Apa itu Studi Urodinamik?

Studi urodinamik adalah serangkaian tes yang dilakukan untuk menilai fungsi dan kondisi saluran kemih bagian bawah. Prosedur ini juga disebut sebagai urodinamik atau pemeriksaan urodinamik.

Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, otot sfingter, dan uretra. Saluran yang lebih rendah terdiri dari kandung kemih dan uretra.

Sistem saluran kemih bertugas untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh dan kelebihan air dalam bentuk urin. Pertama, ginjal menyaring cairan tubuh untuk menghilangkan kotoran, racun, dan kelebihan air. Kemudian, zat sisa ini dialirkan ke ureter dan ke dalam kandung kemih. Kandung kemih adalah organ seperti kantung yang mengembang karena menyimpan atau mengumpulkan urin. Organ ini juga mencegah urin untuk kembali ke ginjal melalui beberapa otot-ototnya. Urin disimpan di organ tersebut hingga urin siap untuk dikeluarkan untuk menyimpan urin selanjutnya. Dinding kandung kemih terdiri dari banyak saraf yang memberikan sinyal ke otak ketika sudah penuh.

Kemudian, kandung kemih berelaksasi untuk membuat urin mengalir sementara otot sfingter membantu mengontrol berapa banyak urin yang dikeluarkan. Uretra adalah organ yang dilewati oleh urin.

Sistem saluran kemih antara pria dan wanita hanya berbeda pada panjang uretranya. Sedangkan, wanita memiliki uretra yang lebih pendek dari pria.

Siapa yang Perlu Menjalani Studi Urodinamik dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang menunjukkan gejala di bawah ini dapat memanfaatkan studi urodinamik:

  • Inkontinensia atau kehilangan kontrol kandung kemih tanpa sengaja
  • Perubahan pola buang air kecil
  • Sensasi perih saat buang air kecil
  • Kandung kemih terasa tidak sepenuhnya kosong
  • Buang air kecil yang disertai dengan rasa sakit di punggung bawah, demam, atau rasa tidak nyaman
  • Perubahan pada kualitas warna, bau, dan tekstur urin (misalnya buram)

Cara Kerja Studi Urodinamik

Tindakan ini bergantung pada tes yang dilakukan:

  • Uroflowmetri – Ini adalah tes yang menilai laju aliran dan volume urin. Sederhananya, tes ini mengukur seberapa cepat Anda mengeluarkan urin. Tes ini menggunakan peralatan yang dirancang khusus yang mengukur volume dan kecepatan pengeluaran urin dan kemudian mengirim datanya ke komputer, yang akan menyajikan informasi dalam bentuk grafik. Tindakan ini dilakukan dengan sederhana: dalam kamar kecil, pasien diminta buang air kecil pada corong atau toilet khusus guna pengumpuloan urin.

  • Tes Sistometri – Tes ini adalah pemeriksaan yang lebih menyeluruh karena memberikan informasi yang lebih penting seperti tekanan kandung kemih. Tes ini melibatkan memasukkan kateter dengan manometer ke dalam kandung kemih dan dilakukan dengan bius lokal.

  • Elektromiografi – Tes ini cukup mirip dengan elektrokardiograf jantung, kecuali sensornya melekat pada kulit uretra atau rektum. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis aktivitas listrik dari saluran kemih bagian bawah. Tes ini dapat digunakan untuk mendiagnosa kerusakan saraf pada kandung kemih.

  • Pengukuran post-void sisa – Tes ini adalah pemeriksaan yang menentukan berapa banyak urin yang disimpan kandung kemih setelah buang air kecil. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan USG atau kateter, yang dimasukkan ke dalam kandung kemih.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Studi Urodinamik

Beberapa tes mungkin terasa tidak nyaman, terutama jika pasien diminta untuk mengisi kandung kemih. Ini berarti pasien perlu menahan keinginannya untuk buang air kecil. Penggunaan kateter juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman ringan beberapa kali ketika urin keluar setelah tindakan selesai. Dalam beberapa kasus, media kontras mungkin perlu ditelan. Hal ini diperlukan ketika tes menggunakan sinar-X atau video, yang menangkap gerakan kandung kemih saat buang air. Beberapa orang mungkin alergi terhadap media kontras. Pasien dengan masalah ginjal mungkin tidak mampu melakukan tindakan karena tubuhnya harus menghilangkan seluruh pewarna yang masuk.

Bagaimanapun, secara keseluruhan, studi urodinamik aman dan dilakukan oleh teknisi dan radiolog yang berlisensi. Doktor tidak perlu menganjurkan seluruh tes untuk membuat diagnosis. Semuanya tergantung pada gejala, catatan atau riwayat medis, dan tingkat kekhawatiran pasien.

Rujukan:

  • Nitti V. Urodynamic and videourodynamic evaluation of voiding dysfunction. In: Wein AJ, ed. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 62.

  • Lentz GM. Urogynecology: Physiology of micturition, voiding dysfunction, urinary incontinence, urinary tract infections and painful bladder syndrome. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, PA: Mosby Elsevier; 2012:chap 21.

Bagikan informasi ini: