Apa itu Evaluasi Implan Koklea?

Implan koklea adalah salah satu opsi pengobatan bagi pasien yang kehilangan pendengarannya. Namun, sebelum direkomendasikan, evaluasi akan dilakukan untuk memastikan opsi tersebut dapat mengatasi masalah pasien.

Implan koklea dikembangkan sekitar tahun 1970, dan dipasangkan pada telinga bagian dalam melalui prosedur bedah kompleks. Alat ini dirancang untuk mengembalikan kemampuan dengar pasien hingga tingkat tertentu. Namun, tidak dapat mengembalikan kemampuan dengar seperti sediakala. Walaupun begitu, diketahui bekerja lebih baik dari alat bantu dengar.

Implan koklea terbuat dari prosesor suara eksternal (menerima suara dan merubahnya menjadi signal), receiver, sistem elektronik, dan susunan elektroda yang mengirimkan sinyal ke koklea, yang merupakan bagian telinga dalam. Koklea mengirimkan sinyal suara ke otak lalu ditransmisikan, seperti proses mendengar biasanya.

Siapa yang Perlu Menjalani Implan Koklea dan Hasil yang Diharapkan

Evaluasi pra-implan adalah langkah pertama untuk mendapatkan implan koklea, karena dokter perlu menilai apakah pasien kandidat yang tepat untuk menerima implan. Evaluasi ini juga merupakan kesempatan untuk mengedukasi pasien dan/atau keluarhnya (terutama pasien di bawah umur) tentang implan koklea. Sehingga mereka dapat membuat keputusan, untuk melakukan implan koklea atau tidak, berdasarkan informasi yang lengkap.

Evaluasi implan koklea akan sangat bermanfaat bagi pasien yang menderita kehilangan pendengaran parah dan gangguan pendengaran permanen, yang dapat disebabkan oleh faktor berikut:

  • Kehilangan pendengaran bawaan – Mereka yang kehilangan pendengaran sejak lahir.
  • Perforasi membran timpani
  • Otitis media kronis, sebuah [infeksi telinga] tengah (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/infeksi-telingan)
  • Meningitis akibat bakteri
  • Meningitis virus
  • Penyakit Meniere, gangguan yang berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan di dalam telinga
  • Presbycusis, atau penurunan kemampuan pendengaran seseorang karena usia, terutama yang terkait dengan frekuensi tinggi
  • Trauma

Kondisi ini dapat memicu beragam gejala, termasuk: * Tinnitus * Pusing * Gangguan pendengaran * Vertigo * Fotofobia, atau ketidakmampuan untuk mentolerir cahaya * Phonophobia, atau ketidakmampuan untuk mentolerir suara keras * Leher kaku * Sakit kepala * Demam * Kebingungan * Muntah * Masalah keseimbangan * Tekanan Telinga * Nyeri di dalam telinga


Implan koklea akan dipertimbangkan jika alat bantu dengar tidak dapat meningkatkan kemampuan dengar pasien.

Namun, ada beberapa kondisi, di mana implan koklea tidak direkomendasikan. Misalnya, kehilangan pendengaran akibat saraf pendengaran. Karena saat koklea mentransmisikan sinyal suara ke otak akan terhambat, sehingga implan koklea akan sia-sia.

Prosedur ini aman untuk berbagai usia. Beberapa penelitian menunjukkan implan koklea aman pada bayi di bawah usia 12 bulan, namun investigasi lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikannya. Tapi untuk usia 12 bulan ke atas, sudah dipastikan aman sehingga dapat melakukan konsultasi untuk memperhatikan faktor lain guna menilai kelayakan pasien.

Cara Kerja Evaluasi Implan Koklea

Evaluasi untuk implan koklea biasanya melibatkan lima langkah. Bisa dilakukan di hari yang sama atau membutuhkan hari yang berbeda. Namun kebanyakan membutuhkan waktu hingga 2 hari, karena setiap langkah mungkin memerlukan keahlian dari dokter atau spesialis yang berbeda. Kelima langkah tersebut adalah:

  • Orientasi implan koklea - Pada awal kunjungan, dokter memberikan penjelasan tentang implan koklea. Mulai dari proses implantasi, biaya, serta kemungkinan komplikasi dan risiko.

  • Evaluasi audiologi - Seorang pasien akan dievaluasi berdasarkan kondisi pendengarannya. Dokter akan menentukan, apakah pasien membutuhkan implan koklea dan akankah implan tersebut bermanfaat atau dokter harus mempertimbangkan alternatif yang lebih rendah risiko seperti alat bantu dengar berkekuatan tinggi.

  • Evaluasi medis – Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa pasien dapat menjalani prosedur bedah untuk implantasi koklea dengan aman. Evaluasi akan melihat sejarah penggunaan bius untuk mengetahui apakah pasien alergi atau merespon negatif terhadap obat bius. Pasien mungkin perlu melakukan x-ray. Pada tahapan ini, dokter juga memeriksa kondisi kesehatan lain yang mungkin mendiskualifikasi pasien untuk menjalani proses implantasi koklea.

  • Studi radiografi - Beberapa scan radiologi juga dapat dilakukan selama evaluasi. Ini termasuk CT dan MRI scan, yang keduanya membantu untuk menilai kondisi koklea secara signifikan.

  • Evaluasi Psikososial - Langkah terakhir dalam evaluasi adalah aspek psikososial, yang memeriksa apakah pasien secara psikologis siap untuk menjalani prosedur implantasi koklea. Evaluasi ini dilakukan oleh psikolog.


Dari lima langkah, yang paling penting adalah evaluasi audiologi, yang mungkin melibatkan beberapa tes pendengaran, seperti:

  • Uji neuro-otologic lengkap
  • Pemeriksaan otolaryngologic
  • Audiometri nada murni
  • Uji respon pendengaran pada batang otak
  • Uji Emisi Otoacoustic


Sebelum ujung kunjungan, dokter juga akan membahas secara singkat implikasi jangka panjang dari implantasi koklea, seperti pasien perlu menjalani konsultasi lanjutan dalam jangka panjang sehingga pasien harus bersedia berkomitmen. Dokter akan mengakhiri diskusi dengan memberikan rekomendasi, apakah implantasi koklea merupakan pilihan yang tepat.

Jika pasien dipastikan sebagai kandidat tepat untuk menjalani prosedur dan setuju untuk melakukannya, ia akan diarahkan untuk memilih perangkat implan koklea yang diinginkannya. Sehingga, prosedur dapat dilanjutkan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Evaluasi Implantasi Koklea

Evaluasi implan koklea dilakukan untuk memastikan bahwa ini merupakan pilihan pengobatan terbaik untuk pasien, dan prosedurnya aman dengan manfaat besar, namun risiko terkecil dibandingkan pilihan lainnya. Meskipun begitu, karena implantasi koklea melibatkan prosedur bedah kompleks, ada beberapa risiko terkait, seperti:

  • Meningkatnya kerentanan untuk meningitis pneumokokus, yang dapat diatasi dengan vaksin pneumokokus setelah evaluasi
  • Reaksi alergi terhadap anestesi, oleh karena itu pasien juga harus menjadwalkan janji dengan dokter spesialis anastesi untuk mencegahnya.
  • Mengingat kemungkinan komplikasi dan risiko, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan.

    Rujukan:

  • Limb CJ, Francis HW, Niparko JK. Cochlear implantation. In: Flint PW, Haughey BH, Lund LJ, et al, eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2015:chap 160.

  • Sparreboom M, van Schoonhoven J, van Zanten BG, et al. The effectiveness of bilateral cochlear implants for severe-to-profound deafness in children: a systematic review. Otol Neurotol. 2010 Sep;31(7):1062-71. PMID: 20601922. www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20601922.

Bagikan informasi ini: