Apa itu Pemeriksaan Pra-Perjalanan?

Pemeriksaan pra-perjalanan adalah pemeriksaan medis yang dilakukan saat seseorang akan bepergian. Umumnya dilakukan sebagai tindakan pencegahan, tetapi pada beberapa kondisi, hal ini menjadi syarat wajib. Orang-orang yang wajib mengikuti pemeriksaan fisik sebelum melakukan perjalanan, antara lain wanita hamil, pasien yang menderita penyakit kronis, atau individu yang melakukan perjalanan ke negara yang memiliki risiko gangguan kesehatan. Pemeriksaan ini diharapkan mampu melindungi individu dari penyakit menular di negara tujuan.

Saat pemeriksaan, dokter akan menilai kesehatan dan menentukan kelayakan fisik pasien, memberikan saran terkait risiko gangguan kesehatan di negara tujuan, dan bila perlu menganjurkan vaksinasi.

Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan Pra-Perjalanan dan Hasil yang Diharapkan

Sebagai tindakan pencegahan, siapapun dapat melakukan pemeriksaan medis sebelum bepergian, namun prosedur ini wajib hukumnya bagi:

  • Wanita hamil
  • Pasien anak, khususnya bayi dan balita
  • Pasien yang menderita penyakit kronis, seperti:
  • Penyakit jantung
  • Struk
  • Diabetes
  • Kanker
  • Asma
  • Penyakit autoimun

  • Pasien yang memiliki alergi

  • Pasien yang baru saja menjalani operasi
  • Pasien yang sering mengalami gejala akibat perjalanan, seperti:
  • Jet lag/desinkronosis
  • Mabuk kendaraan
  • Turista/ diare wisatawan
  • Individu yang pergi ke negara yang rentan akan risiko gangguan kesehatan tertentu


Beberapa negara mewajibkan pemeriksaan fisik sebelum perjalanan, tidak peduli walaupun individu dalam kondisi kesehatan prima. Negara-negara tersebut ditandai dalam peta risiko gangguan kesehatan internasional yang umum diketahui para dokter dan dibagi ke dalam 3 tingkat risiko.

  • Negara dengan risiko tinggi, di mana terdapat banyak laporan mengenai penyakit berat yang menular, risiko penularan tinggi melalui makanan dan air, dan biasanya sulit bahkan tidak ada fasilitas perawatan kesehatan.
  • Negara dengan risiko menengah adalah negara dengan risiko penyakit menular dan fasilitas atau kemampuan penanganan medis terbatas.
  • Negara dengan risiko kecil adalah negara yang memenuhi standar internasional perawatan dan sedikit risiko akan penyakit menular.


Pada akhir pemeriksaan, pasien akan:

  • Melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh
  • Diyakinkan bahwa ia dalam kondisi prima untuk bepergian dan mampu melakukan aktivitas yang terdapat pada rencana perjalanannya.
  • Sadar akan risiko yang akan mereka jumpai dan tahu bagaimana menjaga diri, seperti rajin mencuci tangan dan makan di tempat yang bersih.
  • Diberikan obat-obatan yang berguna untuk mengatasi gejala-gejala yang akan dialami selama perjalanan, seperti antihistamin untuk individu yang mempunyai alergi dan obat penawar vertigo untuk orang sering mengalami mabuk.
  • Harus diberikan vaksinasi atau imunisasi yang diperlukan, jika ada.

Cara Kerja Pemeriksaan Medis Pra-Perjalanan

Pemeriksaan sebelum bepergian biasanya diajukan oleh pasien dan ia harus menyampaikan rencana perjalanan pada penyedia layanan kesehatan yang didatangi. Pemeriksaan ini dilakukan di klinik pribadi dokter, di mana dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dasar yang berlangsung sekitar satu jam.

Pemeriksaan dimulai dengan membahas rencana perjalanan pasien. Menyediakan informasi lengkap mengenai perjalanan akan memudahkan dokter dalam melakukan prosedur yang akurat dengan anjuran medis yang tepat.

Adapun informasi yang harus diberitahukan pada dokter adalah:

  • Negara tujuan
  • Alasan melakukan perjalanan
  • Jadwal dan masa perjalanan
  • Rencana perjalanan, temasuk aktivitas yang akan diikuti, khususnya jika aktivitas tersebut berat dan membahayakan
  • Persiapan perjalanan, apakah perjalanan dilakukan sendiri atau bersama kelompok
  • Jenis akomodasi yang diinginkan
  • Transprotasi


Jika informasi yang berhubungan dengan seluruh hal diatas sudah diberikan pada dokter, pasien akan menjalani pemeriksaan fisik standar. Dokter akan membuat resep obat dan vaksinasi yang sesuai dengan kondisi pasien. Bila diperlukan, pasien dapat meminta surat pernyataan bahwa ia layak untuk melakukan perjalanan, karena biasanya surat ini adalah syarat yang diajukan oleh maskapai penerbangan, khusunya jika pasien diketahui mempunyai kondisi kesehatan tertentu.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pemeriksaan Pra-Perjalanan

Terdapat banyak risiko gangguan kesehatan yang dapat mengganggu perjalanan seseorang. Hal ini disebabkan oleh perjalanan panjang yang cenderung membuat tubuh rentan akan kondisi tertentu, seperti:

  • Lamanya penerbangan
  • Kondisi keram
  • Tekanan udara meningkat
  • Kurang asupan cairan
  • Kadar aktivitas naik


Bukan hanya berisiko terhadap kesehatan pasien, kondisi tersebut juga menyebabkan risiko tambahan yang lebih kompleks ketika pasien terserang penyakit di luar negeri, seperti kurangnya fasilitas kesehatan dan tidak adanya dokter yang biasa menangani pasien.

Terdapat pula risiko kesehatan khusus di negara tertentu, seperti infeksi dan penyakit yang menular lewat makanan, air, udara, sentuhan kulit, dan lain-lain. Contoh dari penyakit ini ialah:

  • Malaria
  • Kolera
  • Hepatitis A
  • DBD (demam berdarah dengue)
  • Amebiasis (infeksi pada usus besar)
  • Demam kuning
  • MERS (penyakit gangguan pernapasan yang disebabkan oleh virus MERS-CoV/virus korona)
  • Japanese eenfalitis
  • Gejala tipus
  • Ensefalitis yang ditularkan oleh kutu


Penyakit-penyakit tersebut mempunyai dampak serius, beberapa di antaranya berkembang dengan cepat dan berujung pada kematian. Pemeriksaan pra-perjalanan berperan penting sebagai perlindungan dari penyakit tersebut juga dari risiko perjalanan lainnya.
Rujukan:

  • Arguin P. Approach to the patient before and after travel. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011: bab 294.

  • Basnyat B, Ericsson CD. Travel medicine. In: Auerbach PS, ed. Wilderness Medicine. 6th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2011: bab 84.

  • Fairley JK, John CC. Health advice for children traveling internationally. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, et al, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011: bab 168.

Bagikan informasi ini: