Apa itu Skrining Kanker Ovarium?

Skrining kanker ovarium adalah serangkaian tes yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan kanker ovarium pada tahap awal, bahkan sebelum gejala-gejalanya muncul. Tes-tes ini dilakukan berdasarkan fakta bahwa tingkat kesuksesan pengobatan secara signifikan dipengaruhi seberapa cepat atau lambat kanker berhasil diketahui. Makin cepat diketahui, makin besar kemungkinan sembuhnya.

Tes skrining kanker sangat terbatas dan hanya dapat mendiagnosa beberapa jenis kanker, salah satunya kanker ovarium. Namun, seseorang yang akan menjalani tindakan ini harus menyadari tingkat ketepatan tes. Hingga saat ini, tidak ada tes skrining untuk kanker ovarium yang menawarkan ketepatan 100%. Namun, tes-tes ini secara terus menerus diuji dan dianalisa untuk peningkatan lebih lanjut.

Siapa yang Perlu Menjalani Skrining Kanker Ovarium & Hasil yang Diharapkan

Di antara jenis kanker yang menjangkiti perempuan, kanker ovarium menempati urutan kelima. Ini juga merupakan kanker paling mematikan di antara semua kanker ginekologi. Statistik menunjukkan 1 dari 70 perempuan beresiko menderita kanker ovarium.

Beberapa wanita memiliki resiko lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi ini, sementara yang lainnya hanya memiliki resiko rata-rata. Perempuan dengan resiko rata-rata adalah mereka yang:

  • Memiliki riwayat ketidaksuburan
  • Telah menjalani terapi reproduksi berbantu seperti Bayi Tabung atau In Vitro Fertilization (IVF)
  • Memiliki riwayat endometriosis
  • Telah menjalani terapi penggantian hormon
  • Memiliki riwayat kanker payudara

Sementara, perempuan yang memiliki resiko tinggi adalah mereka yang:

  • Memiliki riwayat keluarga tingkat pertama dengan kanker ovarium
  • Terdiagnosa dengan kanker payudara pada usia 40 atau lebih muda
  • Memiliki dua atau lebih saudara dengan riwayat kanker payudara yang didiagnosa sebelum berumur 50 tahun
  • Memiliki dua atau lebih saudara dengan riwayat kanker ovarium

Karena tes skrining kanker ovarium yang diharapkan dapat menentukan apakah seseorang mengidap kanker ovarium, tidak selalu menunjukkan hasil akurat. Malah, seringkali menunjukkan hasil salah positif dan salah negatif. Sehingga, jenis tes skrining lain biasanya diukur berdasarkan sensitivitas dan kekhususannya. Skrining sebelumnya merujuk pada kemungkinan tes menunjukkan hasil positif bagi pasien yang mengidap kanker ovarium. Ini berarti tes sensitivitas yang sebenarnya dapat memberikan diagnosis positif pada perempuan yang memiliki kanker dan menjalani skrining. Di sisi lain, kekhususan merujuk pada kemungkinan hasil negatif pada pasien yang tidak mengidap kanker ovarium. Ini berarti, jika tes mendiagnosa 10 perempuan mengidap kanker ovarium, namun hanya dua di antaranya yang benar-benar mengidap penyakit tersebut, tes ini tidak dianggap spesifik atau khusus. Tes skrining untuk kanker ovarium belum memiliki sensitivitas tinggi dan tingkat kekhususan, namun masih dikembangkan.

Cara Kerja Skrining Kanker Ovarium

Cara kerja tes skrining kanker ovarium yang dilakukan tergantung pada jenis tesnya. Tes-tes ini termasuk tes darah CA 125 dan USG transvaginal.

Tes darah CA 125 adalah prosedur yang memeriksa darah untuk mencari keberadaan CA 125, yang diketahui sebagai pembuat tumor atau zat kimia berbasis protein yang berasal dari sel kanker. CA 125 mengalir lewat aliran darah dan kadarnya yang tinggi dalam darah mengindikasikan keberadaan kanker ovarium. Namun, hanya 50% perempuan yang menghasilkan jumlah CA 125 yang dapat diukur, terutama saat skrining dilakukan pada tahap awal penyakit, sehingga resiko salah diagnosa dapat terjadi. Ada juga kasus, di mana tingkat CA 125 pada seorang perempuan meningkat yang disebabkn oleh kondisi kesehatan lain yang benar-benar berbeda.

Tes CA 125 dilakukan dengan mengambil sampel darah yang akan digunakan untuk serangkain tes. Jika CA 125 terdeteksi, maka akan diukur per mililiter untuk membandingkan kuantitasnya dengan kadar normal, yang harusnya kurang dari 35 unit per mililiter; jumlah yang lebih tinggi dari ini mengindikasikan kemungkinan kanker ovarium.

Di sisi lain, USG transvaginal adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memasukkan probe USG ke vagina untuk menilai kondisi dari ovarium. Tindakan ini dapat menghasilkan gambar ovarium dengan kualitas baik daripada meletakkan pemindai [ultrasound]( di atas perut pasien, seperti yang biasanya dilakukan. Cara kerjanya dengan memeriksa ukuran ovarium untuk mendeteksi perubahan atau abnormalitas, juga memeriksa tekstur dari ovarium dan mendeteksi benjolan. Jika ada benjolan, dokter biasanya akan melakukan prosedur lanjutan untuk menentukan apakah benjolan tersebut jinak atau ganas; selain itu, operasi perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu tergantung tingkat pertumbuhan tumor. Dalam banyak kasus, operasi dilakukan dengan segera.

Namun, tingkat akurasi USG transvaginal tergantung pada keahlian dokter yang melakukan tes. Saat ini tidak ada bukti yang kuat bahwa pemindaian ini dapat mendeteksi kanker ovarium terutama pada tahap awal.

Sehingga, untuk sepenuhnya mengukur resiko adanya kanker ovarium dan mengingkatkan akurasi dari kedua jenis tes, observasi dilakukan lewat USG dan metode skrining lain seperti tes darah CA 125, diperhitungkan secara bersamaan. Hasil nilai index akhir biasanya membantu dokter menentukan pengambilan langkah selanjutnya.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Skrining Kanker Ovarium

Resiko utama dari menjalani skrining kanker ovarium adalah fakta bahwa jenis tes pemeriksaan untuk kanker ovarium yang ada saat ini, tidak dapat dipercaya 100%, ini berarti tidak ada jaminan bahwa hasil diagnosisnya selalu tepat. Jika tes mendiagnosa kanker ovarium yang tidak ada, pasien akan menjalani pengobatan yang tidak diperlukan dan terpapar beberapa resiko dan komplikasi. Di sisi lain, ada resiko tidak ditemukannya kanker yang sebenarnya ada, sehingga menghalangi pasien untuk mencari bantuan medis yang diperlukan.

Rujukan:

  • Coleman RL, Ramirez PT, Gershenson DM. Neoplastic diseases of the ovary: screening, benign and malignant epithelial and germ cell neoplasms, sex-cord stromal tumors. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2012:chap 33.

  • Morgan M, Boyd J, Drapking R, Seiden MV. Cancers arising in the ovary. In: Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, Kastan MB, Tepper JE, eds. Abeloff's Clinical Oncology. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2013:chap 89.

  • National Cancer Institute. BRCA1 and BRCA2: cancer risk and genetic testing. Updated 1/22/2014. Available at: www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/Risk/BRCA. Accessed November 26, 2014.

Bagikan informasi ini: