Apa itu Kolonoskopi Virtual?

Kolonoskopi virtual atau CT kolonografi adalah suatu tes visual pada kolon yang terdiri dari beberapa pencitraan menggunakan CT scan. Cara ini dapat membantu karena memiliki gambar kolon yang lebih rinci meliputi rectum, terutama jika terdapat polip, yang mana menjadi gejala pra-kanker yang dapat terlihat.

Jenis tes ini berbeda dari yang kolonoskopi biasa, yang menggunakan selang panjang fleksibel yang dimasukkan ke dalam rektum hingga ke kolon untuk memeriksa polip.

Siapa yang Perlu Menjalani Kolonoskopi Virtual & Hasil yang Diharapkan

Kolonoskopi virtual dapat gagal apabila pasien memiliki penyakit gastrointestinal seperti:

  • Berdarah saat ada pergerakan usus
  • Ada perubahan dalam pergerakan usus
  • Nyeri abdominal
  • Kehilangan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Buang gas lebih sering dari biasanya
  • Kembung
  • Merasa kekenyangan walaupun hanya makan sedikit


Dapat juga disarankan untuk orang yang telah melakukan fecal occult blood test atau FOBT, tes rutin yang dapat mengidentifikasi darah pada berbagai sampel. CT scan diperlukan untuk diagnosis dan investigasi lebih lanjut.

Orang berusia, minimum 50 tahun direkomendasikan untuk menjalani uji pemeriksaan kanker kolon, waktu yang dibutuhkan tergantung pada jenis pemeriksaan yang dijalankan. Mereka yang menderita penyakit ini karena faktor genetis dapat melakukan tes lebih awal dan lebih sering dibandingkan orang kebanyakan.

Proses pemindaian hanya memakan waktu beberapa menit, tetapi keseluruhan proses dapat berlangsung setidaknya satu jam. Pemindaian harus dapat mengidentifikasi kondisi usus meliputi keberadaan polip.

Cara Kerja Kolonoskopi Visual

Dalam merekomendasikan prosedur untuk pasien, ahli gastroenterologi harus menyesuaikannya dengan hasil tes medis sebelumnya. Pasien perlu menjadwalkan pemindaian sebagai persiapan yang harus dilakukan. Hal ini termasuk pemasukan cairan khusus untuk membersihkan usus. Ada pula pengaturan pola makan khusus. Sehari sebelum tes, pasien hanya boleh mengonsumsi cairan.

Selama tes, seorang teknisi akan mendampingi pasien yang diposisikan pada sebuah meja datar. Gas dimasukkan ke dalam rektum menggunakan pompa elektrik atau selang fleksibel. Udaranya digunakan untuk memastikan usus terisi penuh. Pengaman juga dipasangkan pada tubuh untuk mencegah tubuh pasien bergesar saat proses berlangsung.

Meja kemudian akan bergerak menuju alat pemindai. Ketika teknisi siap untuk mengambil gambar, pasien harus menahan nafasnya selama 15 detik. Menggunakan pengeras suara dan mikrofon, teknisi akan berkomunikasi dari ruangan lain untuk memberikan instruksi pada pasien.

Setelah tes, radiologis akan menganalisa gambar yang dihasilkan Apabila terdapat polip, pasien dapat melanjutkan ke kolonoskopi untuk menghilangkannya.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Kolonoskopi Virtual

Kolonoskop virtual tidak begitu sensitif pada polip yang berukuran kurang dari 7 mm. Sehingga, ada kemungkinan pemindaian ini melewatkan beberapa polip pra-kanker, terutama jika radiologis tidak memiliki pengalaman dalam menjalankan prosedur.

Menjalani CT kolonografi tidak menghilangkan keperluan untuk menjalani kolonoskopi umum (yang lebih invasif), terutama kolonoskopi bisa menjadi satu-satunya cara untuk mengangkat polip, untuk kemudian dibiopsy guna keperluan lebih lanjut.

Rujukan:

  • Cash BD, Rockey DC, Brill JV. AGA standards for gastroenterologists for performing and interpreting diagnostic computed tomography colonography: 2011 update. Gastroenterology. 2011;141:2240-2266. PMID 22098711. Available at: www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22098711.

  • Kim DH, Pickhardt PJ. Computed tomography colonography. In: Gore RM, Levine MS, eds. Textbook of Gastrointestinal Radiology. 4th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 53.

National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology (NCCN Guidelines): Colorectal cancer screening. Version 1.2014. Available at: www.nccn.org/professionals/physiciangls/pdf/colorectalscreening.pdf. Accessed February 12, 2015.

Bagikan informasi ini: