Apa itu Skleroterapi?

Skleroterapi adalah prosedur medis berbantu ultrasound untuk menyuntikkan larutan garam ke dalam vena agar menyusut dan mengempis. Seperti halnya radiofrekuensi dan ablasi laser, skleroterapi digunakan untuk mengobati malformasi vaskular dan limfatik, seperti vena venula dan varikose, bahkan wasir.

Siapa yang Perlu Menjalani Skleroterapi dan Hasil yang Diharapkan

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa skleroterapi adalah prosedur untuk pasien dengan kondisi malformasi vaskular atau vena, seperti varises dan wasir. Skleroterapi seringkali dilakukan bila pasien mengalami gejala, seperti bengkak, sensasi terbakar, dan kram di malam hari. Prosedur ini juga bisa direkomendasi pada pasien yang merasa terganggu dengan kehadiran vena venula atau varises.

Dalam prosedur ini, larutan sklerosan dimanfaatkan untuk mengecilkan vena yang membengkak dan menutup vena pengumpan atau vena retikuler secara berkala, sehingga meminimalisir kecenderungan untuk kambuh. Oleh karena itu, prosedur ini lebih diutamakan dibanding terapi laser.

Cara Kerja Skleroterapi

Sebelum menjalani skleroterapi, pasien diarahkan untuk menjalani pemeriksaan fisik total dan evaluasi vena secara menyeluruh, biasanya dengan pencitraan ultrasound. Tujuannya adalah untuk mendeteksi adanya penyakit pembuluh darah dan penyakit lain, ataupun alergi yang dapat menghambat prosedur.

Kemudian, dokter melanjutkan dengan menyuntikkan larutan sklerosan secara perlahan dan langsung ke dalam vena dengan menggunakan jarum halus (30-gauge). Setiap suntikan mengandung 0,1-0,4 ml larutan atau zat sklerosan dan disuntikkan setiap 2-3 cm hingga seluruh pembuluh terobati.

Tiga jenis sklerosan utama, yaitu:

Deterjen, bekerja merusak membran sel vena

  • Sodium tetradecyl sulfate, ini adalah zat yang paling umum digunakan
  • Polidocanol
  • Sodium morrhuate
  • Ethanolamine oleate


Bahan osmotik, merusak sel dengan mengubah keseimbangan air di dalamnya

  • Hypertonic sodium chloride solution (larutan natrium klorida hipertonik)
  • Sodium chloride (garam) dengan dekstrosa


Larutan berbahan kimia, bekerja merusak dinding sel dengan menghancurkan endotelium

  • Chromated glycerin
  • Polyiodinated iodine


Setelah seluruh zat disuntikkan, jarum suntik perlahan dikeluarkan dan area pengobatan akan ditekan dengan pembalut atau stocking varises (graduated compression stocking). Lalu, pasien dianjurkan untuk mengikuti latihan yang bertujuan memperkuat kaki bagian bawah, tapi tidak boleh melakukan gerakan-gerakan agresif selama kurang lebih 4 minggu.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Skleroterapi

Meski sederhana dan merupakan prosedur non-invasif yang efektif menghilangkan varises, skleroterapi memiliki komplikasi tersendiri. Komplikasi yang terjadi dimulai dari efek samping sementara yang bisa sembuh dengan sendirinya hingga efek samping yang lebih berat dan memerlukan pengobatan.

Efek samping sementara, yang berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bahkan bulan dan tahun untuk benar-benar hilang, di antaranya:

  • Area memerah membesar
  • Luka kecil di kulit
  • Memar
  • Terlihat banyak pembuluh darah kecil berwarna merah di permukaan kulit
  • Pigmentasi atau kulit menjadi lebih gelap
  • Garis-garis atau bercak-bercak di kulit


Sedangkan komplikasi yang lebih serius dan memerlukan pengobatan, termasuk:

  • Gumpalan darah
  • Radang
  • Reaksi alergi terhadap zat yang digunakan, yang dapat menyebabkan urtikarial atau anafilaksis
  • Gelembung udara dalam aliran darah
  • Edema
  • Trombosis vena dalam
  • Infark miokard


Pemakaian stocking varises berkekuatan 30 mm/Hg dapat membantu mengurangi resiko serius ini. Stocking harus digunakan setiap hari selama 3 minggu, terhitung sejak malam pertama setelah menjalani skleroterapi.



Rujukan:

  • Alaiti, S. “Sclerotherapy treatment and management.” Medscape. http://emedicine.medscape.com/article/1271091-treatment#d12

  • Cheng D., Amin P., Thuong Van Ha. “Percutaneous sclerotherapy of cystic lesions.” Semin. Intervent. Radiol. 2012 Dec; 29(4): 295-300. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3577633/

  • Snow T., McEntee JP., Greaves SC., White HD. “Myocardial infarction following sclerotherapy in a patient with a patent foramen ovale.” The New Zealand Medical Journal.2012 Nov; 125(1366). https://www.nzma.org.nz/journal/read-the-journal/all-issues/2010-2019/2012/vol-125-no-1366/cc-snow

Bagikan informasi ini: