Apa itu Opini Kedua dalam Pembedahan?

Opini kedua dalam pembedahan dalam jadwal temu yang dilakukan dengan [dokter umum] (https://www.docdoc.com/id/id/info/specialty/dokter-umum) atau dengan dokter spesialis, setelah pasien menerima saran untuk melakukan pembedahan dari dokter lain.

Pembedahan tidak selalu pilihan perawatan untuk beberapa jenis penyakit. Bahkan, faktanya dokter sebisa mungkin menghindari pilihan tersebut. Tidak hanya berisiko, pembedahan juga bisa menjadi sangat mahal, terlepas apakah pembedahan yang dilakukan tersebut invasif minimal atau pembedahan terbuka. Proses pemulihan juga dapat berlangsung lambat dan terkadang menyulitkan bagi pasien.

Namun dalam beberapa kesempatan, pembedahan dapat merupakan pilihan yang terbaik atau satu-satunya. Pada saat ini, pasien dihadapkan dalam keputusan yang menantang apakah mereka akan menjalani pembedahan atau tidak.

Untuk menolong pasien dalam mengambil keputusan yang tepat, mereka disarankan untuk mencari pendapat kedua.

Siapa yang Perlu Mencari Opini Kedua dalam Pembedahan & Hasil yang Diharapkan

Opini kedua dapat dicari oleh para pasien yang sudah disarankan untuk melakukan pembedahan, atau juga oleh keluarga pasien tersebut.

Opini kedua juga diperlukan bila pasien:

  • Ingin mendapatkan konfirmasi bahwa pembedahan merupakan pilihan satu-satunya dan kondisi yang ia alami tidak dapat disembuhkan dengan konsumsi obat atau terapi atau pilihan dengan tingkat invasif minimal atau tidak invasif.
  • Ingin mendapatkan jawaban dari beberapa pertanyaan yang belum dijawab oleh dokternya
  • Mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan
  • Meragukan pilihan yang diberikan oleh dokternya
  • Memerlukan bantuan dalam menentukan perawatan yang paling tepat
  • Ingin tahu lebih lanjut tentang kondisi yang ia alami
  • Ingin mendapatkan konfirmasi dari diagnosis dan rencana perawatan yang sudah diberikan


Merupakan kebiasaan bagi dokter umum untuk mencari pendapat kedua tentang pasien yang sedang Ia tangani. Dan pasien juga dibebaskan untuk mencari pendapat kedua kapan saja, meskipun perawatan yang Ia sedang jalani sudah mencapai tahap sebelum pembedahan.

Namun, pendapat kedua hanya disarankan jika kondisi yang dialami pasien dianggap serius tetapi tidak dalam situasi gawat seperti [aneurisma] (https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/perawatan-pembengkakan-otak) atau patah tulang. Situasi semacam itu dapat mengancam nyawa jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis.

Pendapat kedua tidak selalu berarti perawatan berbeda atau diagnosa berbeda dengan pendapat pertama.

Cara Mendapatkan Opini Kedua untuk Pembedahan

  1. Pasien meminta pendapat kedua dari penyedia layanan medis lainnya, yang mungkin dapat disarankan oleh dokter pertama atau oleh perusahaan asuransi.
  2. Jadwal konsultasi kemudian akan diberikan pada pasien.
  3. Pasien akan memberikan keterangan pada dokter pertama tentang jadwal konsultasi untuk mendapatkan pendapat kedua dan meminta semua rekam medis, termasuk hasil pengujian yang sudah dilakukan. Pemberian hasil tes yang sudah dilakukan ini berarti pasien tidak perlu melakukan pengujian yang sama saat meminta pendapat kedua.
  4. Penyedia layanan medis kedua akan memeriksa dan meninjau rekam medis yang diberikan, memberikan wawancara dan pemeriksaan fisik yang diperlukan, dan meminta jenis pengujian lain yang belum dilakukan oleh pasien.
  5. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, dokter kedua akan memberikan konfirmasi pendapat pertama atau mungkin memberikan pendapat yang berbeda.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Opini Kedua untuk Pembedahan

Masalah yang paling besar dalam mencari pendapat kedua dalam kondisi yang perlu pembedahan adalah, saat pendapat kedua menyatakan pilihan perawatan yang sama sekali berbeda. Saat kondisi pasien sudah dianggap serius, pasien mungkin tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangkan informasi yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Kemudian, jika hasil diagnosanya berbeda, mungkin pendapat ketiga juga diperlukan.

Referensi:

  • Vashitz, G., Davidovitch, N., Pliskin, J.S. Second medical opinions.2011;150:105–110.

  • Hewitt, M., Breen, N., Devesa, S. Cancer prevalence and survivorship issues: analyses of the 1992 National Health Interview Survey. J Natl Cancer Inst. 1999;91:1480–1486.

Bagikan informasi ini: