Apa itu Pencabutan Kuku Anak?

Anak-anak dengan masalah kuku, seperti pertumbuhan kuku yang tidak semestinya atau infeksi parah, dapat menjalani tindakan untuk mencabut kuku mereka. Kondisi ini pada dasarnya termasuk bidang kedokteran kulit dan perlu segera diobati untuk menghindari komplikasi seperti rasa sakit yang hebat.

Siapa yang Perlu Menjalani Pencabutan Kuku Anak dan Hasil yang diharapkan

Pencabutan kuku anak perlu dilakukan jika masalah kuku yang ada tidak dapat lagi diobati dengan cara lain. Tindakan ini perlu dilakukan pada bayi, balita, anak-anak, atau remaja yang mengalami masalah berikut:

  • Kuku tumbuh ke dalam - Ini adalah kondisi umum yang ditandai dengan kuku yang tumbuh ke dalam daging. Hal ini biasanya memengaruhi salah satu sudut atau salah satu sisi kuku.

  • Cacat pada kuku - Beberapa anak dapat lahir dengan kuku cacat, seperti kuku yang berbukit, kuku berlubang, atau kuku yang menyerupai pemukul atau tongkat.

  • Cedera pangkal kuku - Ini memengaruhi jaringan antara kuku dan tulang. Jaringan ini bertanggung jawab untuk melindungi kuku, jari tangan, bahkan jari kaki dan memastikan kuku tumbuh normal. Cedera ini biasanya akibat terantuk pintu atau jari tertimpa benda berat.

  • Pertumbuhan kuku yang salah - Kadang-kadang, kuku dapat tumbuh secara tidak benar atau tidak normal, seperti keriting bukannya datar dan lurus.

  • Infeksi - Ada kasus di mana kuku dipengaruhi oleh bakteri, virus, atau infeksi jamur, yang dapat menyebabkan gejala dan merusak kuku, jika tidak diobati.

Setelah tindakan pencabutan kuku, pasien diharapkan akan menghilangkan gejala-gejala, termasuk:

  • Nyeri
  • Pembengkakan
  • Perdarahan
  • Kuku longgar
  • Memar jari atau memar di bawah kuku
  • Pudarnya warna atau menghitamnya kuku
  • Kuka di permukaan kuku


Tindakan pencabutan kuku perlu dilakukan untuk kondisi kuku yang disebutkan di agar kuku dapat tumbuh kembali dengan normal tanpa risiko infeksi.

Cara Kerja Pencabutan Kuku Anak

Sebelum melakukan tindakan, orangtua atau wali pasien akan diminta untuk menandatangani formulir persetujuan yang menyatakan bahwa mereka setuju untuk melaksanakan pengobatan. Sudah merupakan tanggung jawab dokter untuk memberitahu mereka tentang operasi terutama risiko dan manfaatnya sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat untuk anak mereka. Jika mereka membutuhkan informasi lebih lanjut sebelum menandatangani formulir persetujuan dengan yakin, bisa dijadwalkan konsultasi singkat dengan dokter.

Tindakan pencabutan kuku biasanya memakan waktu satu jam, sudah termasuk persiapan dan pemberian obat bius. Karena tindakan ini adalah tindakan rawat jalan, pasien diperbolehkan pulang setelah efek bius menghilang.

Sebelum tindakan dimulai, pasien akan diberikan biusi lokal. Merupakan hal yang wajar untuk merasakan rasa sakit ketika obat bius disuntikkan. Orangtua atau wali sebaiknya mempersiapkan anak untuk bagian ini.

Setelah bius bekerja, dokter akan memulai tindakan dengan membuat potongan dari atas sampai ke kutikula untuk dengan mudah mencabut kuku. Karena pasien berada di bawah pengaruh bius, maka tindakan ini tidak akan menyakitkan, tetapi pasien mungkin merasakan sedikiy tekanan ketika dokter melepas kuku. Kemudian obat akan ditaruh pada kuku sehingga mempercepat penyembuhan.

Setelah tindakan, daerah yang dibedah akan dibalut untuk membuatnya terlindung selama masa penyembuhan. Pasien biasanya diresepkan parasetamol untuk meredakan rasa sakit, yang mungkin terasa selama beberapa hari.

Orang tua akan diperbolehkan untuk pulang setelah mendapatkan petunjuk untuk merawat anak mereka. Selain itu, pasien disarankan untuk memakai kaus kaki katun, menghindari pemakaian sepatu ketat dan melakukan aktivitas berat seperti berlari atau berpartisipasi dalam olahraga sampai jari kaki sembuh sepenuhnya.

Untuk puluh sepenuhnya, pasien biasanya membutuhkan dua hingga empat minggu, tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan masalah. Setelah satu bulan, kuku mungkin masih terlihat sedikit lebih besar karena adanya sisa pembengkakan, yang mungkin memakan waktu empat sampai enam minggu agar bengkaknya menghilang. Pada periode ini, merupakan hal yang wajar untuk melihat lapisan keras kulit berkembang di pangkal kuku, yang akan digantikan oleh kuku yang sebenarnya dalam waktu tiga hingga enam bulan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pencabutan Kuku Anak

Setelah pencabutan kuku, pasien harus memperhatikan tanda-tanda infeksi, seperti:

  • Demam
  • Kedinginan
  • Kemerahan
  • Pembengkakan
  • Nanah atau kotoran
  • Warna biru atau hitam pada jari kaki atau seluruh kaki


Seperti tindakan lainnya, pencabutan kuku memiliki beberapa risiko, seperti:

  • Infeksi
  • Reaksi alergi terhadap obat bius
  • Rasa sakit yang hebat
  • Perdarahan hebat
  • Kekakuan jari atau jari kaki
  • Intoleransi terhadap temperatur dingin
  • Kambuh - Masalah sebelumnya, seperti pertumbuhan kuku yang salah, dapat terjadi lagi bersamaan dengan kuku baru yang tumbuh setelah pencabutan.
  • Kuku cacat – Masalah baru, seperti kuku yang tumbuh dengan cacat, yang sebelumnya tidak pernah, juga dapat terjadi; hal ini lebih umum terjadi jika tindakan pencabutan kuku dilakukan karena trauma atau cedera pada pangkal kuku.
  • Sindrom nyeri regional kompleks – Hal ini adalah reaksi sakit parah yang disertai dengan pembengkakan, kekakuan dan sensitivitas jari dan biasanya berhubungan dengan cedera kuku.


Untuk membantu mencegah komplikasi, orang tua dan wali akan diberikan petunjuk tentang cara untuk merawat jari yang telah dicabut kukunya. Petunjuk tersebut berisi tentang cara mengganti balutan dan membersihkan luka yang benar. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter, yang dijadwalkan sekitar dua minggu setelah operasi. Selama konsultasi lanjutan, dokter akan memeriksa kondisi kuku dan menilai apakah luka telah sembuh dengan benar dan sempurna.
Rujukan:

  • Buttaravoli P, Leffler S. Nail bed laceration. In: Buttaravoli P, Leffler SM, eds. Minor Emergencies. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2012:chap 146.

  • Eckhold J. Nail bed repair. In: Pfenninger JL, ed. Pfenninger and Fowler's Procedures for Primary Care. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2011:chap. 27.

Bagikan informasi ini: