Apa itu Laparoskopi Diagnostik?

Laparoskopi diagnostik adalah prosedur kesehatan minim invasif untuk memeriksa organ dalam, terutama perut dan panggul. Tidak seperti teknik bedah biasa, laparoskopi hanya membutuhkan sayatan kecil. Maka dari itu, resiko pendarahan dan bekas luka dapat diminimalisir, begitu juga dengan waktu pemulihan.

Siapa yang Perlu Menjalani Laparoskopi Diagnostik dan Hasil yang Diharapkan

Ketika pasien mengalami gejala di area perut, misalnya nyeri, pembengkakan, sembelit, atau diare, mereka akan disarankan menjalani rontgen atau USG untuk mengetahui penyebab masalah. Namun, bila hasil yang didapat belum jelas, dokter seringkali menganjurkan laparoskopi diagnostik.

Gejala yang disebutkan di atas dapat menjadi tanda akan adanya gangguan pada organ perut dan panggul. Di antaranya adalah:

  • Cedera karena kecelakaan
  • Lesi
  • Tumor jinak
  • Tumor ganas
  • Pendarahan
  • Penyumbatan usus
  • Peradangan organ
  • Kemandulan
  • Hernia


Laparoskopi diagnostik berperan penting untuk mendiagnosis berbagai jenis penyakit dan gangguan kesehatan, termasuk:

  • Radang usus buntu (Apendisitis)
  • Endometriosis
  • Radang kantong empedu (Kolesistitis)
  • Kista ovarium
  • Kanker dan penyebaran kanker
  • Fibroid rahim
  • Penyakit peradangan panggul
  • Penyakit hati

Cara Kerja Laparoskopi Diagnostik

Laparoskopi diagnostik dapat dilakukan di rumah sakit atau pusat bedah yang memiliki peralatan memadai. Prosedur ini membutuhkan bius total, yang berarti pasien akan tertidur dan tidak merasakan sakit selama prosedur.

Pertama, dokter bedah akan membuat sayatan kecil, biasanya di bawah pusar. Lalu, tabung khusus dimasukkan melalui sayatan tersebut untuk mengalirkan gas karbon dioksida. Tujuannya adalah untuk memompa organ. Pada beberapa kasus, dokter bedah juga menyuntikkan zat pewarna melalui tabung; biasanya pada laparoskopi leher rahim untuk memeriksa tuba fallopi.

Kemudian, video kamera kecil dimasukkan melalui tabung. Kamera ini digerakkan di dalam tubuh untuk mengambil gambar dari organ dalam. Hasilnya akan digunakan oleh dokter untuk mencari penyakit atau kelainan pada tubuh.

Tergantung pada kondisi setiap pasien, dokter dapat menggunakan alat bedah lain dan membuat sayatan tambahan. Jika ditemukan masalah tertentu, seperti pertumbuhan abnormal, maka dokter akan mengambil sampel jaringan dari lapisan perut. Sampel ini akan dianalisis dengan biopsi.

Untuk mengakhiri pemeriksaan, dokter bedah akan mengeluarkan laparoskop dan alat lainnya. Lalu, sayatan akan dijahit. Area pemeriksaan akan diberi perban untuk perlindungan dan kenyamanan pasien selama pemulihan. Suatu hal yang wajar jika bekas sayatan terasa nyeri selama beberapa hari. Namun, karena sayatan yang dibuat sangat kecil, nyeri tidak akan terlalu menyakitkan. Biarpun begitu, dokter dapat memberikan obat pereda nyeri bagi pasien yang membutuhkan.

Laparoskopi diagnostik biasanya dilakukan secara rawat jalan, yang berarti pasien tidak perlu menginap di rumah sakit. Namun, biasanya pasien dianjurkan untuk diantarkan pulang agar keamanannya terjaga.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Laparoskopi Diagnostik

Laparoskopi diagnostik memiliki sejumlah resiko dan kemungkinan komplikasi, yaitu:

  • Infeksi
  • Organ tertusuk dan bocor
  • Pendarahan pada rongga perut
  • Efek samping dari obat bius yang digunakan
  • Peradangan pada dinding perut
  • Penggumpalan darah


Apabila terjadi komplikasi serius saat laparoskopi, dokter bedah mungkin perlu melakukan laparotomi darurat atau bedah terbuka.

Komplikasi yang dapat terjadi setelah laparoskopi diagnostik dapat menyebabkan gejala berikut:

  • Nyeri perut yang terus memburuk
  • Demam
  • Menggigil
  • Kulit kemerahan
  • Pembengkakan
  • Pendarahan
  • Keluarnya nanah dari bekas sayatan
  • Muntah terus-menerus
  • Mual yang tak kunjung hilang
  • Batuk yang tak kunjung berhenti
  • Sesak napas
  • Retensi urin
  • Pening


Apabila mengalami gejala-gejala tersebut, pasien harus segera menemui dokter.



Rujukan:

  • El-labban GM., Hokkam EN. “The efficacy of laparoscopy in the diagnosis and management of chronic abdominal pain.” J Minim Access Surg. 2010 Oct-Dec; 6(4): 95-99. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2992668/

  • Nayak P., Mahapatra PC., Mallick JJ., et al. “Role of diagnostic hystero-laparoscopy in the evaluation of infertility: A retrospective study of 300 patients.” J Hum Reprod. Sci. 2013 Jan-Mar; 6(1): 32-34. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3713574/

Bagikan informasi ini: