Apa itu Ligasi Tuba Laparoskopik?

Ligasi tuba Laparoskopik adalah metode sterilisasi yang melibatkan menjepit, mengklip, atau “mengikat” tuba falopi melalui prosedur minim resiko.

Tidak seperti pria, setiap wanita menghasilkan sedikitnya satu juta telur dalam hidupnya setelah lahir. Telur ini disimpan dalam dua ovarium yang dapat ditemukan di setiap sisi perut bagian bawah. Ovarium tersebut terhubung ke tuba fallopi. Selama siklus menstruasi, telur dilepaskan dari salah satu indung telur dan melakukan perjalanan melalui tuba fallopi, di mana telur menunggu sperma pria. Jika pasangan memiliki hubungan seks tanpa kondom, pria akan mengeluarkan mani, yang berisi sperma. Sperma kemudian menuju tuba fallopi dan mencoba untuk bersatu dengan sel telur. Jika berhasil, maka sel telur tersebut dibuahi.

Telur dibuahi kemudian bergerak dari tuba fallopi ke uterus (rahim) di mana telur tersebut “menempel” atau mengimplan dirinya sendiri di dalam endometrium, yang merupakan lapisan rahim. Ketika telur tidak dibuahi, endometrium dilepaskan, yang mana mengakibatkan menstruasi. Hal ini juga dapat terjadi ketika telur yang dibuahi tidak tertanam dengan benar ke endometrium.

Jika berhasil dalam implantasi, tubuh kemudian menghasilkan hormon yang disebut dengan hCG (human chorionic gonadotropin) untuk menghentikan proses menstruasi. Ini juga merupakan hormon yang diukur dalam tes kehamilan.

Beberapa wanita, bagaimanapun, ingin menjalakan program keluarga berencana dengan mencegah kehamilan. Salah satu metode yang paling populer adalah ligasi tuba. Proses ini bukan berarti bahwa tubuh berhenti melepaskan telur atau wanita tidak lagi mengalami menstruasi; proses ini sederhananya adalah mengikat tabung untuk mencegah sperma membuahi sel telur.

Dalam operasi laparoskopi, sayatan kecil diperlukan untuk memungkinkan sebuah instrumen tipis dan panjang yang dikenal sebagai laparoskop untuk dimasukkan ke dalam tubuh. Laparoskop dilengkapi dengan kamera dan lampu yang menerangi jalan dan mengirimkan gambar visual yang jelas dari sistem reproduksi wanita ke layar komputer selama operasi. Dokter kemudian dapat melakukan prosedur dengan akurasi yang lebih tinggi dan waktu pengerjaan lebih singkat.

Siapa yang Perlu Menjalani Ligasi Tuba Laparoskopik dan Hasil yang Diharapkan

Sebuah ligasi tuba adalah pilihan sterilisasi bagi kaum wanita. Wanita memilih prosedur ini untuk mencegah kehamilan tanpa mengorbankan kehidupan seks mereka. Beberapa wanita juga lebih memilih hal ini daripada mengenakan intrauterine device (IUD) atau pil KB dengan asupan harus dipantau dan diikuti dengan ketat. Jika tidak, kelalaian dapat mengakibatkan kehamilan.

Kadang-kadang ligasi tuba dianjurkan bagi wanita yang rentan terhadap kehamilan berisiko tinggi. Sebagai contoh, beberapa wanita mungkin menderita pre-eklampsia, di mana tekanan darah meningkat selama kehamilan, atau eklampsia, yang dapat menyebabkan kejang sebelum dan sesudah kehamilan. Kondisi ini dapat sering muncul selama masa kehamilan, yang mana dapat menempatkan kehidupan bayi dan sang ibu dalam bahaya. Untuk mencegah terjadinya hal ini, ligasi tuba menjadi pilihan yang dapat menyelamatkan jiwa.

Dengan ligasi tuba laparoskopik, wanita diharapkan pulih lebih cepat karena kecilnya sayatan dan rendahnya risiko infeksi. Operasi itu sendiri tidak harus menunda proses pemulihan pasca persalinan, termasuk ketika seorang wanita menjalankan prosedur operasi Caesar. Hal ini juga tidak akan menimbulkan masalah seksual atau proses menstruasi.

Namun, operasi semacam ini tidak cocok bagi semua wanita. Mereka yang memiliki banyak jaringan bekas luka mungkin akan lebih baik melakukan laparotomi, yang membutuhkan sayatan perut yang lebih besar.

Cara Kerja Ligasi Tuba Laparoskopik

Ligasi tuba, termasuk operasi laparoskopi, dapat dilakukan segera setelah wanita melahirkan, saat masih di ruang bersalin atau dapat memilih untuk melakukannya pada saat yang paling nyaman.

Dalam prosedur ini, pasien diberikan anestesi umum melalui garis intravena yang melekat di vena lengan untuk meminimalkan rasa sakit dan ketidaknyamanan. Sebuah perangkat masuk melalui vagina kemudian digunakan untuk mengubah posisi rahim sementara dan memungkinkan untuk mengakses tuba fallopi dengan mudah.

Kemudian, dokter bedah akan membuat sayatan kecil di perut bagian bawah, hanya beberapa inci di bawah pusar, di mana laparoskop yang lentur dimasukkan. Ahli bedah kemudian memonitor organ melalui layar komputer lalu menggerakkan laparoskop ke arah yang berbeda-beda. Daerah ini juga diperluas untuk memungkinkan tampilan yang lebih baik.

Ketika siap melakukan operasi, ahli bedah membuat sayatan kecil lain dekat daerah kemaluan untuk mengakses tuba fallopi. Menggunakan beberapa instrumen bedah kecil, tabung kemudian diikat dengan cara menjepit atau mengklip. Tabung juga dapat dipotong. Ketika prosedur selesai, sayatan dijahit dan daerah ditutupi dengan perban.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Ligasi Tuba Laparoskopik

Ligasi tuba umumnya adalah prosedur yang aman, apalagi jika melalui operasi laparoskopi.Ketika semua operasi memiliki risiko, operasi jenis ini minim risiko karena kecilnya sayatan. Dengan sayatan kecil, pasien sembuh lebih cepat, sehingga menurunkan kemungkinan infeksi dan juga minim perdarahan.

Meskipun tujuan dari ligasi tuba adalah untuk mencegah kehamilan, namun hal tersebut dapat terjadi walaupun langka kemungkinannya. Jika hal ini terjadi, maka hal ini dapat menyebabkan kehamilan ektopik, di mana janin tumbuh di luar rahim seperti tuba fallopi. Dengan ligasi tuba, telur yag dibuahi dicegah untuk melakukan perjalanan ke rahim di mana ia dapat menempelkan dirinya ke dinding. Tidak hanya bayinya mati, tetapi juga tuba fallopi beresiko pecah dan hal ini dapat mengakibatkan pendarahan serius.

Beberapa wanita juga melaporkan perasaan tertekan setelah ligasi tuba, hal ini mungkin karena mereka berpikir bahwa mereka tidak bisa melahirkan anak lagi. Prosedur ini dapat dibalik, tapi harus hati-hati untuk memastikan bahwa hal ini adalah keputusan sukarela dan diterima oleh pasien. dokter kandungan dan ginekolog sering tidak merekomendasikan hal ini kepada wanita yang masih muda atau telah melalui perceraian karena mereka mungkin ingin menikah lagi dan memiliki anak dengan pasangan baru mereka.

Rujukan:

  • Jensen JT, Mishell DR Jr. Family planning: contraception, sterilization, and pregnancy termination. In: Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, Katz VL, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 20
Bagikan informasi ini: