Apa itu Pemeriksaan Kesehatan Bersertifikat untuk Pilot?

Semua orang yang ingin menjadi pilot perlu menjalani pemeriksaan kesehatan bersertifikat untuk membuktikan bahwa kondisi fisik dan mental mereka cukup baik untuk bekerja dan menerbangkan pesawat.

Karena pekerjaannya yang berbahaya, pilot harus memenuhi standar kesehatan yang tinggi dan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk memastikan keselamatan mereka dan penumpangnya. Semua pilot harus memiliki fisik yang sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan, supaya ia dapat menerbangkan pesawat dengan aman dan hati-hati.

Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan Kesehatan Bersertifikat untuk Pilot dan Hasil yang Diharapkan

Pemeriksaan kesehatan bersertifikat untuk pilot perlu dijalani oleh:

  • Pilot maskapai penerbangan
  • Pilot komersial
  • Pilot pribadi
  • Pilot rekreasi
  • Instruktur penerbangan
  • Teknisi penerbangan
  • Navigator penerbangan
  • Calon pilot


Pilot yang lulus pemeriksaan akan mendapatkan sertifikat kesehatan berikut:

  • Kelas 1 atau Kelas Pertama – Sertifikat ini wajib dimiliki oleh semua pilot airline transport. Masa berlakunya adalah 12 bulan, jika pilot berusia 40 tahun ke bawah, dan 6 bulan jika pilot usianya lebih dari 40 tahun.
  • Kelas 2 atau Kelas Kedua – Sertifikat ini wajib dimiliki oleh pilot komersial dan berlaku selama 12 bulan.
  • Kelas 3 atau Kelas Ketiga – Sertifikat ini wajib dimiliki oleh pilot pribadi dan rekreasi. Sifatnya mirip dengan surat keterangan sehat yang dibutuhkan oleh pengemudi mobil. Berlaku hingga 5 tahun bagi pilot yang belum berusia 40 tahun dan 2 tahun bagi yang berusia 40 tahun ke atas.


Selain sertifikat kesehatan, pilot juga mungkin perlu menjalani tes tambahan atau memberikan dokumen pelengkap apabila ada masalah yang ditemukan saat pemeriksaan.

Cara Kerja Pemeriksaan Kesehatan Bersertifikat untuk Pilot

Pemeriksaan fisik penerbangan akan dilakukan pada semua pilot sebelum mereka mendapatkan izin terbang atau memperbarui izin terbangnya. Pemeriksaan ini dilakukan secara berkala, misalnya setiap 6-12 bulan bagi pilot kelas pertama, setiap 12 bulan bagi pilot kelas kedua, dan setiap 2-5 tahun bagi pilot kelas ketiga.

Pemeriksaan ini jauh lebih lengkap dibandingkan pemeriksaan fisik rutin. Prosedur pemeriksaan antara lain adalah:

  • Pengukuran tinggi dan berat badan
  • Tes detak jantung
  • Tes urin
  • EKG atau elektrokardiogram – EKG biasanya dilakukan pada pemeriksaan fisik pertama dari pilot yang berusia 35 tahun. Pilot yang telah berusia 40 tahun dan menginginkan sertifikat Kelas Pertama perlu menjalani EKG setiap tahun.
  • Pemeriksaan kepala, wajah, leher, dan kulit kepala
  • Pemeriksaan mata (bagian dalam mata, pupil, dan motilitas okular)
  • Tes penglihatan
  • Tes jangkauan penglihatan – Pilot harus memiliki ketajaman visual 6/9 bila kedua mata digunakan terpisah dan 6/6 bila kedua mata digunakan bersamaan. Hasil ini bisa didapatkan tanpa alat bantu penglihatan atau dengan alat bantu seperti lensa kontak. Apabila ada kelainan refraktif atau astigmatisma, maka ada batasan tertentu. Biasanya bila astigmatisma tidak melebihi 2,000 dioptri maka pilot masih bisa mendapatkan sertifikat kesehatan.
  • Tes buta warna – Tes ini dilakukan dengan menggunakan Tes Ishihara
  • Pemeriksaan hidung
  • Pemeriksaan sinus
  • Pemeriksaan mulut dan tenggorokan
  • Pemeriksaan gendang telinga
  • Pemeriksaan telinga atau pendengaran – Pilot harus menjalani tes pendengaran dasar dan memenuhi standar yang berlaku. Namun, ada toleransi khusus bagi pilot yang pendengarannya tidak terlalu baik, karena pilot rentan mengalami gangguan pendengaran akibat suara keras. Gangguan pendengaran tidak boleh lebih dari 35 dB pada frekuensi 500-2000 Hz dan 50 dB pada frekuensi 3000 Hz.
  • Pemeriksaan paru-paru dan dada
  • Uji fungsi paru atau spirometri
  • Rontgen dada
  • Tes darah
  • Tes hemoglobin darah
  • Tes kolesterol darah
  • Tekanan darah – Pilot sebaiknya memiliki tekanan darah normal, yaitu di bawah 140/90
  • Pemeriksaan sistem pembuluh darah
  • Pemeriksaan perut
  • Pemeriksaan sistem kemih
  • Pemeriksaan kulit
  • Pemeriksaan muskuloskeletal (lengan, kaki, dan tulang belakang)
  • Pemeriksaan sistem limfatik
  • Pemeriksaan psikis
  • Pemeriksaan saraf


Apabila dibutuhkan, dokter dapat meminta informasi tambahan yang bisa didapatkan dari pemeriksaan klinis, seperti uji laboratorium dan biopsi.

Bila pilot harus memenuhi standar kesehatan tertentu untuk mendapatkan sertifikat kesehatan, maka dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai dengan kondisinya. Misalnya, jika pilot mengalami gangguan penglihatan, dokter dapat menyarankan bedah mata atau lensa kontak monofokal dan bening.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pemeriksaan Kesehatan Bersertifikat untuk Pilot

Permintaan sertifikat kesehatan dapat ditolak karena:

  • Prosedur bedah yang baru saja dijalani
  • Obat yang sedang dikonsumsi
  • Konsumsi alkohol atau zat terlarang
  • Konsumsi suplemen makanan herbal
  • Penyakit yang diderita


Apabila pilot gagal mendapatkan sertifikat kesehatan pada pemeriksaan pertama, ia dapat mengajukan keberatan dengan memberikan dokumen pendukung. Misalnya, pilot yang menderita suatu penyakit harus memberikan bukti bahwa penyakitnya sedang diobati, telah dapat dikendalikan, dan tidak akan memengaruhi kemampuan penerbangannya. Namun, ada beberapa faktor yang membutuhkan banyak bukti dan sulit untuk mendapatkan keringanan. Contohnya adalah konsumsi alkohol dan zat terlarang.

Selain itu, pilot juga sebaiknya beristirahat serta menghindari makanan dan minuman yang banyak mengandung gula dan kafein sebelum pemeriksaan, karena hal tersebut dapat memengaruhi hasil tes.

Rujukan:

  • Federal Aviation Administration
Bagikan informasi ini: