Apa itu Perawatan Perbaikan Bekas Luka?

Perawatan perbaikan bekas luka adalah prosedur untuk memperbaiki penampilan bekas luka dan kerusakan atau cacat yang merupakan sisa dari proses penyembuhan. Walaupun biasanya bekas luka tidak dapat dihilangkan, namun dokter spesialis perawatan perbaikan bekas luka dapat menyamarkannya dengan menggunakan teknik khusus. Umumnya, melibatkan pembedahan.

Bekas luka timbul sebagai hasil dari proses penyembuhan alami tubuh. Kulit yang merupakan organ terbesar, berperan sebagai pertahanan pertama tubuh. Walaupun rentan mengalami cedera, kulit memiliki kemampuan untuk pulih dari luka cedera dengan mengaktifkan jaringan konektif jauh ke dalam lapisan subcutaneous.

Jika jaringan konektif bekerja dengan baik, luka terbuka dan rasa sakit akan teratasi, namun bekas luka akan terbentuk. Ukuran dan jenis bekas luka tergantung pada luka yang dialami pasien. Bekas luka dapat memburuk dan berangsur sembuh serta dapat membesar walaupun luka telah sembuh total.

Yang menjadi masalah besar adalah bekas luka tidak memiliki warna yang sama dengan kulit sehingga akan terlihat jelas. Hal ini bukan masalah yang berarti bila bekas luka terletak di bagian tubuh tertutup. Akan tetapi, bekas luka dapat menganggu penampilan dan memalukan jika terletak di bagian terbuka, seperti wajah dan lengan. Tapi tidak perlu khawatir karena dokter spesialis perawatan perbaikan bekas luka dapat menyamarkannya.

Siapa yang Perlu Menjalani Perawatan Perbaikan Bekas Luka dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang memiliki bekas luka pada tubuhnya, dapat menemui dan mendapatkan perawatan dari spesialis perawatan perbaikan bekas luka. Namun, prosedur ini tidak berlaku bagi semua orang. Kelayakan tubuh pasien akan dinilai berdasarkan beberapa faktor, yaitu gaya hidup, kesehatan fisik, kondisi kulit dan kejiwaan pasien terhadap prosedur yang akan dijalani.

Pasien yang tidak boleh mengikuti prosedur perbaikan ini, di antaranya pasien perokok. Tidak hanya memengaruhi kemampuan pemulihan kulit, rokok juga akan mengurangi elastisitas kulit. Oleh karena itu, tubuh dan kulit seorang perokok tidak akan merespon perawatan dengan baik, berbeda dengan pasien yang tidak merokok.

Mereka yang memiliki gangguan kesehatan, seperti penyakit atau gangguan kesehatan kulit, juga memiliki masalah dalam merespon perawatan perbaikan bekas luka.

Penting bagi pasien untuk mempunyai target positif saat mengikuti perbaikan bekas luka. Target tersebut dapat dicapai dengan harapan yang realistis. Bekas luka hanya akan tersembunyi dengan bantuan metode tertentu, namun tidak akan hilang sepenuhnya. Seberapa baik bekas luka mampu tersamarkan akan tergantung pada kemampuan dokter.

Cara Kerja Perawatan Perbaikan Bekas Luka

Berbagai macam teknik akan digunakan selama proses perbaikan. Dokter akan memilih teknik yang sesuai dengan ukuran dan jenis bekas luka pada kulit pasien.

Untuk bekas luka ringan, perawatan topikal akan direkomendasi, seperti penggunaan obat oles (salep) dan gel dapat membantu mencegah kulit untuk memproduksi pigmen. Salep mampu menyamarkan bekas luka.

Sementara itu, terapi injeksi dapat digunakan untuk bekas luka yang berangsur hilang atau membesar. Jenis pengobatan ini berperan seperti filler dan dapat mengurangi kolagen pada bekas luka yang membesar sehingga warnanya hampir sama dengan warna alami kulit.

Bekas luka yang sangat parah memerlukan prosedur bedah untuk menghilangkannya, sehingga kulit dapat kembali normal dan risiko bekas luka baru menjadi kecil. Perawatan bekas luka dengan pembedahan merupakan prosedur yang rumit, terutama jika melibatkan bedah penggantian kulit.

Dalam berbagai kondisi, prosedur cangkok kulit dilakukan untuk mengambil dan memindahkan kulit sehat dari bagian tubuh lain pada kulit yang terluka. Jika tidak bisa mendapatkan kulit sehat, maka dokter akan melaksanakan prosedur penggantian jaringan atau perluasan jaringan.

Dalam prosedur perluasan jaringan, kulit yang berada di sekitar area luka akan diperluas menggunakan alat seperti balon. Ketika alat ini membesar, kulit akan tumbuh untuk membuat perluasan. Saat kulit tumbuh dalam jumlah yang diharapkan, kulit berlebih akan dibuang dan digunakan untuk mengganti jaringan parut.

Dalam kondisi tertentu, jaringan parut tidak perlu diganti. Namun, bekas luka akan dihilangkan melalui prosedur bedah dan luka akan ditutup menggunakan teknik khusus, seperti penutupan flap atau lapisan kulit. Kedua teknik ini merupakan prosedur yang rumit.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perawatan Perbaikan Bekas Luka

Perawatan perbaikan bekas luka, baik yang melalui maupun tanpa prosedur bedah, memiliki risiko serta kemungkinan komplikasi. Pengobatan yang digunakan untuk mengurangi bekas luka memiliki efek samping dan obat oles topikal dapat memicu alergi pada sebagian orang.

Metode bedah juga memiliki risiko tersendiri, di antaranya infeksi, perdarahan, kerusakan otot, pembuluh darah atau saraf, serta perubahan warna kulit. Terdapat banyak laporan yang menyatakan perubahan pada tingkat sensitivitas kulit dan komplikasi lain, yaitu trombosis vena dalam, komplikasi paru-paru dan gangguan jantung.

Jika dokter spesialis perawatan perbaikan bekas luka merekomendasikan pembedahan, maka pasien perlu memahami risiko ini karena terkadang manfaat yang diperoleh dari prosedur bedah lebih sedikit daripada risiko yang harus ditanggung.

Namun, pasien juga harus memahami bahwa risiko tersebut dapat ditangani dengan perawatan yang tepat serta dikurangi dengan memilih dokter dan fasilitas bedah yang profesional. Oleh karena itu, pasien perlu melakukan analisis mendalam, terutama jika ia ingin menjalani prosedur bedah di luar negeri, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih terjangkau.

Pasien perlu memikirkan masa pemulihan dengan matang. Proses pemulihan pasca perawatan perbaikan bekas luka dapat dilakukan di mana saja, selama beberapa minggu hingga hitungan bulan, tergantung pada ruang lingkup proses pemulihan.

Rujukan:

  • Bethel CA, Mazzeo AS. Burn care procedures. In: Roberts JR, Hedges JR, eds. Clinical Procedures in Emergency Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2009: bab 38.

  • Gallagher JJ, Wolf SE, Herndon DN. Burns. In: Townsend CM Jr, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 18th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2007: bab 22.

Bagikan informasi ini: