Apa itu Konsultasi Narkolepsi?

Narkolepsi merupakan salah satu sindrom mengantuk berlebihan di siang hari (excessive daytime sleepiness/EDS) yang umum terjadi. Sindrom tersebut mengacu pada istilah medis dari beragam kondisi gangguan tidur dengan keinginan berat penderitanya untuk tidur. Masyarakat mungkin keliru mengira kondisi ini serupa dengan kondisi mengantuk atau kelelahan biasa akibat kesulitan tidur di malam hari. Namun, gangguan tidur ini nyatanya dapat tetap muncul meskipun penderitanya telah tidur sepanjang malam.

Konsultasi gangguan tidur merupakan kunjungan antara dokter spesialisasi gangguan tidur dengan pasien yang dicurigai menderita kondisi narkolepsi maupun gangguan tidur. Tujuan dari konsultasi ini adalah untuk memberikan diagnosis kepada pasien dan meresepkan pengobatan yang terbaik untuk mengobati gangguan ini.

Siapa yang Perlu Menjalani Konsultasi Narkolepsi dan Hasil yang Diharapkan

Konsultasi narkolepsi dianjurkan bagi pasien yang mengalami gejala berikut:

  • Mengantuk terus-terusan sepanjang hari – Penderita narkolepsi menderita keinginan berat untuk tidur sepanjang hari, terutama ketika suasana sedang santai. Hal ini akan tetap terjadi meskipun ia sudah mendapatkan cukup tidur di malam hari. Penderitanya menjelaskan gangguannya serupa dengan keadaan ketika seseorang begadang sepanjang malam dan mereka perlu berusaha keras agar tetap terjaga di siang hari. Kondisi mengantuk di siang hari dapat berupa mengantuk ringan hingga berat dan dapat membuat penderitanya tiba-tiba tertidur ketika melakukan aktivitasnya.

  • Katapleksi – Katapleksi terjadi saat penderita narkolepsi meluapkan emosinya dengan tertawa terbahak-bahak maupun menangis. Kondisi ini diakibatkan oleh hilangnya kendali pada otot wajah, leher, lengan, dan kaki. Selain itu, penderita narkolepsi juga dapat mengalami gejala lain seperti terbata-bata ketika berbicara, kepala menunduk, dan lemasnya cengkraman pada benda yang dipegang. Katapleksi berat dapat mengakibatkan seluruh tubuh tertidur. Beberapa orang mungkin terjatuh ke tanah setelah tertawa terbahak-bahak. Meskipun kondisi ini menyebabkan tubuh kehilangan kendali atas sebagian maupun seluruh fungsinya, penderita narkolepsi sepenuhnya sadar dan benar-benar terjaga saat katapleksi. Katapleksi biasanya berlangsung sekitar 1-2 menit, namun dapat terjadi beberapa kali dalam sehari pada kasus yang parah.

  • Halusinasi hipnagogik atau hipnopompik – Gejala lainnya yang umum terjadi pada penderita narkolepsi adalah kecenderungan halusinasi hipnagogik dan hipnopompik. Halusinasi hipnagogik muncul ketika penderita narkolepsi mengantuk dan akhirnya tidur, sedangkan halusinasi hipnopompik terjadi ketika penderitanya mencoba untuk terbangun. Ketika kondisi ini terjadi, penderita narkolepsi mungkin melihat, mendengar, dan memegang sesuatu, sehingga sulit membedakan antara dunia nyata dan mimpi. Halusinasi ini kemungkinan besar muncul akibat halusinasi mimpi pada periode tidur REM namun terjadi ketika penderitanya masih setengah sadar.

  • Lumpuh saat tidur atau sleep paralysis – Kondisi ini mungkin merupakan pengalaman yang menakutkan bagi sebagian orang. Ini terjadi selama peralihan ketika tidur, bangun, dan sebaliknya. Penderitanya mungkin merasa tidak bisa bergerak dan bernapas. Namun, kondisi ini hanya berlangsung sekitar satu menit, meskipun dapat terjadi berulang kali.

  • Tidur tidak nyenyak – Beberapa penderita narkolepsi mengalami kantuk berat di siang hari dan kesulitan tidur di malam hari. Penderitanya juga terkadang tiba-tiba terbangun pada malam hari dan tidak dapat tidur kembali.

  • Tidak sadar – Beberapa penderita narkolepsi juga menunjukkan gejala tidak sadar ketika melakukan aktivitasnya.Misalnya, penderita narkolepsi dapat terlihat menulis catatan selama kelas berlangsung, namun mereka sebenarnya tidak sadar dan tidak ingat telah melakukan hal itu.

Mudah untuk mengetahui apakah seseorang menderita narkolepsi karena gangguan kantuk di siang hari yang berlebihan sangat berbeda dengan kelelahan dan sulit tidur biasa. Selain itu, gejala lain yang tidak muncul akibat sulit tidur juga dapat terlihat. Epworth Sleepiness Scale adalah alat yang digunakan untuk mengukur apakah seseorang memerlukan konsultasi narkolepsi. Alat ini mengukur seberapa besar kemungkinan seseorang tertidur pada situasi tertentu. Jika hasil tes mencapai 18 atau lebih tinggi, orang yang dites mungkin perlu menjalani konsultasi narkolepsi.

Cara Kerja Konsultasi Narkolepsi

Orang yang menderita gejala yang berkaitan dengan narkolepsi perlu menemui dokter spesialisasi gangguan tidur untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Dokter akan memulai konsultasi dengan menanyakan tentang tingkat kantuk pasien, apakah pasien mengalami katapleksi, dan apakah pasien mengalami gejala narkolepsi lainnya. Untuk membuat diagnosis yang tepat, dokter mungkin akan menghilangkan faktor penyebab lain dari gangguan tidur, seperti konsumsi obat penenang, stres, sering begadang, dan keletihan yang amat sangat.

Dokter dapat membuat diagnosis narkolepsi yang pasti apabila menemukan gejala kantuk berat di siang hari dan katapleksi pada pasiennya. Namun, jika hasil konsultasi awal masih meragukan, dokter dapat melakukan polisomnogram, atau aktivitas mempelajari gelombang otak ketika pasien tidur sepanjang malang. Polisomnogram dilakukan untuk mencatat dan mengevaluasi perilaku tidur pasien. Penderita narkolepsi biasanya mengalami bangun mendadak saat tidur, rasio efisiensi rendah saat tidur (waktu tidur & waktu yang dihabiskan di tempat tidur), dan mencapai keadaan REM dalam waktu 20 menit dari awal tidur. Umumnya, orang mencapai keadaan REM dalam waktu 80-100 menit.

Prosedur lainnya yang dapat dilakukan adalah uji latensi tidur (multiple sleep latency test/MSLT). Dalam tes ini, pasien akan diberikan jadwal untuk tidur selama 10 hingga 20 menit setiap 2 jam sekali. Biasanya, pasien yang tidak menderita narkolepsi akan tidur dalam waktu 10-15 menit. Sementara pasien narkolepsi akan tertidur dalam waktu 5 menit dan mencapai REM beberapa menit setelah itu.

Pasien didiagnosis dengan narkolepsi jika:

  • Memiliki 2 gejala narkolepsi
  • Mencapai keadaan REM dalam waktu 15-20 menit setelah tertidur
  • Dapat tertidur dengan cepat (dalam waktu 5 menit) meskipun tertidur semalam penuh
  • Dapat mencapai keadaan REM bahkan di siang hari

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Konsultasi Narkolepsi

Resiko utama melakukan konsultasi narkolepsi adalah tidak meyakinkannya kedua hasil tes yang dilakukan, sehingga mungkin perlu diulang. Hal ini dapat menyebabkan pasien frustasi dan merasa telah membuang-buang waktunya yang berharga.

Rujukan:

  • Chokroverty S, Avidan AY. Sleep and its disorders. In: Daroff RB, Fenichel GM, Jankovic J, Mazziotta JC, eds. Bradley's Neurology in Clinical Practice. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 68.

  • Vaughn BV. Disorders of sleep. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 25th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2016:chap 405.

Bagikan informasi ini: