Apa itu Augmentasi Payudara?

Augmentasi payudara atau pembesaran payudara adalah prosedur bedah kecantikan invasif untuk memperbesar dan mengencangkan payudara dengan implan, juga dikenal sebagai augmentation mammoplasty. Prosedur ini juga dapat menggunakan cangkok lemak tubuh (autologous), di mana kelebihan lemak dari bagian tubuh lain (mis. bokong dan paha) diambil melalui sedot lemak dan disuntikkan ke payudara. Pembedahan ini dapat membantu wanita yang menginginkan payudara yang terlihat lebih alami dan tidak menjadi terlalu besar.

Augmentasi payudara dapat dikombinasikan dengan bedah payudara lainnya, seperti mastopeksi (pengencangan payudara) dan rekonstruksi payudara, yang direkomendasikan bagi pasien yang telah menjalani mastektomi atau payudaranya rusak akibat cacat bawaan atau trauma.

Siapa yang Perlu Menjalani Augmentasi Payudara dan Hasil yang Diharapkan

Augmentasi payudara merupakan prosedur yang ideal bagi wanita yang:

  • Ingin semakin percaya diri dengan penampilan yang lebih menarik
  • Merasa payudara mereka terlalu kecil dibandingkan ukuran tubuh
  • Ingin mengembalikan bentuk dan ukuran payudara setelah berat badan turun, penuaan, dan kehamilan
  • Ingin memiliki payudara yang simetris
    Augmentasi payudara juga merupakan salah satu pembedahan bedah yang dilakukan pada proses penggantian kelamin pria menjadi wanita. pria yang ingin mengganti kelaminnya.

Seperti operasi kecantikan lainnya, augmentasi payudara juga memiliki batasan tertentu. Prosedur ini tidak dapat mengencangkan payudara yang kendur atau turun (ptosis), kecuali digabungkan dengan pengencangan payudara (mastopeksi). Prosedur ini juga tidak disarankan bagi mereka yang:

  • Obesitas – Studi menunjukkan bahwa pasien yang obesitas atau kelebihan berat badan lebih beresiko mengalami komplikasi serius akibat augmentasi payudara.
  • Berencana hamil – Dokter bedah dapat meminta wanita yang berencana hamil atau memiliki anak lagi untuk menunda prosedur ini. Walaupun kehamilan tidak mengurangi kualitas implan, namun payudara akan mengalami perubahan selama hamil. Maka dari itu, pasien mungkin perlu menjalani prosedur tambahan di kemudian hari.
  • Sedang menyusui – Efek augmentasi payudara bagi wanita menyusui masih diperdebatkan hingga saat ini. Beberapa ahli menyatakan bahwa 90% wanita yang menjalani augmentasi payudara dapat menyusui. Namun, ada juga yang beranggapan bahwa prosedur ini berdampak buruk pada produksi ASI, tergantung pada letak sayatan, jumlah jaringan glandular, serta apakah ada saraf dan saluran susu yang rusak akibat pembedahan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa pada tahun 2013, augmentasi payudara memiliki tingkat kepuasan dan keberhasilan yang beragam. Setidaknya 98% wanita merasa puas dengan hasilnya, 75% mendapatkan kekencangan dan ukuran payudara yang sesuai harapan, 13% menginginkan payudara yang lebih besar, dan 1% bermasalah dengan bekas luka.

Cara Kerja Augmentasi Payudara

Sebelum pembedahan, pasien akan dibantu dokter bedah dalam memilih jenis implan payudara. Pilihan yang tersedia adalah:

Implan berisi zat

Dua implan payudara yang paling populer adalah saline dan silikon. Keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan tersendiri.

Implan saline terbuat dari lapisan silikon yang berisi cairan garam steril. Walaupun terasa lebih tidak alami dan lebih mudah pecah atau keriput, namun implan ini lebih aman karena mengandung larutan yang dapat diserap tubuh (apabila pecah).

Sedangkan implan silikon terbuat dari lapisan silikon yang berisi gel silikon lengket. Jenis implan ini lebih banyak diminati karena terasa lebih alami dan resiko pecah yang lebih rendah. Tapi jika pecah, gel silikon biasanya akan menimbulkan benjolan di berbagai bagian payudara.

Implan gel silikon kohesif atau berkekuatan tinggi (implan gummy bear)

Variasi dari implan silikon, keunggulan implan ini adalah kemungkinan pecah yang lebih rendah, lebih tebal, dan terasa lebih alami. Walaupun terbagi dua, implan ini bentuknya tidak akan berubah, seperti permen gummy bear.

Lemak tubuh

Transfer lemak tubuh merupakan pilihan bagi pasien yang tidak nyaman dengan benda asing dalam tubuhnya dan menginginkan penambahan ukuran payudara yang tidak terlalu signifikan. Pada prosedur ini, dokter bedah mengambil lemak dengan sedot lemak, biasanya dari bokong dan paha. Lalu, lemak tersebut diproses dan disuntikkan ke payudara. Walaupun kurang diminati dibandingkan implan payudara, namun prosedur ini memiliki tingkat keberhasilan yang sangat baik. Prosedur ini diyakini lebih tidak beresiko karena menggunakan lemak dari tubuh pasien sendiri dan memberikan hasil yang terlihat lebih alami.

Augmentasi payudara merupakan prosedur invasif. Sebelum dilakukan, pasien perlu menjalani konsultasi pra-bedah dengan dokternya untuk membahas:

  • Resiko dan komplikasi pembedahan
  • Teknik sayatan dan jenis implan yang terbaik
  • Perawatan sebelum dan sesudah bedah
  • Perubahan akibat implan serta cara menjaga implan
  • Riwayat kesehatan, termasuk operasi kecantikan yang pernah dijalani
    Pasien juga dapat menjalani pemeriksaan fisik standar, tes darah, dan konseling psikologis untuk memastikan ia dapat menjalani augmentasi payudara.

Saat pembedahan, pasien akan diberi bius total atau bius lokal dengan obat penenang. Kemudian, dokter bedah membuat sayatan di bawah payudara tepat di atas lipatan (inframammary), di sekitar putting (periareolar), atau di bawah ketiak (transaxillary). Apabila augmentasi payudara merupakan bagian proses rekonstruksi payudara atau dilakukan setelah pengangkatan payudara, dokter bedah akan membuat sayatan di tempat sayatan sebelumnya supaya tidak ada bekas luka baru.

Lalu, dokter bedah membuat kantung di submuscular (bawah) atau subglandular (atas) dari otot dada, di mana implan akan dimasukkan. Apabila menggunakan implan saline yang belum terisi, sebuah katup akan dipasang pada implan untuk memasukkan cairan saline.

Dokter bedah juga mungkin perlu menggunakan endoskop (tabung lentur dengan kamera dan lampu) untuk dapat melihat bagian dalam payudara sehingga dapat meletakkan implan di posisi yang tepat.

Setelah implan diletakkan, sayatan akan ditutup dan dada pasien diperban. Pasien mungkin perlu mengenakan bra bedah atau kain penekan selama pemulihan supaya posisi implan tidak berubah.

Augmentasi payudara membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam. Kebanyakan pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa dalam tujuh hari setelah pembedahan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Augmentasi Payudara

Implan payudara tidak bersifat permanen dan harus diganti atau diambil dalam 10-15 tahun.

Walaupun teknik augmentasi payudara sudah sangat canggih, namun pasien tetap beresiko mengalami memar, nyeri, alergi obat bius, dan infeksi.

Resiko jangka panjang yang dapat dialami pasien adalah:

  • Implan pecah
  • Payudara mati rasa akibat kerusakan saraf
  • Nyeri payudara kronis
  • Bekas luka
  • Payudara berbentuk abnormal atau mengeras
  • Siliconomas (benjolan di sekitar payudara akibat implan silikon yang pecah)
  • Seroma (penumpukan cairan di sekitar implan)

    Rujukan:

  • Vasconez HC, Habash A (2010). Plastic and reconstructive surgery. In GM Doherty, ed., Current Diagnosis and Treatment: Surgery, 13th ed., pp. 1092-1131. New York: McGraw-Hill.

  • U.S. Food and Drug Administration (2006). FDA approves silicone gel-filled breast implants after in-depth evaluation: Agency requiring 10 years of patient follow-up. FDA News P06-189. Available online: http://www.fda.gov/NewsEvents/Newsroom/PressAnnouncements/2006/ucm108790.htm.

Bagikan informasi ini: