Apa itu Evaluasi Ketidakmampuan?

Evaluasi ketidakmampuan adalah penilaian ketidakmampuan yang dialami pasien, terutama tingkat keparahannya dan pengaruhnya pada kualitas hidup pasien. Evaluasi ini dilakukan agar pihak yang berkepentingan seperti pemerintah dan dokter dapat memberikan bantuan atau melakukan intervensi, apabila dibutuhkan.

Ketidakmampuan tidak boleh disalahartikan dengan cacat. Cacat adalah perubahan yang signifikan atau berhentinya fungsi tubuh normal, baik secara fisik ataupun mental. Sedangkan yang dimaksud dengan ketidakmampuan adalah efek dari cacat tersebut bagi pasien. Hal ini berarti cacat tidak selalu menyebabkan ketidakmampuan seseorang. Banyak orang cacat yang dapat beraktivitas dengan normal.

Untuk dikategorikan sebagai orang yang tidak mampu, pasien harus mengalami cacat yang sangat parah sampai membatasi pergerakan dan kemampuan inderanya. Cacat yang dialami juga harus mengurangi kualitas hidup secara signifikan atau menyebabkan risiko kematian yang lebih tinggi dari populasi umum. Ketidakmampuan juga dapat dikategorikan menjadi jangka panjang atau jangka pendek, sementara atau permanen, serta sebagian atau total.

Ketidakmampuan dapat terjadi secara mendadak, misalnya saat seseorang mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera yang serius, atau penyakit kronis atau degeneratif (mis. penyakit Alzheimer). Orang yang tidak mampu akan membutuhkan bantuan yang konsisten dan berkelanjutan agar mereka bisa mendapatkan perawatan yang sesuai, akses pada dokter yang baik, kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup, dan lain-lain.

Siapa yang Harus Menjalani Evaluasi Ketidakmampuan dan Hasil yang Diharapkan

Seseorang yang diyakini atau telah didiagnosis memiliki cacat harus menjalani evaluasi atau penilaian ketidakmampuan. Cacat yang dialami pasien tidak hanya terbatas pada kemampuan fisiknya, melainkan juga meliputi kemampuan psikis, mental, atau sosial, misalnya di dalam kasus di mana pasien dengan gangguan mental seperti depresi atau skizofrenia.

Pasien yang telah didiagnosis dengan penyakit kronis atau telah mengalami cedera yang parah, seperti patah tulang atau cedera otak juga harus menjalani evaluasi ketidakmampuan. Kondisi-kondisi tersebut dapat memburuk seiring berjalannya waktu, atau pasien dapat terus merasakan efek samping dari pengobatannya walaupun pengobatan sudah lama dihentikan. Kedua hal tersebut dapat mengurangi kualitas hidup pasien atau meningkatkan risiko kematian.

Evaluasi ketidakmampuan juga dibutuhkan oleh mereka yang ingin memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan oleh fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan pusat rehabilitasi, serta program pemerintah, termasuk Jaminan Sosial. Evaluasi ini akan menjadi salah satu cara untuk mengetahui apakah seseorang berhak mendapatkan bantuan dan jumlah bantuan yang bisa ia dapatkan. Karena pemerintah memiliki banyak program ketidakmampuan, evaluasi ini juga dapat digunakan untuk menentukan jenis tindakan intervensi atau layanan medis yang paling sesuai bagi seseorang.

Evaluasi ketidakmampuan tidak selalu digunakan untuk mengukur ketidakmampuan seseorang. Namun, evaluasi ini juga dapat digunakan untuk mengawasi kondisi pasien, apakah kondisinya bertambah baik atau buruk. Evaluasi ketidakmampuan hanya boleh dilakukan oleh ahli kesehatan dan staf kesehatan yang berlisensi, diakui atau ditunjuk oleh pemerintah, dan sudah terlatih.

Ahli kesehatan yang melakukan evaluasi untuk Jaminan Sosial harus sangat memahami berbagai jenis program ketidakmampuan yang dimiliki oleh Administrasi Jaminan Sosial, terutama tentang ketidakmampuan yang dikategorikan sebagai ketidakmampuan akibat cacat.

Cara Kerja Evaluasi Ketidakmampuan

Tergantung pada program, ada beberapa panduan yang digunakan untuk mengevaluasi ketidakmampuan seseorang. Sebagai contoh, untuk Administrasi Jaminan Sosial, ahli kesehatan akan melakukan penilaian yang berdasarkan bukti medis. Bukti ini bisa didapatkan dari orang yang mengajukan permohonan atau pasien dengan ketidakmampuan, rumah sakit, klinik, dan fasilitas kesehatan lainnya. Dalam kasus yang melibatkan anak, ada kemungkinan riwayat sekolah juga akan diminta. Dokter yang menangani pasien juga akan memberikan dokumen kesehatan yang dibutukan ke lembaga ini.

Lembaga Jaminan Sosial juga dapat menerima bukti kesehatan dari sumber lain, seperti kesaksian dari perawat, atasan, teman kerja, pekerja sosial, orangtua, dan ahli kesehatan yang pernah menangani pasien yang cacat secara tidak langsung.

Laporan kesehatan dari pasien dapat meliputi hasil laboratorium, hasil klinis, dan riwayat kesehatan. Karena tujuan utama dari evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa parah cacat memengaruhi hidup pasien, pasien kemungkinan juga akan diminta untuk memberi pernyataan tentang bagaimana kecacatannya memengaruhi aktivitas sehari-harinya atau kemampuannya secara umum.

Proses pengajuan permohonan Jaminan Sosial adalah:

  • Pasien yang cacat mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan ketidakmampuan, yang bisa dilakukan secara online atau melalui email maupun telepon.

  • Kemudian, permohonan tersebut akan diperiksa kelengkapannya oleh kantor cabang. Apabila sudah lengkap, maka permohonan tersebut akan dikirimkan ke Layanan Penentuan Ketidakmampuan, yang akan melakukan evaluasi ketidakmampuan dengan bukti medis. Lembaga ini juga bertugas untuk mencari bukti tambahan tentang ketidakmampuan pasien apabila dokumen yang diberikan oleh pemohon tidak mencukupi. Proses in meliputi pemeriksaan konsultasi, di mana pasien dapat dirujuk ke ahli independen (dokter atau ahli kesehatan), yang akan melakukan konsultasi.

  • Apabila pemohon dinilai tidak mampu, maka permohonan akan dikirimkan kembali ke Administrasi Jaminan Sosial, yang kemudian akan melakukan tindakan yang dibutuhkan, termasuk memberikan bantuan yang sesuai.

Untuk mengevaluasi ketidakmampuan seorang anak, prosesnya adalah sebagai berikut:

Orangtua atau pihak sekolah akan meminta dilakukannya evaluasi berdasarkan IDEA (Individuals with Disabilites Education Act). Apabila permohonan evaluasi diajukan oleh pihak sekolah, maka sekolah harus memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada orangtua, dan orangtua harus memberikan ijin. Evaluasi harus dilakukan dalam jangka waktu 60 hari setelah orangtua memberikan ijin. Berdasarkan IDEA, evaluasi anak dapat dilakukan dalam hal kemampuan akademik, kesehatan, pendengaran, penglihatan, status sosial, kesehatan emosional, kemampuan motoric, dan kemampuan berkomunikasi.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Evaluasi Ketidakmampuan

Proses evaluasi dapat memakan waktu yang lama dan menyebabkan stres. Selain itu, hasil dari evaluasi tidak selalu sesuai dengan harapan pasien. Hal ini berarti seseorang yang berusaha untuk mengajukan permohanan Jaminan Sosial bisa saja tidak mendapatkannya, terutama apabila ia tidak sesuai dengan kriteria atau definisi dari ketidakmampuan yang telah ditentukan. Walaupun begitu, program seperti ini biasanya memberikan waktu yang cukup untuk mengajukan keberatan atau melakukan permohonan ulang di kemudian hari.

Rujukan:

  • Council for Disability Awareness: "Preparing for Disability: Financial Impact," "CDA 2010 Consumer Disability Awareness Survey: Disability Divide," "Chances of Disability," " CDA Research and White Papers."
Bagikan informasi ini: