Apa itu Cardioversion?

Jantung kita berdetak sebanyak 70 sampai 100 kali setiap menitnya bagi orang dewasa dan sekitar 60 sampai 100 per menitnya bagi anak-anak saat kondisi istirahat. Detak jantung ini dianggap ideal untuk menjaga organ tubuh agar berfungsi sebagaimana mestinya dan saat seseorang sedang tidak berolahraga. Jika jantung berdetak terlalu cepat dan berdetak dalam interval yang tidak teratur bahkan saat istirahat, maka kondisi ini disebut arrhythmia. Jika tidak segera ditangani, kondisi dapat membuat komplikasi serius.

Cardioversion adalah proses yang memaksa jantung untuk berdetak dalam ritme yang normal dengan menggunakan obat-obatan atau alat elektrik. Proses ini biasa digunakan dalam perawatan atrial fibrillation, atrial flutter, atrial tachycardia, and ventricular tachycardia.

Cardioversion biasanya dilakukan di rumah sakit. Dokter akan memaksa jantung agar berdetak secara normal menggunakan obat-obatan. Jika langkah ini gagal, maka dokter akan memberikan kejut listrik untuk “menyalakan kembali” jantung pasien tersebut. Cardioversion elektrik biasanya akan menghabiskan 30 menit dan dilakukan saat pasien sedang tertidur. Pasien biasanya akan terbangun dengan kejut tersebut, tapi kemungkinan tidak akan mengingat tindakan tersebut sama sekali.

Siapa yang Memerlukan Cardioversion dan Hasil yang Diharapkan

Memiliki detak jantung yang tidak teratur biasanya adalah kondisi yang berbahaya. Meskipun tidak semuanya langsung mengancam nyawa, kemungkinan kondisi tersebut akan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius jika tidak segera ditangani.

Tidak semua orang dengan kondisi detak jantung tidak teratur akan menunjukkan gejalanya. Namun, bagi mereka yang menunjukkan gejala dari arrhtyhmia biasanya akan merasakan kelelahan dan napas yang pendek. Beberapa di antaranya bahkan akan pingsan.

Jika kau merasakan jantung anda berdetak dalam ritme yang abnormal, Anda perlu segera mengatur jadwal kunjungan ke dokter anda, meskipun Anda tidak merasakan gejala apapun. Membiarkan kondisi tersebut tidak ditangani akan membuat serangkaian komplikasi, seperti pembentukan pembekuan darah, yang akan menghalangi aliran darah yang normal melalui jantung, yang akan membuat berbagai organ tubuh tidak menerima asupan darah kaya oksigen.

Cara Kerja Cardioversion

Jika dokter memastikan bahwa Anda mengalami ritme detak jantung yang tidak normal, maka dokter akan mencoba untuk membuat detak jantung anda normal kembali menggunakan cardioversion dengan obat-obatan, yang juga disebut sebagai pharmacologic atau cardioversion kimia.

Bagi sebagian orang, obat-obatan mungkin cukup untuk mengatasi masalahnya. Sayangnya, dalam beberapa kasus, cardioversion elektrik mungkin akan diperlukan. Untuk cardioversion elektrik, pasien akan dibuat tertidur menggunakan obat penenang sehingga pasien tidak akan merasakan rasa sakit atau tidak nyaman selama tindakan berlangsung.

Kemudian, dokter akan memberikan kejut listrik pada jantung menggunakan dua buah alat kejut yang akan ditekan pada dada. Dalam beberapa kasus, salah satu alat kejut akan dipasang di dada sedangkan satu alat lagi akan ditaruh di punggung. Kejutan listrik akan dialirkan melalui alat tersebut, yang hanya akan berlangsung kurang lebih dari satu detik.

Kejutan listrik akan menghentikan jantung untuk sesaat dan jantung akan berfungsi dan berdetak kembali. Beberapa pasien hanya akan memerlukan satu kejutan saja untuk mengembalikan detak jantung agar normal kembali, tetapi sebagian pasien lain mungkin memerlukan lebih dari satu kejutan.

Kejutan tersebut biasanya akan membuat pasien untuk langsung terbangun, tetapi biasanya mereka tidak akan ingat pada kejutan tersebut saat terbangun. Mungkin akan memerlukan beberapa menit sebelum detak jantung kembali normal.

Kemungkikan Komplikasi dan Resiko Cardioversion

Meskipun cardioversion, terutama cardioversion elektrik, adalah salah satu cara yang paling baik untuk mengembalikan detak jantung menjadi normal kembali, ada kemungkinan berbagai komplikasinya. Misalnya, jika jantung yang memiliki ritme detak yang tidak normal untuk beberapa waktu, kemungkinan besar ada penyumbatan pembuluh darah di serambi kiri jantung. Cardioversion elektrik akan menggerakkan penyumbatan pembuluh darah tersebut, yang kemudian akan bergerak ke otak dan menyebabkan stroke.

Untuk mencegah terjadinya kemungkinan ini, dokter akan memberikan resep obat-obatan yang perlu dikonsumsi selama dua sampai tiga minggu sebelum tindakan dilakukan. Obat-obatan tersebut akan mencegah terjadinya pembentukan penyumbatan pembuluh darah. Kemudian, dokter juga mungkin akan perlu melakukan tindakan yang disebut transesophageal echocardiography (TEE) untuk memastikan ada atau tidaknya pembekuan pembuluh darah sebelum melakukan cardioversion elektrik.

Kejutan listrik yang dikirim untuk tubuh akan sedikit membuat iritasi kulit. Ini merupakan sesuatu yang normal dari tindakan cardioversion elektrik, sehingga dokter akan memberikan krim untuk mengurangi iritasi kulit tersebut.

Meskipun cardioversion merupakan cara yang efektif untuk mengembalikan detak jantung menjadi normal kembali, cara ini tidak selalu efektif. Jika tindakan ini gagal membuat ritme jantung pasien menjadi normal, maka cara perawatan lain, seperti implantable cardioverter defibrillator (ICD) atau obat-obatan lain akan digunakan.

Rujukan:

  • Epstein AE, DiMarco JP, Ellenbogen KA, et al. 2012 ACCF/AHA/HRS focused update incorporated into the ACCF/AHA/HRS 2008 guidelines for device-based therapy of cardiac rhythm abnormalities: a report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines and the Heart Rhythm Society. J Am Coll Cardiol. 2013 Jan 22;61(3):e6-75.

  • Lafuente-Lafuente C, Mah I, Extramiana F. Management of atrial fibrillation. BMJ. 2009; 339:b5216. doi: 10.1136/bjm.b5216.

  • Miller JM, Zipes DP. Therapy for cardiac arrhythmias. In: Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, Libby P. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 37.

Morady F. Electrophysiologic interventional procedures and surgery. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 66.

Bagikan informasi ini: