Apa itu Pemeriksaan Defibrilator?

Pemeriksaan defibrilator adalah serangkaian kunjungan lanjutan rutin ke dokter spesialis jantung untuk memeriksa defibrilator jantung yang ditanamkan dalam tubuh pasien. Kunjungan ini perlu dilakukan oleh semua pasien, yang memasang defibrilator jantung.

Defibrilator adalah perangkat eletronik kecil yang mengirimkan kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan detak jantung normal, saat jantung mengalami malfungsi sistem listrik jantung. Pemasangan defibrilator merupakan bagian dari pengobatan penyakit jantung dan melindungi pasien dari bahaya aritmia (detak jantung tidak beraturan), serta risiko gagal jantung mendadak. Defibrilitor biasanya ditanamkan di dada, namun kadang juga dipasang di perut. Terlepas dari letak pemasangannya, keduanya membutuhkan prosedur bedah besar. Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan Defibrilator dan Hasil yang Diharapkan

Pemeriksaan defibrilator adalah bagian penting dari perawatan jangka panjang yang diresepkan dokter untuk pasien yang memasang defibrilator jantung, karena menderita penyakit, seperti: * Penyakit jantung koroner * Riwayat serangan jantung * Kardiomiopati dilatasi, di mana otot jantung membesar secara abnormal * Hipertrofi kardiomiopati, di mana terjadi penebalan otot jantung * Sindrom Long QT, kondisi jantung turunan yang dikarakteristikan dengan detak jantung abnormal * Sindrom Brugada * Displasia ventrikel kanan aritmogenik


Umumnya, pasien yang menderita penyakit di atas, mengalami gejala seperti:

  • Tidak nyaman
  • Nyeri dada
  • Nyeri lengan
  • Nyeri di bawah tulang dada
  • Nyeri dan rasa tidak nyaman yang menyebar dari dada ke punggung, tenggorokan, rahang, dan lengan
  • Gangguan pencernaan
  • Mulas, atau sensasi yang serupa
  • Mual
  • Muntah
  • Pusing
  • Berkeringat
  • Sesak napas
  • Palpitasi
  • Denyut jantung cepat

    Cara Kerja Pemeriksaan Defibrilator

Pemeriksaan defibrilator dilakukan oleh dokter spesialis jantung yang familiar dengan riwayat kasus pasien. Pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan di ruang biasa, harus di klinik khusus alat pacu jantung atau ruang pemasangan kateter jantung di rumah sakit.

Frekuensi pemeriksaan yang disarankan bagi pasien bervariasi, tapi umumnya pasien diminta melakukan pemeriksaan pertama setelah 24 jam pemasangan, pemeriksaan kedua setelah enam bulan pemasangan, dan pemeriksaan ketiga setelah sembilan bulan pemasangan. Jika pemasangan defibrilator terbukti berhasil, maka pasien hanya perlu kembali tiap enam bulan sekali.

Selama kunjungan lanjutan, pasien diminta untuk melepaskan bajunya dan berbaring di kursi pemeriksaan. Dokter spesialis jantung akan mulai dengan memeriksa bekas luka pemasangan, lalu melihat alat defibrilator untuk memastikan berfungsi dengan baik. Selain itu, daya baterai juga akan dilihat. Elektroda dan magnet akan dipasang pada bagian dada, di mana defibrilator terpasang. Keduanya akan dihubungkan ke komputer untuk mendapatkan detak jantung yang direkam oleh defibrilator.

Prosedur ini tidak menyakitkan dan nyaman bagi kebanyakan pasien, serta hanya memakan waktu sekitar 40 menit.

Bagian terpenting dari pemeriksaan ini adalah menganalisa aktivitas jantung yang terekam oleh defibrilator, sejak kunjungan terakhir. Analisa menentukan apakah debfibrilator mampu mendeteksi detak jantung abnormal dan bagaimana responnya. Aktivitas yang terekam akan divisualisasikan dalam bentuk grafik, sehingga bisa dibandingkan nantinya.

Setelah defibrilator jantung selesai diperiksa, dokter spesialis jantung akan menilai kondisi kesehatan dan pasien secara umum. Dokter juga akan bertanya apakah pasien mengalami perubahan gejala atau gejala baru, sejak kunjungan terakhir. Selain itu, obat-obatan yang dikonsumsi pasien juga akan ditinjau kembali. Sehingga disarankan pasien membawa daftar obat-obatannya saat kunjungan pemeriksaan defibrilator jantung.

Pada akhir kunjungan, dokter akan memberikan rekomendasi dan saran untuk memastikan pasien tetap sehat dan aman hingga kunjungan berikutnya. Jika diperlikan, dokter akan mengatur ulang defibrilator sebelum memperbolehkan pasien pulang.

Selain pemeriksaan defibrilator rutin, pasien juga perlu kembali ke dokter setelah 6 – 8 tahun untuk mengganti baterai.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pemeriksaan Defibrilator

Pemeriksaan defibrilator adalah kunjungan rutin dan tidak berisiko. Malah, ini melindungi pasien dari risiko dan komplikasi yang mungkin muncul karena pemasangan defibrilator, di antaranya:

  • Infeksi
  • Reaksi alergi atau sensitif terhadap material alat
  • Pembengkakan
  • Perdarahan
  • Memar
  • Kerusakan pembuluh darah
  • Perdarahan jantung
  • Kebocoran darah dari katup jantung


Pemeriksaan rutin juga mengingatkan pasien terhadap batasan karena pemasangan defibrilator, pasien tidak bisa berdekatan dengan material yang mengandung magnet dan elektromagnetik.

Yang terpenting, pemeriksaan memastikan defibrilator bekerja dengan benar dan tidak kehabisan daya secara tiba-tiba. Sehingga, jika aritmia terjadi, defibrilator dapat merespon dengan benar.

Rujukan:

  • Swerdlow CD, Hayes DL, Zipes DP. Pacemakers and cardioverter-defibrillators. In: Mann DL, Zipes DP, Libby P, et al, eds. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2014:chap 36.
Bagikan informasi ini: