Apa itu Pengurasan Abses?

Abses kulit adalah daerah yang membengkak, biasanya terasa hangat saat disentuh, dan juga perih. Kulit di sekitar abses juga akan berwarna merah atau merah muda. Abses kulit adalah gumpalan nanah yang terkumpul karena infeksi. Abses kulit dapat muncul di berbagai tempat pada tubuh tapi biasanya lebih sering muncul di sekitar ketiak, paha bagian dalam, di sekitar dubur dan daerah vagina, dan di bagian ujung tulang belakang.

Abses kulit terkadang dianggap sebagai kista karena keduanya terbentuk dari gumpalan cairan. Meskipun abses kulit terbuat dari gumpalan nanah, antibiotik tidak bisa meringankan gejalanya. Satu-satunya cara untuk menangani abses kulit adalah dengan membuat sayatan dan menguras isinya.

Abses kulit terbentuk karena adanya minyak atau kelenjar keringat yang menggumpal, pembengkakan folikel rambut, atau kulit yang sobek sedikit. Kuman atau bakteri akan menyerang kulit atau kelenjar tersebut dan menyebabkan pembengkakan, karena sel darah putih bereaksi untuk melawan infeksi. Abses kulit kemudian akan berisi sel yang sudah mati, bakteri, dan jaringan yang sudah hancur dan berkembang dan menyebabkan tekanan serta sakit di sekitar daerah kuli tersebut.

Awalnya, abses kulit akan tampak mengeras saat sedang bertumbuh sampai matang. Metode sayatan dan pengurasan tidak dapat dilakukan saat abses kulit sedang bertumbuh. Antibiotik juga tidak akan efektif karena tidak dapat menyerang dinding abses kulit itu sendiri. Setelah abses kulit tersebut matang sepenuhnya atau saat berubah menjadi lebih lembut dan mulai mengeluarkan cairan, barulah metode sayatan dan pengurasan dapat dilakukan.

Siapa yang Perlu Menjalani Pengurasan Abses dan Hasil yang Diharapkan

Abses kulit adalah gumpalan halus yang perlu ditangani di saat yang tepat. Kunjungan ke dokter akan diperlukan saat gejala berikut ini mulai muncul:

  • Ada luka yang lebih besar dari 1 cm atau setengah inci
  • Luka tersebut mulai berkembang dan terasa nyeri
  • Luka tersebut terletak di sekitar dubur atau panggul Anda
  • Anda mengalami demam dengan temperatur lebih dari 101.5 °F atau 38.6°C, terutama jika sistem kekebalan tubuh Anda sudah terserang
  • Mulai munculnya kulit yang kemerahan tanda akan adanya abses kulit


Setelah abses kulit sudah dikuras dan diobati, rasa sakit perlahan-lahan akan menghilang. Ini berarti pemulihan luka tersebut sedang berjalan. Antibiotik akan membantu dalam mengatasi infeksi yang mungkin tersisa dan mencegah munculnya abses kulit baru.

Cara Kerja Pengurasan Abses

Abses kulit sering mudah didiagnosis saat terletak di daerah yang tampak jelas, tetapi pemindaian mungkin diperlukan untuk melihat tahapan kerusakannya, terutama jika abses kulit tersebut berukuran besar dan tertanam dalam ke dalam kulit. Setelah dokter menilai kondisi Anda, kemudian sayatan akan dibuat. Lalu, pengurasan abses dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Tindakan dimulai dengan pengolesan larutan antiseptik di daerah yang akan disayat dan dikuras
  • Jika abses kulitnya berukuran relatif kecil, maka anestesi lokal akan diberikan untuk membuat daerah tersebut menjadi kebas. Namun, jika abses kulitnya berukuran besar, obat bius mungkin akan diberikan pada pasien.
  • Setelah pasien dibius, dokter akan membuka abses kulit dengan scalpel menguras semua nanah dan sisa-sisa dari abses kulit tersebut. Dalam beberapa kasus yang terdapat sekumpulan kantung nanah, maka nanah dari tempat tersebut akan dikuras satu per satu.
  • Setelah pengurasan nanah sudah selesai, dokter dapat memasukkan kapas pada lubang yang ada untuk mengurangi [pendarahan] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/pendarahan). Nanah kemudian masih dapat terus keluar ke kapas tersebut; karenanya penting untuk tetap membuat luka tersebut tidak ditutup selama beberapa hari.
  • Perban akan menutupi kapas dan luka terbuka tersebut. Pasien akan perlu menangani luka terbuka tersebut di rumah.
  • Obat pengurang rasa sakit mungkin akan diberikan bersamaan dengan antibiotik untuk menangani infeksi yang masih ada dan mencegah munculnya infeksi yang baru.


Meskipun tindakan ini secara teknis sudah selesai saat dokter sudah menguras abses kulit, selebihnya akan bergantung pada pasien untuk memantau luka terbuka tersebut. Jika luka tersebut kerap mengeluarkan nanah, maka kapas yang ada perlu diganti dengan yang baru. Pasien dapat kembali ke dokter atau melakukannya sendiri sesuai instruksi dari dokter. Jika lubang terbuka tersebut sudah kosong dan tidak ada lagi nanah yang keluar, kapas tersebut dapat dikeluarkan dap pasien perlu memberishkan daerah tersebut 3-4 kali setiap hari, selama 7 sampai 10 hari, untuk memastikan luka tersebut pulih sepenuhnya.

Jika pasien mengalami demam setelah tindakan dilakukan atau ada daerah yang kemerahan dan perih, maka kunjungan lanjutan ke dokter akan diperlukan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pengurasan Abses

Abses kulit dapat berkembang menjadi kondisi yang serius jika tidak segera ditangani. Jika abses kulit tersebut berukuran kecil, sebesar 1 cm atau lebih kecil lagi, maka memberikan kompres hangat akan membantu dalam menangani rasa sakitnya. Namun, jangan pernah mencoba untuk menguras nanah dan memasangkan kapas, karena seseorang yang tidak memiliki keahlian dalam melakukannya dapat membuat kesalahan yang menyebabkan kondisi anda jadi memburuk. Tindakan ini juga dapat membuat nanah yang ada di dalam abses kulit muncrat pada dokter atau di sekitar abses kulit tersebut. Untuk mencegahnya, penggunaan masker dan pelindung mata perlu dilakukan untuk mencegah memuncratnya nanah. Kain kasa juga perlu digunakan untuk melindungi kulit dari percikan nanah.

Bekas luka dari sayatan akan berukuran relatif kecil dan biasanya akan hilang seiring waktu. Namun, jika abses kulit berukuran besar yang biasanya tertanam dalam ke dalam kulit, bekas luka akan lebih tampak.

Rujukan:

  • Daum RS. Staphylococcus aureus. In: Long SS, ed. Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 115.

  • Pasternack MS, Swartz MN. Cellulitis, necrotizing fasciitis, and subcutaneous tissue infections. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, eds. Principles and Practice of Infectious Diseases. 7th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2009:chap 90.

Bagikan informasi ini: