Apa itu Perbaikan Daun Telinga yang Robek?

Otoplasty adalah semua tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki atau merekonstruksi cacat telinga dengan menggunakan metode non-bedah dan bedah. Tindakan ini lebih dikenal sebagai perbaikan telinga. Otoplasty dapat menangani berbagai cacat telinga, termasuk kelainan bawaan seperti mikrotia atau telinga yang tidak tumbuh dengan sempurna, telinga yang terlalu besar atau makrotia, atau daun telinga yang terlipat, dan lain-lain. Cacat telinga yang didapatkan, misalnya telinga berbentuk seperti kembang kol dan daun telinga yang robek, yang biasanya disebabkan oleh cedera pada telinga, juga dapat ditangani dengan otoplasty. Walaupun kerobekan daun telinga lebih sering dialami oleh wanita, namun beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus cedera daun telinga pada pria juga meningkat.

Bagian luar telinga rentan mengalami cedera karena bagian ini sama sekali tidak terlindungi. Cedera yang sering terjadi adalah cedera avulsi, seperti cedera yang terjadi saat daun telinga robek dan amputasi yang tidak sempurna. Kondisi ini dapat diobati dengan operasi, dan sebaiknya dilakukan oleh dokter bedah plastik.

Siapa yang Perlu Menjalani Perbaikan Daun Telinga yang Robek

Tindakan ini disarankan bagi pasien yang daun telinganya robek akibat:

  • Cedera, misalnya daun telinga yang robek karena anting yang tercabut atau ditarik secara tidak sengaja
  • Cacat traksi yang terjadi karena berulang kali menggunakan anting berat
  • Lubang tindik yang melebar karena ear gauging, atau lubang tindik yang sengaja diperbesar dengan menggunakan anting yang berukuran besar dan berlubang di tengahnya (flesh tunnel). Hal ini dapat menyebabkan lubang tindik memanjang dan merobek daun telinga.


Memilih dokter spesialis yang ahli untuk melakukan otoplasty merupakan langkah yang penting untuk menentukan hasil dari tindakan ini. Walaupun bersifat sederhana, namun perbaikan daun telinga yang terkoyak atau robek harus dilakukan dengan hati-hati agar nantinya daun telinga terlihat senormal mungkin dan tidak terjadi komplikasi. Dokter dan pasien harus berdiskusi tentang harapan yang realistis sebelum operasi dimulai.

Cara Kerja Perbaikan Daun Telinga yang Robek

Perbaikan daun telinga yang robek biasanya dilakukan sebagai tindakan rawat jalan dengan menggunakan bius lokal. Apabila pasien masih anak-anak, maka tindakan ini mungkin harus dilakukan dengan bius total. Operasi biasanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Setelah persiapan operasi yang standar, daun telinga akan ditutupi. Kemudian, sebagian kecil dari jaringan normal di sekitar daun telinga yang robek akan dipotong, sehingga dapat memperjelas bagian luar dari luka. Setelah itu, kedua ujung luka akan disatukan kembali dan bagian anterior serta posterior daun telinga akan dijahit kembali. Robekan yang lebih besar dapat membutuhkan flap. Kemudian, obat untuk menutup luka akan diberikan.

Pasien biasanya boleh langsung pulang ke rumah setelah tindakan selesai. Setelah tindakan selesai, pasien harus menghindari tekanan yang berlebih pada telinga. Pasien akan diberi instruksi tentang teknik pengobatan luka yang baik, yang dapat meliputi pengolesan salep antibiotik untuk mencegah infeksi atau penggunaan lembar silikon untuk mencegah timbulnya luka hipertrofi atau keloid. Pasien juga dapat diminta untuk meminum obat penghilang rasa sakit untuk menghilangkan nyeri pasca operasi. Jahitan akan dibuka pada kunjungan selanjutnya, biasanya setelah 5-7 hari. Selain itu, pasien tidak boleh menggunakan anting selama 2-3 bulan agar luka dapat pulih sepenuhnya. Pasien disarankan untuk menggunakan anting yang kecil, biasanya anting model kancing, terlebih dahulu agar daun telinga tidak robek lagi.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perbaikan Daun Telinga yang Robek

Walaupun jarang terjadi, ada beberapa komplikasi dini yang berkaitan dengan perbaikan daun telinga yang robek. Pendarahan dan hematoma merupakan risiko yang biasanya terjadi pada semua operasi umum. Apabila pasien mengalami hematoma, atau penggumpalan darah pada daun telinga yang dioperasi, maka komplikasi tersebut harus segera dihentikan untuk mencegah terjadinya infeksi. Kemungkinan komplikasi lain adalah matinya sel jaringan (nekrosis). Telinga harus mendapatkan darah yang cukup untuk mencegah terjadinya nekrosis dan memastikan luka dapat pulih sepenuhnya.

Infeksi pada luka adalah komplikasi lain yang janggal, yang biasanya ditangani dengan pemberian antibiotik. Pasien dengan infeksi yang lebih dalam atau lebih parah mungkin harus dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang berkaitan dengan jahitan, seperti timbulnya granuloma, juga dapat terjadi, namun jarang terjadi akibat perbaikan daun telinga yang robek.

Timbulnya luka hipertrofi atau keloid pada daun telinga yang dioperasi adalah komplikasi yang akan terjadi agak lama setelah tindakan selesai. Pengobatannya meliputi suntikan steroid 1-2 kali setiap bulannya atau tindakan peremajaan dengan laser. Pasien yang rentan mengalami jenis bekas luka seperti ini harus mendapatkan konseling tentang kemungkinan timbulnya keloid setelah tindakan. Apabila pasien mengalami gejala atau komplikasi yang telah disebutkan di atas, ia harus segera memberitahu dokter bedah.

Rujukan:

  • Adamson PA, Doud Galli SK, Chen T. Otoplasty. In: Cummings CS, Flint PW, Haughey BH, et al, eds. Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2010:chap 33.
Bagikan informasi ini: