Apa itu Evaluasi Tidur?

Banyak orang yang mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak atau merasakan berbagai gangguan tidur. Evaluasi tidur adalah tes tanpa resiko dan tidak menyakitkan, yang dilakukan untuk mengukur tingkat kepulasan seseorang saat tidur. Evaluasi ini juga dapat membantu menemukan masalah dan gangguan tidur. Selama evaluasi berlangsung, kondisi tubuh pasien direkam dalam beberapa tahapan berbeda. Hasil evaluasi akan digunakan oleh dokter spesialis gangguan tidur untuk mendiagnosa pasien dan menentukan parahnya masalah atau gangguan tidur yang dialami pasien.

Evaluasi perlu dilakukan sebab memiliki peranan penting dalam menentukan rencana pengobatan bagi pasien. Jika tidak dievaluasi dan diobati, pasien dapat mengalami masalah yang lebih serius ke depannya. Seperti, penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.

Siapa yang Perlu Menjalani Evaluasi Tidur & Hasil yang Diharapkan

Seseorang harus menjalani evaluasi tidur jika ia mengalami tanda-tanda awal gangguan tidur, seperti:

  • Perubahan apapun yang dapat menganggu siklus tidur
  • Sulit untuk tidur nyenyak
  • Mendengkur secara berlebihan
  • Kesulitan untuk tetap terjaga, yang merupakan karakteristik dari gangguan tidur yang disebut narkolepsi
  • Pernapasan tersumbat saat tidur, yang merupakan karakteristik dari apnea tidur
  • Tidur berjalan
  • Night terrors
  • Mengompol
  • Insomnia
  • Kaki, lengan, atau kaki berkedut berulang kali selama tidur, yang merupakan karakteristik dari gangguan yang disebut gangguan gerakan tungkai periodik

Salah gangguan tidur yang paling umum diderita adalah apnea tidur. Banyak orang menjalani evaluasi tidur karenanya. Sebab, apnea tidur adalah kondisi yang serius. Penderitanya dapat berhenti bernapasa beberapa kali pada malam hari, yang berlangsung lebih dari 10 detik.

Selain itu, banyak juga yang menderita [insomnia] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/insomnia). Biasanya diakibatkan stres berlebihan, ketidaknyamanan fisik, atau depresi. Evaluasi tidur memang dirancang untuk mediagnosa berbagai jenis gangguan tidur. Sehingga, pasien dapat mencari pengobatan yang paling tepat.

Cara Kerja Evaluasi Tidur

Anda perlu memahami tahapan-tahapan dalam tidur, sebelum berusaha mengerti cara kerja evaluasi tidur. Ada dua tahapan berbeda yang dialami tubuh selama tidur. Tahapan pertama, gerakan bola mata lambat (NREM). Tahapan kedua, gerakan bola mata cepat (REM). Pada kondisi normal saat tidur malam, tubuh kita memasuki tahapan REM dan NREM secara berganti selama 4 – 5 kali. Jika siklus pergantian ini terganggung, tubuh tidak bisa beristirahat penuh dengan nyaman.

Evaluasi tidur mencoba mendeteksi perubahan dalam siklusdengan mencatat dan mengamati fungsi tubuh yang berbeda saat tidur. Informasi yang dikumpulkan berbeda-beda, tergantung dari evaluasi yang dijalani:

  • Multiple Sleep Latency Test (MLST) – Evaluasi tidur ini dilakukan untuk menentukan, apakah pasien memasuki tahapan REM atau tidak. Ini juga efektif untuk mengetahui jumlah waktu yang diperlukan untuk tertidur. Selain itu, evaluasi ini dapat membantu memberikan petunjuk mengenai gangguan tidur narkolepsi dan hipersomia idiopatik, keduanya menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan yang luar biasa di siang hari. MLST dilakukan pada saat tidur siang. Namun, dihubungkan dengan polysomnogram yang biasanya digunakan pada evaluasi tidur malam hari.

  • Polysomnogram – Evaluasi ini akan mengamati fungsi tubuh seseorang, saat tertidur. Dengan merekam gerakan mata, kadar oksigen dan karbondioksida dalam tubuh, denyut serta irama jantung, kondisi pernapasan, dan dengkuran (jika ada), gerakan otot-otot tubuh, turun naiknya dada dan perut, serta yang paling penting, aktivitas otak. Sensor yang dipasangkan di hidung, wajah, kulit kepala, jari, dan sabuk elastis yang dipasangkan di dada serta perut, berfungsi untuk merekam hal-hal di atas. Informasi yang didapatkan dikirim ke komputer terdekat, dan akan dibacakan oleh teknisi laboratorium tidur.

  • Maintenance of Wakefulness Test (MWT) – Evaluasi ini berfokus pada kemampuan seseorang untuk tetap terjaga, pada waktu di mana ia semestinya terjaga. Misalnya, saat jam kerja. Pasien akan diminta untuk mencoba tetap terjaga selama mungkin, saat ia duduk di kursi yang nyaman. Evaluasi ini biasanya diulang 4 kali dengan jeda 2 jam. Tiap percobaannya memakan waktu 40 menit. Jika pasien tertidur, teknisi laboratorium tidur akan membangunkannya setelah 90 detik.

  • Actigraphy - Ini adalah tes khusus yang digunakan untuk mendiagnosis masalah dengan jam tubuh (atau ritme sirkadian) atau jenis gangguan tertentu yang disebut shift work sleep disorder yang biasanya memengaruhi orang-orang yang bekerja di malam hari dan tidur pada siang hari. Tes ini dilakukan dengan memakaikan perangkat pergelangan tangan pada pasien. Perangkat tersebut akan mencatat apakah dia tidur atau terjaga. Sehingga dokter dapat mempelajari rutinitas dari tidur dan waktu terjaga pasien selama seharian.

Karena seseorang harus tertidur selama evaluasi tidur, persiapan tertentu harus dilakukan sebelum menjalaninya. Kebanyakan spesialis meminta pasien membuat jurnal tidur selama sekitar 1 atau 2 minggu sebelum tes dilakukan. Setidaknya tiga hari sebelum ujian, pasien disarankan untuk menahan diri untuk tidur siang dan mengonsumsi makanan serta minuman berkafein. Mereka juga disarankan untuk tidak mengonsumsi obat.

Untuk memudahkan pasien tertidur selama pengujian, penelitian tidur biasanya dijadwalkan di malam hari, sesuai waktu tidur pada umumnya. Pasien disarankan untuk mandi, agar tubuh lebih santai. Tetapi, make-up, parfum atau deodoran semprot, minyak, gel rambut, dan lainnya sebaiknya tidak digunakan. Karena dapat menganggu kinerja peralatan yang digunakan untuk melakukan evaluasi tidur.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Evaluasi Tidur

Evaluasi tidur adalah cara yang aman dan tidak menyakitkan untuk mendeteksi sejumlah berbagai masalah tidur, dan dengan resiko komplikasi yang sangat kecil. Bahkan, satu-satunya efek samping yang mungkin terjadi adalah kemerahan pada kulit di mana elektroda dipasangkan.

Rujukan:

  • Collop NA, Anderson WM, Boehlecke B, et al. Clinical guidelines for the use of unattended portable monitors in the diagnosis of obstructive sleep apnea in adult patients. Portable Monitoring Task Force of the American Academy of Sleep Medicine. J Clin Sleep Med. 2007;3:737-747.

  • Epstein LJ, Kristo D, Strollo PJ Jr. Adult Obstructive Sleep Apnea Task Force of the American Academy of Sleep Medicine. Clinical guideline for the evaluation, management, and long-term care of obstructive sleep apnea in adults. J Clin Sleep Med. 2009;5:263-276.

  • Qaseem A, Holty JE, Owens DK, Dallas P, Starkey M, Shekelle P; for the Clinical Guidelines Committee of the American College of Physicians. Management of Obstructive Sleep Apnea in Adults: A Clinical Practice Guideline From the American College of Physicians. Ann Intern Med. Sep. 24, 2013.

Bagikan informasi ini: