Apa itu Operasi Revisi Bekas Luka?

Operasi revisi bekas luka adalah prosedur bedah untuk mengurangi bekas luka yang nampak akibat terluka, cedera, dan operasi sebelumnya. Prosedur yang juga dapat memperbaiki cacat dan mengembalikan fungsi kulit ini, umumnya dilakukan untuk menyamarkan bekas luka yang parah. Meski termasuk aman, prosedur ini memiliki resiko yang umum seperti prosedur bedah lainnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Operasi Revisi Bekas Luka dan Hasil yang Diharapkan

Revisi bekas luka dapat dimanfaatkan oleh pasien yang ingin meminimalisir penampakan bekas luka. Namun, pakar kesehatan tidak merekomendasikan prosedur pada bekas luka kecil atau bila luas bekas luka tidak memicu resiko terkait dengan prosedur.

Oleh karena itu, prosedur ini lebih umum dilakukan pada bekas luka keloid, besar, dalam, dan tebal yang mengubah postur pasien, membatasi gerakan dan fungsi bagian tubuh, mengubah bentuk normal kulit, dan yang berada di area yang jelas terlihat (seperti bekas luka di wajah).

Operasi revisi bekas luka idealnya dilakukan dalam beberapa bulan atau tahun setelah luka sembuh, karena semakin lama, ukuran luka cenderung menyusut dan tersamarkan. Luka dalam masa penyembuhan biasanya melewati tiga fase berbeda. Di antaranya, fase peradangan, fase granulasi, dan fase pembentukan. Hampir seluruh dokter menyarankan untuk menunggu selama 60-90 hari atau hingga kulit melewati fase pembentukan sebelum menjalani operasi revisi bekas luka.

Cara Kerja Operasi Revisi Bekas Luka

Operasi revisi bekas luka adalah prosedur rawat jalan dengan dukungan bius lokal dan sedasi ringan. Namun, bekas luka yang dinilai parah memerlukan bius total.

Prosedur ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, seperti:

  • Dermabrasi – Ini adalah pengobatan kosmetik umum yang diutamakan untuk melembutkan permukaan kulit. Namun ini pun efektif meminimalisir bentuk kulit yang tidak teratu,r termasuk bekas luka. Dalam prosedur ini, permukaan atas kulit diangkat menggunakan alat bedah khusus yang disebut burr untuk merangsang pertumbuhan kulit baru di.
  • Penghapusan bekas luka – Berdasarkan sifatnya, bekas luka dapat dihapus dengan mudah dan luka ditutup dengan seksama.
  • Cangkok kulit – Ini adalah prosedur revisi bekas luka yang lebih rumit karenamemerlukan pengambilan lapisan kulit tipis dari bagian tubuh lain untuk menambal bekas luka. Teknik ini bisa saja menggunakan seluruh bagiankulit, termasuk lemak, saraf, pembuluh darah, dan otot untuk mengganti bagian yang cedera. Metode ini biasanya dianjurkan untuk bekas luka dalam dengan kerusakan kulit yang besar, serta bekas luka yang tidak lekas sembuh.
  • Penghapusan jaringan parut – Ini biasanya untuk mengobati bekas luka yang disebabkan oleh cedera besar, bekas luka hipertrofik, dan bekas luka yang menyebabkan penyempitan, pengangkatan jaringan parut berlebih dapat mengembalikan fungsi bagian tubuh yang mengalami cedera .Prosedur ini dapat dilakukan dengan membuat rangkaian sayatan kecil di sisi bekas luka, dengan tujuan untuk membuat flap kulit berbentuk V untuk menyesuaikan bekas luka, sehingga menyatu dengan lipatan kulit alami dengan lebih baik.


Setelah prosedur ini, dokter memakaikan pembalut tipis untuk melindungi bekas luka selama masa pemulihan. Apabila menggunakan jahitan, pasien perlu datang ke rumah sakit lagi untuk membuka jahitan dalam 3-4 hari bila jahitan di wajah dan 5-7 hari untuk bekas luka selain wilayah wajah.

Jika bekas luka membentuk keloid, dokter akan memakaikan pembalut elastis di area tersebut. Menerapkan tekanan setelah prosedur dapat membantu menurunkan resiko kambuh.

Sebagian besar pasien yang menjalani operasi revisi bekas luka dapat segera menjalani aktivitas normal setelah menjalani prosedur ini, selama mereka menghindari aktivitas yang membuat luka menjadi semakin lebar. Pasien pun disarankan memakai pelindung matahari setiap hari untuk menjaga warna kulit yang baru saja pulih.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Operasi Revisi Bekas Luka

Seperti prosedur bedah lainnya, pasien operasi revisi bekas luka beresiko mengalami infeksi, pendarahan, dan penggumpalan darah. Selain itu, pasien bisa saja mengalami reaksi alergi obat bius.

Resiko lainnya termasuk bekas luka yang muncul kembali, keloid kembali terbentuk, dan dehisensi. Ada resiko kecil bahwa area luka tidak memiliki warna yang sama dengan kulit, biasanya terjadi bila luka sering terpapar sinar matahari sebelum menjalani operasi. Ini membuat bekas luka menjadi lebih gelap, sehingga operasi pun lebih rumit.



Rujukan:

  • Adnan Prsic. “Scar Revision.” Medscape. http://emedicine.medscape.com/article/2250161-overview#a4

  • Shilpa G., Dahiya N., Gupta S. “Surgical scar revision: An overview.” J Cutan Aesthet. Surg. 2013 Jan-Mar; 7(1): 3-13.

  • http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3996787/ Sharma M., Wakure A. “Scar Revision.” Indian J Plast Surg. 2013 May-Aug; 46(2): 408-418. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3901922/

Bagikan informasi ini: