Apa itu Evaluasi Osteoporosis?

Evaluasi osteoporosis adalah penilaian risiko osteoporosis dan patah tulang yang dihadapi seseorang. Tindakan ini sangat bermanfaat, terutama bagi lansia dan wanita yang sudah menopause. Namun, evaluasi ini juga disarankan bagi semua orang, terutama mereka yang memiliki faktor risiko tertentu. Evaluasi osteoporosis dilakukan oleh dokter umum atau dokter spesialis ortopedi. Tindakan ini meliputi pemeriksaan fisik menyeluruh. Tujuannya adalah mendeteksi osteoporosis sejak dini serta membantu mencegah risiko dan komplikasi, yang dikhawatirkan dapat mengurangi kualitas hidup pasien.

Osteoporosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kualitas jaringan tulang. Penyakit ini ditandai dengan tulang yang rapuh dan berkurangnya massa tulang, sehingga tulang menjadi lebih lemah dan meningkatkan risiko pasien mengalami patah tulang. Osteoporosis biasanya terjadi karena pertumbuhan massa tulang yang buruk saat remaja dan massa tulang yang sangat cepat berkurang dalam proses penuaan. Sebuah penelitian berhasil menemukan hubungan antara kurangnya hormon estrogen dan osteoporosis, yang berarti wanita lebih rentan terkena penyakit ini.

Siapa yang Perlu Menjalani Evaluasi Osteoporosis dan Hasil yang Diharapkan

Evaluasi osteoporosis akan bermanfaat bagi individu yang memiliki faktor risiko berikut:

Wanita

  • Sudah menopause
  • Berat badan yang ringan
  • Badan kecil
  • Lanjut usia (di atas 65 tahun)
  • Gaya hidup sedentary atau jarang berolahraga dan beraktivitas berat
  • Nutrisi buruk
  • Gangguan makan
  • Kadar kalsium yang rendah
  • Mengonsumsi kafein secara berlebih
  • Mengonsumsi alcohol secara berlebih, sehingga merusak fungsi osteoblas tulang
  • Sering merokok, menyebabkan berkurangnya massa tulang
  • Penggunaan obat dalam jangka panjang
  • Penyakit ginjal
    Pria

  • Kepadatan mineral rendah pada tulang leher femur

  • Quadricep yang lemah
  • Tubuh yang tidak seimbang
  • Berat badan yang ringan


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, evaluasi osteoporosis dapat memprediksi risiko pasien terkena patah tulang. Selama pemeriksaan fisik, skor BMD Z akan dihitung dan kelainan seperti punuk dowager di lengkungan tulang belakang akan diperiksa. Apabila hasil evaluasi awal menunjukkan adanya kelainan, pasien kemungkinan perlu menjalani tes tambahan untuk memastikan hasil diagnosa.

Sebaiknya, osteoporosis dapat terdeteksi sejak dini dan tingkat keparahannya sudah dievaluasi secara menyeluruh. Sebab, beberapa terapi dapat memperlambat laju penyakit. Bahkan, ada terapi yang dapat menyembuhkan osteoporosis sebelum terjadi kerusakan secara permanen. Misalnya, patah tulang yang membuat pasien lumpuh.

Cara Kerja Evaluasi Osteoporosis

Karena biasanya efek osteoporosis sulit terlihat, kecuali pasien sudah mengalami patah tulang. Maka, evaluasi osteoporosis terdiri dari serangkaian tes, antara lain:

  • Analisa riwayat kesehatan untuk menilai risiko patah tulang pasien – Dokter akan menilai penyakit yang pernah dan sedang diderita pasien serta obat yang dikonsumsi pasien.
  • Pemeriksaan fisik – Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan bagian tubuh yang sering patah tulang, misalnya bagian panggul, lengan bawah, tulang punggung, leher femur, dan proximal humerus.
  • Rontgen – Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi patah tulang yang ada, baik yang menyebabkan gejala atau tidak. Rontgen juga dapat mendeteksi berkurangnya tinggi badan akibat tulang belakang yang kelengkungannya bertambah secara abnormal.
  • Tes kimia darah – Tes ini mengevaluasi kadar kalsium dan fosfor pasien, serta menilai kondisi hati dan ginjal.
  • Tes urin 24 jam – Tes ini dapat mendeteksi penyerapan kalsium yang tidak normal atau kebocoran kalsium karena gangguan ginjal.
  • Tes penghitungan darah – Tes ini mendeteksi penyakit lain, seperti anemia, yang dapat menjadi penyebab dari kurangnya nutrisi tubuh.
  • Kadar protein – Tes ini dapat mengeliminasi kemungkinan multiple myeloma.
  • Fungsi tiroid – Tes ini memeriksa kadar estrogen wanita untuk mendeteksi peningkatan risiko osteoporosis.
  • Pengukuran kepadatan tulang
  • Biopsi tulang, apabila dibutuhkan
  • Pemindaian tulang dengan teknologi nuklir


Semua tes tersebut dapat dilakukan di klinik swasta, laboratorium rumah sakit, atau ruang pemeriksaan. Jenis tindakan dan tes yang harus dilakukan akan dipilih berdasarkan riwayat kesehatan pasien.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Evaluasi Osteoporosisi

Evaluasi osteoporosis sendiri dijamin aman bagi pasien; semua tindakannya aman dan tidak akan menyebabkan komplikasi, bahkan bagi pasien lansia. Bahkan, evaluasi osteoporosis yang dilakukan sejak dini dapat membantu mengidentifikasi dan mengukur faktor risiko patah tulang. Setelah itu, evaluasi ini dapat membantu menangani risiko dan menyiapkan tindakan pencegahan atau pengobatan bagi pasien.

Rujukan:

  • The National Osteoporosis Foundation (NOF) Clinician's Guide to prevention and treatment of osteoporosis. National Osteoporosis Foundation, Washington, DC. 2013.
Bagikan informasi ini: