Apa itu Konsultasi Pra-Perjalanan Lanjutan?

Konsultasi pra-perjalanan lanjutan adalah janji temu dengan dokter yang memiliki keahlian khusus dalam penyakit yang terjadi saat bepergian. Konsultasi ini dilakukan setelah konsultasi awal.

Saat ini fasilitas perjalanan dan ekonomi dunia telah sangat meningkat, sehingga semakin banyak orang yang dapat mengunjungi negara lain untuk bekerja, lliburan, dan alasan lain. Namun, bepergian ke negara lain juga memiliki risiko tersendiri, termasuk kemungkinan terkena penyakit di negara tujuan.

Menurut World Health Organization (WHO), travel medicine atau emporiatrik merupakan cabang ilmu kedokteran yang sangat bermanfaat untuk melawan penyakit yang ditemukan di seluruh dunia atau di daerah tertentu, misalnya daerah tropis. Penyakit ini dapat sangat membahayakan wisatawan. Emporiatrik mempelajari cara pencegahan, diagnosis, dan pengobatan untuk penyakit yang risiko penularannya rendah namun dapat membahayakan nyawa wisatawan.

Konsultasi pra-perjalanan lanjutan juga dapat membahas risiko yang dirasakan oleh wisatawan. Ini berarti sebenarnya pasien tidak terlalu berisiko terkena suatu penyakit, namun ia yakin risikonya tinggi. Hal ini dapat menambah kekhawatiran atau kecemasan pasien. Terakhir, konsultasi ini dapat berfokus pada penyakit yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan karena mudah menular. Salah satu contohnya adalah wabah Ebola yang belum lama ini terjadi, di mana virus telah menyebar di masyarakat melalui kontak dengan cairan tubuh.

Konsultasi pra-perjalanan lanjutan dapat dilakukan oleh dokter umum, namun akan lebih baik jika Anda menemui dokter spesialis emporiatrik.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Pra-Perjalanan Lanjutan dan Hasil yang Diharapkan

Seseorang yang ingin bepergian akan membutuhkan konsultasi lanjutan jika:

  • Ia membutuhkan beberapa vaksin – Imunisasi melalui pemberian vaksin adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah penyakit. Saat ini, vaksin yang tersedia dapat mencegah gondong, hepatitis, polio, tetanus, difteria, dan rabies. Namun, beberapa vaksin mungkin tidak boleh diberikan pada saat yang tidak bersamaan.

  • Ia mengalami komplikasi karena vaksin – Vaksin sangat jarang menimbulkan komplikasi, namun efeknya dapat membahayakan, misalnya anafilaksis atau reaksi alergi yang parah. Konsultasi lanjutan akan dilakukan apabila dokter ingin menilai risiko atau tingkat keparahan dari komplikasi ini.

  • Ada informasi yang baru tentang negara tujuan – Informasi baru yang dapat memengaruhi kesehatan pasien harus dibicarakan sebelum perjalanan. Konsultasi lanjutan merupakan saat yang tepat untuk menganalisis informasi ini, memeriksa catatan perjalanan yang terdahulu dan rekomendasi, dan menentukan apakah wisatawan masih dapat melanjutkan perjalanan atau tidak.

  • Pasien membutuhkan informasi tambahan tentang cara menjaga kesehatan saat bepergian – Wisatawan yang telah diperbolehkan pergi tetap dapat menemui dokter apabila ia membutuhkan panduan, saran, atau informasi tambahan tentang cara menjaga kesehatan.

  • Pasien memiliki penyakit yang dapat memengaruhi perjalanannya – Konsultasi lanjutan dapat membantu menilai apakah pasien yang sakit tetap dapat bepergian atau apakah ia membutuhkan pengobatan tambahan untuk dapat bepergian.

  • Pasien tidak diperbolehkan pergi ke negara lain – Pasien yang dilarang oleh dokter untuk bepergian dapat meminta konsultasi lanjutan. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang tidak diperbolehkan pergi, dan alasan ini akan dievaluasi saat konsultasi lanjutan.

Cara Kerja Konsultasi Pra-Perjalanan Lanjutan

Seseorang yang ingin bepergian harus menemui dokter terlebih dahulu, walaupun ia tidak memiliki penyakit yang serius. Konsultasi dengan dokter bertujuan untuk:

  • Menilai risiko dari bepergian, terutama ke negara tertentu
  • Membantu wisatawan menangani gangguan kesehatan yang ringan
  • Mengurangi risiko terkena penyakit


Saat konsultasi lanjutan, dokter dapat melakukan hal berikut:

  • Menilai apakah pasien layak untuk bepergian – Dokter akan mempertimbangkan risiko pasien terkena penyakit, usia, genetik, lingkungan, gaya hidup pasien, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengisi kuisioner pra-perjalanan, memeriksa riwayat kesehatan, dan melakukan pemeriksaan kesehatan.

  • Memberikan vaksin untuk mengurangi risiko penularan penyakit – Vaksin yang diberikan akan bergantung pada usia, risiko penyakit, dan vaksin yang pernah didapatkan oleh pasien. Namun, ahli medis menyarankan agar pemberian vaksin tetap dilakukan walaupun seseorang tidak akan bepergian.

  • Menyiapkan wisatawan – Selain vaksinasi, dokter dapat membantu individu yang menderita penyakit dengan memberikan informasi tertentu. Informasi yang diberikan dapat meliputi barang yang harus dibawa, cara mencari pertolongan, dan cara melakukan pertolongan pertama. Hal ini dilakukan untuk membantu pasien menjaga kesehatannya saat bepergian.

Konsultasi lanjutan dapat dilakukan setidaknya satu kali dan beberapa hari atau minggu setelah konsultasi awal. Tidak semua konsultasi perjalanan membutuhkan konsultasi lanjutan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Pra-Perjalanan Lanjutan

Beberapa wisatawan mungkin tidak dapat melakukan konsultasi lanjutan karena alasan tertentu, misalnya karena kurangnya waktu. Upaya untuk memotivasi wisatawan agar menemui dokter sebelum bepergian harus dilakukan oleh agen kesehatan dan penyedia layanan kesehatan.

Rujukan:

  • Basnyat B, Ericsson CD. Travel medicine. In: Auerbach PS, ed. Wilderness Medicine. 6th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2011:chap 84.
Bagikan informasi ini: