Apa itu Perawatan Pasca-Radioterapi?

Kunjungan wajib pasien pada ahli radiologi dokter kanker atau anggota tim bedah kanker pasien lainnya setelah terapi radiasi merupakan prosedur perawatan pasca-radioterapi.

Ketika seseorang mempunyai sifat genetik bawaan yang rentan terhadap penyakit tertentu, terkena bahan kimia dan berada di lingkungan yang memudahkan gen untuk bermutasi. Gen yang bermutasi menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan sel kanker. Sel-sel tersebut mengganggu sel lama dan telah rusak, sehingga tidak mampu melakukan apoptosis (program kematian sel). Akibatnya, tubuh akan terus memproduksi sel baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Jika hal ini terjadi, sel tidak akan berfungsi normal dan membentuk tumor yang menghambat proses kerja organ tubuh, lalu menyebar ke bagian-bagian tubuh lain (metastasis).

Berbagai jenis prosedur penyembuhan kanker yang tersedia pada berberapa dekade terakhir, di antaranya terapi radiasi (radioterapi), yaitu prosedur yang memanfaatkan radiasi energi tinggi, seperti gamma dan rontgen (sinar-X) untuk membunuh sel kanker. Partikel-partikel yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui prosedur radiasi internal (brachyteraphy), sedangkan radiasi eksternal dilakukan menggunakan mesin yang memancarkan radiasi di luar tubuh.

Radioterapi membunuh sel kanker dengan merusak DNA – partikel yang menyimpan informasi genetik tubuh dan instruksi sifat sel. Jika sel kanker mati, ia akan dikeluarkan dari tubuh. Menurut statistik, tingkat efisiensi prosedur radioterapi mencapai lebih dari 70%. Namun pada kanker yang mengganggu otak dan paru-paru, persentasenya hanya 50% dan 59%. Dalam peristiwa lainnya, radioterapi digunakan untuk meringankan gejala dan menghambat perkembangan kanker.

Siapa yang Harus Menjalani & Hasil yang Diharapkan

Lebih dari 60% pasien kanker harus mengikuti sedikitnya satu sesi radioterapi. Perawatan pasca-radioterapi dilakukan untuk:

  • Mengamati potensi efek samping radioterapi – Prosedur terapi radiasi sejatinya akan membunuh sel kanker, tetapi dapat membahayakan sel-sel normal. Tingkat dan frekuensi radiasi juga dapat menimbulkan efek samping yang berbeda, termasuk namun tidak terbatas pada rasa sakit pada kulit, lelah, kekurangan darah [anemia], risiko infeksi meningkat. Selain menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa sakit, efek samping tersebut dapat menurunkan kualitas hidup pasien, khususnya beberapa minggu setelah prosedur berakhir. Sedang risiko infeksi yang meningkat dapat menyebabkan kematian.

  • Mengikuti perkembangan risiko kambuh – Risiko menderita kanker yang sama kemungkinan akan terjadi walaupun pasien telah menyelesaikan langkah-langkah radioterapi. Nyatanya penelitian membuktikan bahwa radioterapi dapat memicu penyakit untuk kambuh karena jika terkena material radioaktif, DNA di dalam sel akan bermutasi. Selama proses perawatan, pasien akan mengikuti rangkaian tes untuk mastikan ada atau tidaknya perubahan atau kumpulan sel kanker baru yang sedang berkembang.

  • Membantu pasien beradaptasi – Perawatan pasca-radioterapi adalah waktu yang tepat bagi pasien dan keluarga, juga orang-orang yang merawatnya untuk berkonsultasi mengenai langkah-langkah pemulihan agar menjadi lebih mudah, nyaman, dan cepat.

  • Menilai tingkat keberhasilan radioterapi – Hal ini dilakukan berdasarkan hasil yang didapat setelah menyelesaikan seluruh sesi radioterapi. Dokter bisa saja mengulangi prosedur secara keseluruhan, menggunakan metode yang berbeda, menganjurkan aturan yang berlainan, atau menghentikan radiasi.

Cara Kerja Perawatan Pasca-Radioterapi

Dokter harus memberitahukan pada pasien mengenai perawatan lanjutan sebagai bagian dari prosedur pasca-terapi. Hal ini perlu dibicarakan saat evaluasi sebelum radioterapi agar pasien sadar akan hasil yang dapat ia harapkan setelah prosedur berakhir.

Selama perawatan pasca- terapi, pasien harus mematuhi jadwal yang telah disusun oleh dokter. Kunjungan pertama diadakan segera setelah prosedur radiasi terapi selesai. Selanjutnya, pasien diperbolehkan menjalani prosedur, baik rawat inap atau berobat jalan. Namun, pasien umumnya akan rawat inap selama prosedur perawatan berjalan. Dokter akan mengamati tingkat ketidaknyamanan dan sakit yang dirasakan pasien, keberhasilan dari prosedur dalam konteks tujuan (sembuh atau mereda), dan memeriksa keberadaan efek samping. Berbagai jenis tes juga akan dilaksanakan untuk mendapatkan hasil menyeluruh yang lebih meyakinkan, seperti pemindaian dan tes darah.

Dokter juga harus memutuskan apakah pasien sudah boleh melanjutkan aktivitas rutinnya atau adakah kegiatan tertentu yang harus dihindari selama proses perawatan, atau mungkin selamanya. Dokter harus menjelaskan perawatan lanjutan yang dibutuhkan pasien, terutama jika pasien terkena efek samping.

Dalam kunjungan selanjutnya diharapkan, dokter memperlihatkan penilaian perkembangan perawatan dan hasil tes pada pasien, juga memberikan pelayanan yang terbaik. Pasien dianjurkan menemui penyedia layanan kesehatan lainnya, seperti ahli bedah dan dokter perawatan, untuk mendapat perawatan lanjutan yang berbeda.

Dokter akan memberikan penyuluhan atau menganjurkan pasien untuk bergabung dengan kelompok dukungan (support group) yang dapat membantu pasien beradaptasi dengan penyakit yang diderita, karena kanker dapat mempengaruhi keadaan mental pasien.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Perawatan Pasca-Radioterapi

Keadaan tubuh setelah sesi radioterapi selesai membuat pasien sulit mengikuti jadwal perawatan pasca-radiasi terapi. Pertama, efek samping seperti letih akan membuat pasien enggan bergerak mengunjungi ahli radiasi kanker mereka, apalagi jika pasien mempunyai jadwal dengan beberapa penyedia layanan kesehatan lain. Kemungkinan pasien akan merasa frustrasi dengan pengobatan yang dijalani, khususnya jika mereka mengalami gejala-gejala efek samping ataupun kambuh. Terdapat pula kasus dimana pasien menghindari seluruh proses lanjutan dan menganggap semuanya hanya masa lalu dan tidak ingin mengingatkan dirinya bahwa ia adalah seorang penderita kanker.

Merupakan tugas dokter untuk menjelaskan manfaat keseluruhan dan pentingnya perawatan pasca-radioterapi bagi hidup pasien sehingga pasien akan mempunyai motivasi yang kuat untuk mengikuti jadwal yang ada.

Rujukan:

  • Zemen EM, Schreiber EC, Tepper JE. Basics of radiation therapy. In: Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, et al., eds. Abeloff's Clinical Oncology. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2013: bab 27.

  • National Cancer Institute. Radiation therapy and you: support for people who have cancer. Available at: http://www.cancer.gov/cancertopics/coping/radiation-therapy-and-you. Diakses pada 29 Mei 2014.

Bagikan informasi ini: