Apa itu Operasi Perbaikan Rahang?

Operasi perbaikan rahang atau operasi ortognatik adalah operasi yang dilakukan untuk memperbaiki atau memulihkan rahang yang cacat atau bermasalah, dapat disebabkan oleh kelainan bawaan lahir, perkembangan yang buruk, atau ketidaksejajaran akibat penggunaan berlebihan atau luka fisik. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk rasa nyeri, gigitan buruk, dan apnea tidur obstruktif (suatu kelainan tidur yang berbahaya, ditandai dengan jeda dalam bernapas). Selain itu, kondisi tersebut juga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula atau TMJ – yang dapat mengakibatkan rasa nyeri, sakit kepala, dan bengkak pada wajah – dan terkait dengan bruksisme (menggerutukkan gigi), sakit pada telinga (karena satu bagian dari TMJ dekat dengan telinga), dan kesulitan mengunyah.

Siapa yang Perlu Menjalani Operasi Perbaikan Rahang & Hasil yang Diharapkan

Berikut ini adalah individu yang perlu menjalani operasi perbaikan rahang:

  • Seseorang yang secara berkala mengalami sakit gigi, sakit kepala, dan rasa sakit di sekitar daerah rahang, terutama ketika mengunyah;
  • seseorang yang mengalami bruksisme parah;
  • seseorang yang memiliki rahang tidak sejajar bawaan lahir;
  • orang yang mengalami cedera fisik (contohnya: jatuh dan wajah yang terbentur permukaan keras atau karena kecelakaan kendaraan), yang dapat mengakibatkan rahang tidak sejajar atau rusak;
  • seseorang yang memiliki gejala apnea tidur seperti mendengkur;
  • seseorang yang memiliki gangguan bicara tanpa manifestasi lain dari penyakit yang mendasarinya.
    Operasi perbaikan rahang juga dapat dilakukan untuk alasan kecantikan, seperti memperbaiki dagu yang mundur dan operasi langit mulut sumbing.

Operasi ini diharapkan dapat memperbaiki dan memastikan rahang kembali ke bentuk alaminya atau ke posisi yang benar.

Cara Kerja Operasi Perbaikan Rahang

Sebelum menjalani operasi, pasien harus melalui konsultasi intensif dengan dokter bedah maksilofasial yang bekerja sama dengan ortodontis, jenis dokter gigi yang ahli dalam peralatan perawatan mulut seperti kawat gigi.

Selain peninjauan dari catatan kesehatan dan tanya jawab, dokter bedah juga akan melakukan pemeriksaan secara keseluruhan, termasuk rontgen yang menunjukkan posisi rahang, khususnya posisi gigi dan bagian lain dari wajah dan mulut. Setelah evaluasi awal selesai dilakukan, rencana perawatan akan dijalankan.

Proses operasi dibagi menjadi beberapa tahap. Pada tahap pertama, ortodontis akan membuat cetakan gigi sebelum tindakan, sehingga laboratorium dapat membuat kawat gigi. Kawat gigi ini akan membuat bagian atas dan/atau bagian bawah gigi sejajar dengan rahang. Tergantung dari pergerakan gigi yang sudah diperkirakan, beberara gigi alami mungkin harus dicopot.

Tahap berikutnya akan dilanjutkan dengan operasi, yang dilakukan dengan pembiusan total. Pengait kawat atau kawat bedah akan dipasangkan pada rahang untuk memastikan gigi tidak akan bergerak selama proses berlangung.

Dokter bedah dapat memperbaiki maksila (tulang rahang atas) atau mandibula (tulang rahang bawah), walaupun pada beberapa kasus, keduanya diperbaiki. Dokter bedah menggunakan gergaji bedah untuk melakukan osteotomi atau memotong tulang rahang. Sebagian tulang mungkin akan dihilangkan atau diposisikan kembali, tergantung pada tujuannya. Setelah itu, pelat atau baut baja akan digunakan untuk menyambung tulang kembali.

Ketika operasi telah selesai, sayatan akan ditutup. Karena sayatan dibuat bukan pada kulit melainkan pada mulut, bekas luka sama sekali hampir tidak terlihat.

Kawat gigi mungkin harus disesuaikan dan digunakan hingga gigi dan rahang sejajar.

Kemungkinan Komplikasi & Resiko Operasi Perbaikan Rahang

Akan ada pembengkakan, rasa tidak nyaman, dan rasa sakit selama beberapa hari pertama setelah operasi. Pasien mungkin harus menghindari aktivitas berat dan tidak mengkonsumsi makanan berair selama beberapa hari pertama di masa penyembuhan.

Operasi ini juga dapat menyebabkan pendarahan dan infeksi, yang muncul akibat bakteri jahat yang memasuki tubuh melalui daerah luka. Pada kasus yang jarang terjadi, operasi perbaikan rahang dapat mengakibatkan kerusakan saraf wajah.

Rujukan:

  • Journal of Oral and Maxillofacial Surgery

  • Taub DI, Jacobs JMS, Jacobs JS. Anthropometry, cephalometry, and orthognathic surgery. In: Neligan PC, ed. Plastic Surgery. 3rd ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2013:chap 16.

Bagikan informasi ini: