Apa itu Augmentasi Bibir?

Augmentasi bibir adalah prosedur kosmetik untuk memperindah tampilan bibir dengan membuatnya terlihat lebih penuh dan berisi. Secara umum, bibir penuh dan berisi membuat seseorang terlihat lebih sehat serta muda, karena bibir cenderung menipis saat bertambah usia. Bentuk dan ukuran ideal dari bibir biasanya ditentukan berdasarkan fitur wajah lain di sekitarnya, seperti hidung. Prosedur ini telah dilakukan sejak awal abad 20-an.

Siapa yang Perlu Menjalani Augmentasi Bibir dan Hasil yang Diharapkan

Augmentasi bibir direkomendasikan bagi mereka yang bibir aslinya terlalu tipis, sehingga seperti hilang saat tersenyum. Selain itu, diperuntukkan bagi mereka yang bibirnya menipis akibat bertambahnya usia.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk augmentasi bibir. Sebagian hasilnya hanya bersifat sementara, namun ada juga yang tahan lama. Di antaranya:

  • Penyuntikkan dermal filler
  • Injeksi lemak
  • Implan bibir
  • Bedah vermillion lanjutan
  • Bedah pengencangan bibir


Umumnya, pasien lebih memilih prosedur dengan hasil sementara karena dapat disesuaikan dengan penampilan yang diinginkan pasien. Yang paling banyak dipilih adalah penyuntikkan dermal fillers, terutama yang menggunakan asam hialuronat. Filler yang dipasarkan dengan nama dagang yang berbeda-beda ini, adalah zat yang disuntikkan ke dalam bibir dan di permukaan mulut. Karena asam hialuronat juga ada secara alami dalam tubuh, resiko komplikasi dan reaksi negatif sangatlah rendah. Ini juga sangat efektif dalam meningkatkan volume bibir untuk waktu yang cukup lama hingga 6 bulan, namun dengan resiko memar rendah. Setelah enam bulan, pasien perlu mendapatkan suntikan lagi untuk mempertahankan bibir yang bervolume.

Cara Kerja Augmentasi Bibir

Penyuntikkan dermal filler dilakukan sebagai prosedur rawat jalan di klinik kecantikan. Sebelum disuntikkan, spesialis kecantikan akan mengoleskan agen pemati rasa pada bibir. Jika diperlukan, suntikan untuk memblokir saraf juga diberikan. Area di sekitar mulut yang menjadi tempat injeksi akan ditandai, lalu jarum suntik digunakan untuk masukkan asam hialuronat ke bibir.

Sementara jika pasien memilih menjalani prosedur penyuntikkan lemak, maka ia perlu tinggal di rumah sakit atau klinik kecantikan dalam waktu yang lebih lama untuk mengambil lemak cangkokan. Lemak tersebut diambil dari tubuh pasien sendiri melalui prosedur sedot lemak, sebelum disuntikkan ke bibir.

Setelah prosedur augmentasi selesai, es akan didiamkan di area yang dikerjakan oleh dokter untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan pembengkakan. Masa penyembuhan cederung singkat hanya 1 – 2 hari, setelahnya bibir pasien akan terlihat lebih penuh dan berisi.

Sementara, masa penyembuhan setelah augmentasi bibir berbeda-beda. Jika disuntikkan, maka hanya memakan waktu sehari. Jika operasi, maka memakan waktu hingga satu minggu, karena membutuhkan jahitan. Walaupun ukurannya sangat kecil, namun tetap perlu dilepaskan setelah 4 – 5 hari pasca prosedur.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Augmentasi Bibir

Augmentasi bibir dengan penyuntikkan jauh lebih aman dibandingkan operasi, namun keduanya sama-sama memiliki resiko. Beberapa potensi komplikasi dapat muncul saat prosedur pembesaran bibir, di antaranya:

  • Pendarahan
  • Pembengkakan
  • Memar
  • Kemerahan
  • Sensitif terhadap nyeri


Komplikasi ini ringan dan hanya sementara, sehingga akan hilang dengan sendirinya. Namun, jika bertahan lebih dari 10 hari, pasien harus memberitahu spesialis kecantikannya. Kemerahan dan gatal dalam waktu lama menandakan reaksi alergi terhadap zat yang disuntikkan ke kulit.

Ada juga komplikasi yang terkait dengan hasil prosedur, di antaranya:

  • Bibir asimetris
  • Ada benjolan pada bibir
  • Hilangnya jaringan, akibat menyuntikkan zat ke pembuluh darah
  • Bekas luka
  • Bibir kaku
  • Ulserasi pada bibir


Komplikasi lain dapat terjadi dalam augmentasi bibir dengan teknik injeksi implan silikon. Oleh karena itu, teknik ini sudah tidak direkomendasikan karena tingginya komplikasi. Dalam salah satu kasus, dilaporkan pasien menderita formasi abses pasca prosedur.

Rujukan:

  • Luthra A. “Shaping lips with fillers.” J. Cutan Aesthet Surg. 2015 Jul-Sep; 8(3): 139-142. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4645142/

  • Schmidt-Westhausen A.M., Frege J., Reichart P.A. “Abscess formation after lip augmentation with silicone: Case report.” International Journal of Oral and Maxillofacial Surgery. 2004 March; 33(2): 198-200. http://www.ijoms.com/article/S0901-5027(02)90467-4/abstract

  • Tobin H.A., Karas ND. “Lip augmentation using an Alloderm graft.” Journal of Oral and Maxillofacial Surgery.” 1998 June; 56(6): 722-727. http://www.joms.org/article/S0278-2391(98)90805-9/abstract

Bagikan informasi ini: