Apa itu Evalusasi Pra-Olahraga?

Evaluasi fisik pra partisipasi olahraga (PPE) dilakukan untuk menilai kesehatan fisik dan mental atlet sebelum menjalani latihan atau kompetisi olahraga. Tujuan utama dari evaluasi ini adalah memastikan bahwa setiap atlet berada dalam keadaan bugar, untuk meminimalisir resiko cedera dan masalah serius lainnya.

Karena ini pemeriksaan kesehatan, maka dilakukan oleh dokter, dengan latar belakang kedokteran olahraga. Berdasarkan hasil PPE, dokter akan membuat beberapa macam rekomendasi (tidak diperkenankan berpartisipasi, partisipasi penuh, atau partisipasi terbatas). Dokter juga dapat menyarankan pengobatan dan pengendalian penyakit yang terdiagnosa, sebelum atlet diperkenankan berpartisipasi dalam olahraga apapun.

PPE merupakan usaha gabungan dari beberapa organisasi, seperti American Academy of Family Physicians, American College of Sports Medicine, dan American Orthopedic Society for Sports Medicine. Rincian lainnya yang termasuk dalam PPE adalah tujuan, manfaat, dan bagaimana melakukan pemeriksaan klinis ditulis dalam Monografi PPE, yang dikembangkan oleh organisasi-organisasi di atas.

PPE merupakan saran yang diberikan oleh Mantan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt pada abad 20-an, setelah beberapa mahasiswa atlet meninggal mendadak saat bermain football. Salah satu penyebab kematian mendadakan adalah serangan jantung. Karena alasan ini, Asosiasi Jantung Amerika menerbitkan beberapa rekomendasi pada topik ini.

Siapa yang Perlu Menjalani Evaluasi Pra-Olahraga dan Hasil yang Diharapkan

PPE direkomendasikan dan diperlukan bagi tiap atlet yang berpartisipasi, tidak hanya atlet profesional tapi juga remaja dan pelajar. Ini juga direkomendasikan oleh negara bagian California. Pada awalnya tes ini dirancang untuk mengevalusi resiko kematian akibat serangan jantung.

Menurut Southwest Athletic Trainers’ Association (SWATA), lebih dari 100 atlet meninggal karena kondisi terkait olahraga di tahun 2008 – 2009. Jumlahnya berkurang lebih dari setengan di tahun 2011. Mereka juga menemukan bahwa remaja usia 15 – 17 tahun lebih sering dirujuk ke unit gawat darurat karena kondisi akibat olahraga.

Penyebab kematian lainnya yang ingin dihindari dengan melakukan PPE adalah second impact syndrome, yang dikarakterisasikan dengan cedera otak yang terjadi karena pemain kembali berolahraga terlalu dini, setelah mengalami cedera pertama.

Selain mencegah serangan jantung dan second impact syndrome, PPE memiliki manfaat lainnya seperti:

  • Dokter dapat menemukan masalah yang sebelumnya tidak teridentifikasi, yang dapat memengaruhi performa saat berolahraga dan gaya hidup atlet secara keseluruhan. Misalnya, pasien didiagnosa bahwa kadar kolesterol atau tekanan darahnya meningkat, yang dapat menaikkan resiko penyakit jantung. Dokter juga dapat mendeteksi kondisi yang menyebabkan serangan jantung, seperti stenosis (penyempitan arteri jantung) atau kardiomiopati (perubahan abnormal pada otot jantung, misalnya menjadi kaku atau menebal).

  • Dokter dapat membuat rekomendasi yang lebih akurat dan terpercaya untuk atlet bagi kesehatannya secara keseluruhan dan keamanannya. Perlu ditekankan bahwa membuat atlet terdiskualifikasi bukannya tujuan utama dari PPE, meskipun atlet bisa mendapatkan larangan bertanding karena rekomendasi dari PPE. Selain itu, dokter juga dapat mengizinkan atlet untuk kembali melakukan latihan atau pertandingan, pasca cedera atau masalah kesehatan lainnya.

  • Tingkat kematian karena olahraga dapat dikurangi

PPE juga membantu mempromosikan aktivitas atletik pada remaja. Atletik merupakan salah satu bentuk olahraga terbaik. Selain itu, menurut Stanford University, atlet remaja memiliki performa lebih baik di sekolah dan lebih sedikit kemungkinan mengalami drop-out.

Cara Kerja Evaluasi Pra-Olahraga

PPE biasanya dilakukan paling tidak enam minggu sebelum latihan dimulai. Ini penting untuk memberikan atlet, yang menghadapi resiko cedera dan kondisi kesehatan lain, untuk mengatur kesehatan dan mengikuti aturan yang buat oleh dokter.

Informasi yang didapatkan dan diperiksa selama PPE, adalah:

  • Riwayat alergi, penyalahgunaan obat atau kondisi kesehatan lainnya
  • Kondisi kesehatan saat ini
  • Obat atau suplemen yang dikonsumsi
  • Riwayat cedera akibat olahraga seperti gegar otak
  • Performa para pemain dengan organ vital tunggal (misalnya ginjal)
  • Ketajaman penglihatan
  • Profil fisik seperti tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh, yang merupakan indikator obesitas
  • Tekanan darah
  • Pemeriksaan organ vital seperti otak, paru-paru, hati, dan perut
  • Pemeriksaan ortopedi dan muskuloskeletal


Informasi awal biasanya diberikan oleh atlet sendiri dan/atau orang tuanya dalam formulir riwayat kesehatan PPE, di mana koresponden harus mencetang kotak “iya atau tidak” untuk menjawab pertanyaan. Pada PPE yang lebih lengkap, peralatan seperti elektrokardiografi, tes tekanan dengan treadmill, dan pemindaian seperti MRI dan CT akan digunakan. Atlet juga perlu melewati di antaranya tes darah, tes tekanan, dan tes mata.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Evaluasi Pra-Olahraga

Meskipun PPE memiliki banyak manfaat, ada beberapa keterbatasan. Salah satunya tidak ada standar panduan pemeriksaan. Ini berarti aturan dalam melakukan pemeriksaan bervariasi antara institusi, fasilitas kesehatan, dan negara. Jika atlet dianggap tidak bugar untuk menjalani pertandingan di satu negara, ada kemungkinan diperbolehkan oleh negara lain karena tidak adanya standar pemeriksaan dan penilaian.

Apalagi, dalam beberapa kasus, dokter tanpa latar belakang kedokteran olahraga diizinkan melakukan PPE. Sehingga, ia tidak memeliki pengetahuan luas tentang PPE dan kedokteran olahraga.

Rujukan: * Ball JW, Dains JE, Flynn JA, Solomon BS, Stewart RW. Sports participation evaluation. In: Ball JW, Dains JE, Flynn JA, Solomon BS, Stewart RW. Seidel's Guide to Physical Examination. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2015:chap 23.

Bagikan informasi ini: