri lanjutan dapat mendeteksi komplikasi pada pasien yang tidak disiplin. Alih-alih membaik, nyeri justru tidak mengalami perubahan atau perkembangan yang berarti. Dokter akan merekomendasi pengobatan yang berbeda. Kemungkinan risiko overdosis akan memperburuk kesehatan dan mengancam nyawa pasien.

Rujukan:

  • Sherwood ER, Williams CG, Prough DS. Anesthesiology principles, pain management, and conscious sedation. In: Townsend CM Jr, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 18th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012: bab 16.
Bagikan informasi ini: