Apa itu Pemindahan Embrio?

Pemindahan embrio adalah proses penanaman embrio ke dalam rahim seorang wanita, yang dilakukan setelah suatu sel reproduktif sudah berkembang, berubah menjadi zigot, dan memasuki tahap embrionik.

Pemindahan embrio adalah tahap terakhir dari pembuahan invitro (IVF), sebuah tindakan pembuahan yang dilakukan dengan bantuan teknologi, di mana sel sperma dan sel telur diambil dan diletakkan pada cawan petri agar terjadi pembuahan. Saat sel telur sudah dibuahi, sel tersebut akan berubah menjadi zigot, di mana sel tersebut mengalami perkembangan dan pengembang biakan sel secara cepat. Dalam tiga hari, zigot akan berubah menjadi embrio. Embrio akan disebut janin setelah melalui masa kehamilan selama delapan minggu.

Meskipun prosesnya terdengar sederhana, kenyataannya tidak mudah, karena penting bagi embrio untuk ditanam dengan benar. Jika tidak, embrio tidak akan berkembang menjadi janin dan kehamilan tidak akan terjadi.

Dokter spesialis In Vitro Fertilization (IVF) perlu memastikan embrio diletakkan di dalam celah selaput rahim. Celah ini adalah ruangan yang ada pada selaput rahim, yang disebut endometrium. Endometrium dan celah terletak di dalam rahim. Sel-sel yang membuat selaput rahim akan diperbarui setiap bulannya. Jika tidak terjadi kehamilan, selaput rahim atau membran rahim akan sobek, di mana proses ini adalah proses terjadinya menstruasi. Namun, jika pemindahan embrio berjalan dengan baik, maka selaput rahim akan menebal agar dapat menopang perkembangan janin sampai berkembang menjadi jabang bayi sepenuhnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Pemindahan Embrio dan Hasil yang Diharapkan

Pemindahan embrio hanya akan dilakukan bagi wanita yang lolos dari kriteria ketat untuk IVF. Wanita ini dapat menjadi seorang mitra yang sudah menghasilkan dan mendonorkan sel telur berkualitas baik (meskipun dimungkinkan jika sel telur didonorkan dari orang lain). Terkadang, wanita IVF tetap dapat memproduksi sel telur, tetapi sulit hamil karena berbagai masalah tertentu. Suatu pasangan dapat meminta seorang wanita lain untuk menggantikan mengandung bayi dari sel telur tersebut dan menjalani pemindahan embrio.

Tindakan ini pada dasarnya tidak akan menyebabkan rasa sakit. Saat embrio sudah ditanam ke dalam celah selaput rahim, perlu adanya waktu menunggu. Pada saat itu, wanita yang ditanami embrio akan menunggu sampai Ia menjadi hamil. Kehamilan biasanya terjadi pada hari kesembilan setelah penanaman embrio berlangsung.

Kemungkinan terjadinya kehamilan dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satu faktor terpenting adalah usia. Semakin muda wanita tersebut, semakin tinggi kemungkinan Ia mengandung, di mana embrio akan menempel pada dinding rahim. Berdasarkan data pada tahun 2011, seorang wanita yang menjalani pemindahan embrio sebelum menginjak usia 35 tahun memiliki kemungkinan mengandung sebesar 40%¬ ̶ yang merupakan angka persentasi yang sangat besar jika dibandingkan dengan 5%, yang merupakan persentasi terjadinya kahamilan bagi wanita berusia 45 tahun keatas.

Untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan, dokter spesialis IVF dapat menyarankan pemindahan blastokista. Blastocyst adalah embrio yang berusia sekitar enam hari. Blastocyst memiliki jumlah sel lebih banyak dibandingkan dengan embrio yang berusia tiga hari.

Cara Kerja Pemindahan Rahim

Tindakan pemindahan embrio ini mirip dengan tindakan pap smear, karena dokter spesialis perlu mengakses leher rahim untuk dapat mencapai rahim dan celah selaput rahim. Vagina akan dibuat tetap terbuka dengan menggunakan spekulum–alat penahan.

Selama tindakan berlangsung, wanita penerima sel telur tetap sadar sepenuhnya. Seperti pada tindakan pap smear, tidak diperlukan obat penenang atau obat bius. Namun, jika tindakan dilakukan dengan bantuan alat USG, wanita tersebut akan diminta untuk mengisi kandung kemih sampai setengah penuh, agar tampilannya menjadi lebih jelas.

Embrio yang akan ditanam kemudian akan diletakkan di ujung kateter. Kateter tersebut akan dimasukkan melalui leher rahim sampai mencapai rahim. Saat ujungnya sudah berada di posisi yang tepat, embrio akan dilepas dari ujung kateter. Kateter tersebut akan dikeluarkan secara perlahan dari rahim. Kemudian, dokter spesialis IVF akan memeriksa ujung kateter untuk memastikan tidak ada embrio yang tersisa. Jika masih ada, tindakan akan diulang.

Untuk memperoleh kemungkinan kehamilan yang lebih tinggi, embrio yang dipindahkan akan lebih dari satu buah. Namun, untuk mencegah terjadinya kehamilan berlebihan, para ahli setuju bahwa embrio yang ditanam tidak boleh lebih dari empat buah.

Selama masa pembuahan, sangat dimungkinkan untuk menghasilkan lebih dari satu embrio yang sehat. Klien kemudian dapat memilih untuk menyimpan atau menghancurkan embrio yang tidak digunakan tersebut. Jika klien memilih untuk menympannya, embrio akan ditaruh di lingkungan yang sangat dingin.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pemindahan Embrio

Tindakan pemindahan embrio ini memiliki risiko yang sangat kecil dan tidak mempengaruhi tingkat kesuksesan dari pemindahan embrio ini. Mungkin wanita yang ditanami embrio akan merasakan nyeril pada perut setelah tindakan dilakukan. Di sisi lain, ada risiko setelah embrio sudah ditanam. Tentunya, yang paling penting adalah apakah tindakan ini dapat membuat kehamilan atau tidak. Untuk alasan tersebut, para peneliti masih meneliti proses baru untuk memilih embrio yang baik untuk ditanam. Proses ini disebut metabolomics, di mana proses ini akan mendeteksi level metabolisme dari embrio yang sedang dikembangkan.

Rujukan:

  • Lobo RA. Infertility: etiology, diagnostic evaluation, management, prognosis. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Mosby; 2012: chap 41.

  • Goldberg JM. In vitro fertilization update. Cleve Clin J Med. May 2007; 74(5): 329-38.

  • The Practice Committee of the Society for Assisted Reproductive Technology and the Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine. Criteria for number of embryos to transfer: a committee opinion. Fertil Steril. Jan 2013;99 (1):44-46.

  • Jackson RA, Gibson KA, Wu YW, et al. Perinatal Outcomes in Singletons following in vitro fertilization: a meta-analysis. Obstet Gynecol. 2004;103: 551-563.

Bagikan informasi ini: