Apa itu Perawatan Botox

Perawatan Botox adalah salah satu prosedur anti-penuaan yang paling populer saat ini, ini dilakukan untuk menghilangkan atau meminimalisir munculnya kerutan dan tanda penuaan lainnya. Prosedur minimal invasif ini menggunakan toksin dari bakteri yang disebut Clostridium botulinum. Saat digunakan dalam dosis kecil, toksin ini mampu menyingkirkan kerutan kulit tanpa menyebabkan efek samping yang buruk. Ini bekerja dengan melemahkan atau melumpuhkan otot-otat yang menyebabkan kerutan atau dengan menghambat saraf tertentu untuk berkontraksi. Tiap perawat botox anti penuaan dapat membuat wajah bebas dari kerutan selama 12 bulan.

Siapa yang Perlu Menjalani Perawatan Botox & Hasil yang Diharapkan

Botox digunakan secara luas dalam perawatan kecantikan. Ini direkomendasikan untuk invidu yang ingin menghilangkan atau meminimalisir munculnya kerutan dan garis wajah lainnya, seperti:

  • Kaki gagak atau garis di sekitar sudut mata
  • Garis kerutan atau lipatan dalam yang terbentuk di sekitar alis mata
  • Alur dahi atau garus yang muncul saat alis dinaikkan

Obat Botox paling efektif sebagai prosedur pencegahan atau saat digunakan pada kerutan yang belum terlihat sama sekali. Ini disebut kerutan dinamis yang muncul saat seseorang menggerakan wajahnya. Perawatan ini juga dipercaya dapat mencegah kerutan, atau paling tidak memperpanjang waktu sebelum kerutan kembali.

Pasien yang menjalani perawatan Botox untuk alasan kecantikan dapat mengharapkan kerutan dan garis wajahnya menghilang sekitar empat sampai enam bulan. Setelah itu, mereka dapat memilih untuk mendapatkan suntikan Botox lagi untuk memperpanjang efeknya. Banyak orang lebih memilih Botox dibandingkan perawatan wajah lainnya seperti pengencangan wajah karena ini minimal invasif dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Setelah prosedur, pasien dapat kembali melakukan aktivitas normal. Satu-satunya peringatan adalah menghindari mengusap atau memijat bagian yang diobati untuk mencegah toksin berpindah ke bagian lain.

Meskipun menggunakan toksin, perawatan Botox dianggap aman dan telah digunakan bertahun-tahun untuk perawatan neurologis dan optalmologis. Selain manfaat kecantikannya, Botox juga dapat digunakan untuk mengobati kondisi tertentu yang penyebab utamanya adalah kontraksi otot. Perawatan Botox dapat menghilangkan gejala dengan melemaskan otot yang menyebabkan masalah dari awal. Ini termasuk:

  • Migrain Kronis
  • Distonia Serviks
  • Hiperhidrosis
  • Disfungsi Kandung Kemih atau Kandung Kemih Terlalu Aktif
  • Blepharospasm atau Berkedip Tidak Terkendali
  • Strabismus atau Juling
  • Kontraksi Otot
  • Cerebral Palsy (sebuah kondisi neurologis di mana otot berkontraksi menarik di anggota badan seseorang menuju pusat tubuhnya)
  • Keringat Ketiak Berlebihan

Cara Kerja Perawatan Botox

Sebelum perawatan dilakukan, pasien dapat memilih untuk mematirasakan kulitnya untuk mencegah rasa tidak nyaman. Yang bisa dilakukan dengan:

  • Menyuntikkan obat pemati rasa
  • Mengaplikasikan krim pemati rasa sejam sebelum prosedur dilakukan
  • Mengarahkan semprotan air dingin ke area target selama 10 menit

Perawatan Botox sederhana dan cepat. Yang melibatkan penyuntikkan toksin botulinum dalam dosis kecil dan terkendali ke area kunci di sekitar kerutan menggunakan jarum kecil. Tergantung area target dan tujuan dari tindakan tersebut, lebih dari satu suntikan mungkin diperlukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Prosedur ini sangat efektif karena toksin mampu melemaskan otot. Saat digunakan untuk tujuan menghilangkan kerutan, zat ini melemaskan otot yang berkontraksi setiap seseorang menggerakan wajahnya, seperti tersenyum, cemberut, atau tertawa. Dengan suntikan botox, otot wajah menjadi rileks dan kulit menjadi lembut dan tanpa kerutan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perawatan Botox

Di bawah ini adalah efek samping yang biasanya berhubungan dengan prosedur ini:

  • Bengkak atau memar di bagian yang disuntik
  • Sakit kepala
  • Gejala seperti flu

Penting bagi pasien untuk memilih dokter kecantikannya secara hati-hati untuk melakukan perawatan ini. Dokternya harus yang berpengalaman, memiliki lisensi, terampil untuk menghindari resiko dan komplikasi seperti:

  • Senyum miring
  • Kelopak mata turun
  • Alis mata turun
  • Mata kering
  • Air mata berlebih

Ini dapat muncul saat botulinum toksin memengaruhi jaringan di sekitarnya yang seharusnya tidak termasuk dalam perawatan.

Selain itu, karena bahan utama dalam perawatan ini adalah toksin, selalu ada resiko keracunan makan yang dapat terjadi saat toksin menyebar ke bagian tubuh lain. Ini memunculkan gejala yang sama, seperti yang disebabkan botulisme, seperti:

  • Masalah pengelihatan
  • Melemahnya otot di seluruh bagian tubuh
  • Kesulitan berbicara
  • Kesulitan menelan
  • Masalah pernapasan
  • Hilangnya kontrol terhadap kandung kemih

Pasien yang sedang hamil dan menyusui disarankan untuk tidak melakukan Botox karena suntikan ini dapat berbahaya bagi kesehatan bayi.

Rujukan:

  • American Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery: "Botox and Facial Fillers -- Non-Surgical Rejuvenation."
Bagikan informasi ini: