Apa itu IUD?

IUD (intrauterine device) atau juga dikenal sebagai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah sebuah tindakan kontrasepsi yang dilakukan dengan memasang alat berbentuk T di dalam rahim untuk mencegah terjadinya pembuahan. Tujuan utama dari tindakan ini adlah untuk mencegah sperma untuk sampai ke sel telur, tetapi bahkan seandainya pembuahan tetap terjadi, alat ini berfungsi untuk mencegah sel telur yang sudah dibuahi bergerak ke dalam rahim.

Tidak seperti tindakan kontrasepsi pembedahan, IUD atau AKDR adalah solusi jangka panjang tetapi dapat dihentikan kapan saja. Saat sudah dipasangkan, pasien tidak perlu cemas akan terjadinya kehamilan. Namun, jika pasien memutuskan untuk mempunyai anak, alat tersebut dapat diangkat dengan mudah dari dalam rahim.

Siapa yang Perlu IUD dan Hasil yang Diinginkan

Penanaman IUD atau AKDR dapat dilakukan untuk semua wanita dewasa yang ingin menunda kehamilan. Alat kontrasepsi ini adalah pilihan yang tepat selama pasien tidak sedang menderita infeksi pada bagian panggul dan tidak sedang hamil.

Hasil yang diharapkan dari tindakan ini adalah sebuah tindakan kontrasepsi yang bertahan dalam jangka waktu lama tetapi masih bisa diangkat. Alat ini dapat bertahan selama lima sampai sepuluh tahun, tergantung dari alat IUD yang digunakan. Pilihan yang ada adalah AKDR berbahan tembaga (nonhormonal) dan IUD hormonal. IUD tembaga memiliki tingkat efektivitas lebih dari 99% dan bekerja dengan cara memperlambat pergerakan sperma, merusak sel sperma, dan meningkatkan mukus serviks yang ada di dalam rahim.

Sangat penting diingat bahwa meskipun alat IUD dapat mencegah kehamilan, alat IUD tidak dapat melindungi pasien dari infeksi penyakit seksual [penyakit menular seksual] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/penyakit-menular-seksual-pms) seperti jenis alat kontrasepsi lainnya, seperti kondom.

Bagaimana Tindakannya Bekerja?

Sebelum pemasangan IUD, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien untuk menentukan posisi dan ukuran dari kandungan. Ini dulakukan untuk memastikan IUD akan dipasang dengan benar dan akan bekerja sebagaimana mestinya. Dokter juga dapat meminta beberapa jenis pengujian untuk mencegah terjadinya infeksi panggul dan infeksi penyakit seksual.

Tindakannya sendiri hanya menghabiskan waktu selama 15 sampai 20 menit. Pasien akan diminta untuk berganti pakaian dengan gaun kertas dan berbaring di meja operasi. IUD kemudian akan dimasukkan ke dalam rahim melalui celah vagina. Pasien mungkin akan merasakan sakit dan rasa tidak nyaman selama tindakan berlangsung, dan dapat meminta penggunaan alat pengurang rasa sakit.

Setelah IUD dipasang, pasien mungkin akan merasakan rasa pegal di daerah panggul, yang seharusnya akan hilang setelah beberapa hari. Pasien disarankan untuk kembali ke klinik atau rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ultrasonik setidaknya dalam waktu lima sampai enam minggu setelah pemasangan IUD untuk memastikan bahwa IUD sudah dipasang dengan baik. Bahkan, pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonik setiap tahunnya.

Pasien sendiri dapat memeriksa pemasangan IUD dengan cara memasukkan jari ke dalam vagina. Talinya seharusnya berada tepat di dalam celah vagina. Jika pasangan pasien dapat merasakan tali tersebut selama melakukan hubungan badan, pasien dapat kembali ke klinik untuk memendekkan tali tersebut.

Dokter akan meminta pasien untuk tidak memasukkan apapun ke dalam vagina (seperti pembalut) selama sehari setelah tindakan dilakukan.

Risiko dan Kemungkinan Komplikasi

Ada beberapa efek samping yang mungkin dirasakan pasien setelah tindakan dilakukan. Alat IUD tembaga dikenal dapat meningkatkan pendarahan menstruasi pendarahan, yang akan menjadi normal kembali setidaknya tiga bulan setelah tindakan dilakukan. Sedangkan alat IUD hormonal memiliki efek samping yang berkebalikan, di mana pemasangannya akan mengurangi terjadinya pegal-pegal dan pendarahan akibat menstruasi.

Meskipun sangat langka, alat IUD dapat melukai rahim. Ini paling sering terjadi saat pemasangan alat tersebut. Alat IUD biasanya jarang keluar dengan sendirinya, tetapi ada laporan bahwa ada kemungkinan terjadi dalam satu tahun pemasangan alat tersebut.

Kehamilan ektopik atau kehamilan kehamilan yang terjadi di luar rahim, mungkin juga menjadi komplikasi bagi wanita yang menggunakan alat IUD tembaga atau nonhormonal.

Alat IUD juga dapat menyebabkan infeksi panggul bagi sebagian wanita. Penyakit radang panggul, yang biasanya dihubungkan dengan pemasangan alat intrauterine, dapat membuat pasien menjadi mandul.

Beberapa penelitan menunjukkan hubungan antara masalah sistem reproduksi wanita dengan pemasangan alat IUD.

Rujukan:

  • Grimes DA (2007). Intrauterine devices (IUDs). In RA Hatcher et al., eds., Contraceptive Technology, 19th ed., pp. 117–143. New York: Ardent Media.

  • Dean G, Schwarz EB (2011). Intrauterine contraceptives (IUCs). In RA Hatcher et al., eds., Contraceptive Technology, revised 20th ed., pp. 147–191. New York: Ardent Media.

  • Speroff L, Darney PD (2011). Intrauterine contraception. In A Clinical Guide for Contraception, 5th ed., pp. 239–279. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.

Bagikan informasi ini: