Apa itu Induksi Ovulasi?

Seperti namanya, induksi ovulasi adalah proses yang merangsang ovulasi perempuan melalui penggunaan obat. Tindakan ini adalah bentuk terapi hormonal yang meningkatkan pembentukan ovum, atau telur, serta pengeluarannya. Proses ini sebagian besar dilakukan untuk meningkatkan kemampuan reproduksi pasien, namun juga dapat dianjurkan untuk pasien perempuan yang tidak atau tidak dapat melakukan ovulasi sendiri. Pasien ideal untuk tindakan ini termasuk pasien perempuan dengan siklus menstruasi yang tidak teratur seperti pasien yang menderita endometriosis dan kondisi serupa lainnya.

Pada bidang terapi kesuburan, induksi ovulasi dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah telur yang matang di dalam tubuh pasien dalam satu siklus, dan dengan demikian meningkatkan tingkat kesuksesan fertilisasi dan pembuahan. Pada pasien yang ingin menormalkan siklus menstruasinya, induksi ovulasi dapat menghasilkan sel telur yang sehat.

Pasien penderita PCOS, atau sindrom ovarium polikistik, juga dapat memanfaatkan induksi ovulasi, bahkan jika tidak mencari terapi kesuburan. Pasien PCOS sering menderita siklus menstruasi yang tidak teratur, bertambahnya rambut atau bulu, dan masalah hormonal lainnya, yang dapat disembuhkan dengan obat yang digunakan dalam tindakan ini.

Banyak orang mengira induksi ovulasi adalah hiperstimulasi ovarium terkontrol, yaitu tindakan yang agak mirip (obat yang digunakan dalam kedua tindakan adalah obat yang sama). Namun, tidak seeperti halnya hiperstimulasi ovarium terkontrol, induksi ovulasi dapat dilakukan pada pasien yang ingin mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan hormonalnya, dan pasien yang ingin meningkatkan peluang kehamilannya.

Siapa yang Perlu Menjalani Induksi Ovulasi dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang menderita masalah hormonal seperti PCOS dapat menjalani tindakan ini. Ketika seorang pasien menderita kondisi ini, hormonnya menjadi tidak seimbang, dan dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari ketidakteraturan siklus menstruasi hingga masalah kesuburan. Sindrom ini juga dapat menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan pada penampilan fisik seseorang, dan akhirnya menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius, seperti penyakit jantung dan diabetes.

Pada pasien dengan PCOS, ovariumnya menghasilkan jumlah androgen atau hormone seks pria yang terlalu sedikit. Tingkat ketidakseimbangan androgen dan estrogen dapat menyebabkan jerawat, bulu wajah dan tubuh yang berlebihan, dan terganggunya proses ovulasi.

Perempuan yang menderita masalah ketidaksuburan juga dapat menjalani terapi ini untuk memastikan lebih banyak telur yang matang, sehingga meningkatkan kemungkinan kehamilan. Jika pasien mengalami gejala PCOS seperti jerawat, peningkatan berat badan yang berlebihan, tebal, dan rambut lebih hitam pada wajah atau bagian tubuh lainnya, rambut menipis pada kepala, siklus menstruasi tidak teratur, dan masalah kesuburan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan. Induksi ovulasi, bila dilakukan dengan benar, dapat menyembuhkan semua masalah di atas.

Cara Kerja Induksi Ovulasi

Induksi ovulasi pada dasarnya adalah sebuah terapi hormon yang melibatkan penggunaan obat-obatan. Langkah pertama dalam metode pengobatan ini adalah berkonsultasi dengan dokter kandungan yang dapat meminta beberapa pemereiksaan pencitraan (seperti USG untuk memastikan penyebab siklus menstruasi yang tidak teratur dan masalah ketidaksuburan. Dokter kemudian akan meresepkan obat tertentu untuk mengatasi masalah ini.

Di antara resep obat mungkin pasien akan menerima obat meliputi Clomid (clomiphene citrate atau Serophene), gonadotropin suntik, Femara atau letrozole (yang pada dasarnya adalah aromatase inhibitor), hormon perangsang folikel suntik, bromocriptine, dan pompa GnRH.

Ketika gonadotropin digunakan, dokter juga akan menggunakan tindakan USG vagina untuk memantau respon pasien terhadap obat dan memeriksa jumlah folikes yang muncul dalam ovarium dan tingkat kematangannya. Jika pasien ingin meningkatkan kesuburannya, dokter dapat menyuntikkan hormon lain, yang dikenal sebagai hCG (human Chorionic Gonadotrophin) untuk memicu pengembangan akhir dan melepaskan sel telur. Kemudian, dokter akan menganjurkan pasien untuk melakukan hubungan seksual pada saat sel telur dilepaskan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Induksi Ovulasi

Obat-obat yang digunakan dalam induksi ovulasi dapat menyebabkan berbagai efek samping. Misalnya, Clomid dapat menyebabkan rasa panas, kembung, dan rasa tidak nyaman pada daerah perut selama ovulasi. Pada kasus yang jarang, pasien melaporkan rasa kelelahan yang berlebihan, muntah, mual, sakit kepala, pusing, dan sensasi kepala ringan.

Di sisi lain, folikel yang merangsang hormon dapat menyebabkan perubahan suasana hati, nyeri pada payudara, kram perut, kembung, dan mual. Efek samping ini dapat dianggap normal karena tubuh sedang menyesuaikan kembali tingkat hormonnya, sebagaimana yang dilakukan oleh obat.

Peningkatan jumlah folikel matang pada ovarium mungkin diinginkan oleh kebanyakan pasangan, namun hubungan seksual yang normal tidak akan disarankan oleh dokter jika jumlah folikel yang matang tumbuh terlalu banyak. Jumlah folikel matang yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar, yang mungkin bukanlah hasil yang diinginkan pasangan.

Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa obat kesuburan, seperti penggunaannya pada induksi ovulasi, dapat dikaitkan dengan kanker pada leher rahim, ovarium, dan payudara.

Rujukan:

  • Falcone T. Women's health. In: Carey WD, ed. Cleveland Clinic: Current Clinical Medicine 2010. 2nd ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2010:section 14.

  • Fritz MA, Speroff L. Induction of ovulation. Speroff L, Fritz MA, eds. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. 8th ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2011:chap 31.

Bagikan informasi ini: