Apa Itu Prosedur Transfer Embrio Tunggal?

Transfer embrio tunggal adalah salah satu prosedur yang digunakan dalam teknologi reproduksi untuk membantu pasien dengan masalah kesuburan. Prosedur khusus ini berkaitan dengan proses mengirimkan satu embrio (transfer embrio) dan menempatkannya dalam tuba falopi atau rahim. Embrio ini dipilih dari kelompok yang lebih besar, dan dapat berupa embrio segar yang dihasilkan dari siklus bayi tabung (fertilisasi in vitro/IVF) terbaru atau embrio cryopreserved dari siklus IVF sebelumnya.

Pasangan suami-istri kadang-kadang secara khusus meminta untuk transfer embrio tunggal untuk menghindari kemungkinan kelahiran kembar yang kerap dianggap berisiko untuk ibu dan anak. Memilih transfer embrio tunggal dapat membantu memastikan bahwa kelahiran kembar tidak akan terjadi tanpa mempengaruhi peluang pasangan untuk hamil.

Siapa yang Perlu Menjalani Transfer Embrio Tunggal dan Hasil yang Diharapkan

Memilih untuk melakukan transfer embrio tunggal yang bermanfaat bagi perempuan yang:

  • Berusia kurang dari 35 tahun
  • Sehat
  • Mampu menghasilkan setidaknya tiga embrio berkualitas tinggi pada hari ke-3 dari IVF
  • Upaya pertama IVF dan tidak memiliki riwayat gagal di siklusnya


Perempuan yang memenuhi kriteria di atas adalah orang-orang dihadapkan dengan kemungkinan mengalami kehamilan kembar yang lebih tinggi. Karena itu prosedur ini akan membantu pasangan menghindari resiko kehamilan kembar.

Setiap wanita yang dihadapkan dengan pilihan untuk mentransfer satu atau beberapa embrio, harus mempertimbangkan faktor-faktor di atas, juga pilihan praktis wanita dan pasangannya soal batasan membesarkan anak. Misalnya, wanita yang ingin menyusui secara eksklusif bisa kesulitan melakukan prosedur ini secara ideal ini jika memiliki bayi kembar atau lebih. Pertimbangan aspek keuangan dan aspek praktis membesarkan anak juga harus dipertimbangkan.

kehamilan ganda juga telah dikaitkan dengan beberapa risiko baik untuk ibu dan anak. Wanita yang mengandung anak kembar atau lebih menghadapi risiko komplikasi kehamilan lebih tinggi, seperti keguguran, pre-eklampsia, hipertensi, dan diabetes gestasional. Mereka juga memiliki kecenderungan yang lebih besar melahirkan dengan cara operasi caesar, dan akan berhadapan dengan risiko pendarahan dan anemia yang lebih besar usai melahirkan. Beberapa penelitian juga mengaitkan tantatangan merawat dua bayi atau lebih pada saat yang sama dengan risiko lebih tinggi mengalami postpartum depresi.

Bayi yang lahir dari kehamilan kembar juga memiliki risiko. Kembar dan kembar tiga cenderung memiliki bobot lahir rendah daripada bayi tunggal, dan mereka juga berisiko lebih tinggi lahir secara prematur. Dengan demikian, memilih untuk melakukan prosedur transfer embrio tunggal juga meningkatkan kemungkinan melahirkan bayi yang sehat.

Sementara transfer embrio tunggal membantu menghindari resiko di atas untuk ibu dan anak, prosedur ini tidak akan menurunkan kemungkinan wanita sukses mengalami kehamilan. Bahkan, prosedur ini memiliki kemungkinan setara untuk hamil sama dengan yang memilih mentransfer beberapa embrio, dengan syarat:

  • Ibu adalah calon yang cocok untuk prosedur elektif ini
  • Embrio dengan kualitas terbaik yang digunakan. (Karena hanya satu embrio akan dipindahkan, proses pemilihan embrio terbaik menjadi lebih penting)

    Cara Kerja Transfer Embrio Tunggal

Dalam transfer embrio tunggal, embriolog akan memilih embrio kualitas terbaik dari yang diproduksi selama siklus IVF segar atau yang sebelumnya. Embrio lainnya kemudian dibekukan untuk disimpan. Menyimpan embrio tidak akan menurunkan kualitas; pada kenyataannya, jika embrio yang disimpan berkualitas baik, lebih mungkin untuk bertahan hidup pada seluruh proses pembekuan dan pencairan.

Setelah embrio dipilih, dapat ditanamkan kembali ke dalam rahim. Waktu transfer embrio pun menjadi salah satu penentu keberhasilan prosedur ini. Kebanyakan ahli menunggu sampai embrio pada tahap blastokista, yang terjadi pada hari ke-5 atau 6, sebelum melakukan penanaman untuk meningkatkan peluang keberhasilan.

Embrio kemudian ditransfer ke dalam rahim melalui kateter yang dimasukkan ke dalam vagina. Dokter kemudian memasukkan kateter melalui leher rahim dan ke dalam rahim, dan seluruh prosesnya dipandu dengan gambar USG. Proses ini hampir sama dengan pemeriksaan serviks dan biasanya tidak memerlukan anestesi. Namun, jika pasien meminta, obat penenang ringan dapat diberikan.

Prosedur ini diikuti dengan periode pemulihan selama 4-6 jam, di mana pasien diminta untuk bersantai dan tetap berbaring. Setelah itu, pasien boleh diizinkan pulang setelah diberi tahu apa saja yang perlu dilakukan, terutama soal asupan suplemen progesteron.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Transfer Embrio Tunggal

Transfer embrio tunggal tidak mengurangi kemungkinan seorang wanita Untuk hamil, tetapi secara signifikan mengurangi risiko mengalami melahirkan bayi kembar dan kehamilan kembar. Dengan demikian, prosedur ini dianggap pilihan yang lebih aman dan bebas dari risiko serius atau kemungkinan komplikasi.

Prosedur ini sangat sederhana dengan risiko sangat minim, yaitu:

  • Kehilangan embrio selama transfer
  • Menanamkan embrio di lokasi yang salah, seperti saluran tuba
    Meski begitu, hampir tidak ada resiko bagi kesehatan pasien. Paling-paling, pasien mungkin mengalami kram ringan. Prosedur ini sebenarnya dianggap sebagai langkah sederhana yang menandai akhir dari proses IVF, setelah pasangan itu hanya perlu menunggu hasil.



Rujuka:

  • The Practice Committee of the Society for Assisted Reproductive Technology and the Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine. Criteria for number of embryos to transfer: a committee opinion. Fertil Steril. Jan 2013;99 (1):44-46.

  • Jackson RA, Gibson KA, Wu YW, et al. Perinatal Outcomes in Singletons following in vitro fertilization: a meta-analysis. Obstet Gynecol. 2004;103: 551-563.

Bagikan informasi ini: