Apa itu Eksisi Kista Pilonidal?

Eksisi kista pilonidal adalah operasi untuk menghilangkan kantung jaringan abnormal yang tumbuh di sekitar folikel rambut. Kista ini biasanya ditemukan di dekat tulang ekor, di atas lipatan bokong.

Kista pilonidal berisi sisa rambut dan kulit yang menumpuk setelah rambut menembus dan tertanam di kulit. Rambut yang masuk kembali ke dalam kulit akan mengakibatkan peradangan, karena sebab tubuh mengidentifikasi rambut sebagai benda asing yang perlu dihancurkan. Lama-kelamaan, kista akan terbentuk di sekitar dasar rambut. Bentuk kista menyerupai lubang kecil atau pori-pori kulit dengan bintik hitam di tengahnya.

Siapa yang Perlu Menjalani Eksisi Kista Pilonidal dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang memiliki kista pilonidal dapat menjalani operasi, terutama jika:

  • Kista sering terulang
  • Kista menyebabkan pasien sangat tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-harinya
  • Kista menyebabkan terbentuknya saluran sinus atau saluran kecil yang tidak wajar
    Namun, prosedur ini biasanya tidak akan dilakukan jika terdapat infeksi aktif dan nanah pada kista. Kondisi ini dinamakan penyakit pilonidal, dan harus ditangani terlebih dahulu dengan membuka kista untuk mengeluarkan nanah dan cairan lainnya. Setelah infeksi disembuhkan dengan terapi antibiotik, baru kista pilonidal dapat dipotong.

Prosedur ini memiliki angka keberhasilan yang tinggi, walaupun lukanya mungkin baru akan sembuh setelah beberapa minggu. Pasien biasanya diperbolehkan langsung pulang ke rumah, namun sebaiknya beristirahat selama beberapa hari. Perawatan khusus perlu dilakukan supaya luka tidak tertekan dan aktivitas berat biasanya dihindari untuk beberapa minggu.

Cara Kerja Eksisi Kista Pilonidal

Pada operasi kista pilonidal, pasien akan diberi obat bius sebelum rambut di sekitar kista dicukur atau dipotong. Kemudian, celah bokong dibuka dan saluran sinus diperiksa dengan probe lakrimal. Pada operasi sederhana, elektrokauterisasi dilakukan untuk menghilangkan jaringan kista dan menutup luka pada saat yang bersamaan.

Jika menggunakan teknik pemotongan yang lebih rumit, dokter bedah biasanya mengangkat kista dan membuat flap dari kulit sekitarnya untuk menutupi luka. Dengan teknik ini, luka terbentuk jauh dari garis tengah bokong, sehingga dapat mempercepat penyembuhan. Contohnya adalah flap Karydakis, flap Limberg, Z-plasty, dan prosedur Bascom.

Pada kasus langka di mana pemotongan kista pilonidal primer telah gagal dan kista menjadi sering tumbuh, pasien perlu menjalani operasi yang lebih rumit lagi, yaitu flaalp myofasciocutaneus gluteal. Teknik ini dilakukan dengan memisahkan beberapa bagian otot gluteus dan pembuluh darahnya. Lalu, kista diangkat dan flap diputar ke dalam luka. Prosedur ini membutuhkan keahlian yang sangat spesifik dan merupakan pilihan terakhir untuk menghilangkan kista pilonidal.

Apabila kista berukuran kecil, dokter bedah dapat menutup luka dengan jahitan. Namun, kista yang berukuran besar mungkin memerlukan teknik luka terbuka, yaitu luka ditutup dengan kasa steril hingga sembuh. Penutup luka harus rutin diganti untuk mencegah infeksi bakteri dan mempercepat penyembuhan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Eksisi Kista Pilonidal

Penghilangan kista pilonidal beresiko menyebabkan:

  • Pendarahan
  • Efek samping dari obat bius
  • Infeksi luka
  • Luka sembuh dengan lambat
  • Kista tumbuh kembali
  • Dehisensi luka, yaitu jahitan luka terbuka sebelum waktunya

    Rujukan

  • Steele SR, Perry WB, Mills S, Buie WD, Standards Practice Task Force of the American Society of Colon and Rectal Surgeons. Practice parameters for the management of pilonidal disease. Dis Colon Rectum. 2013 Sep. 56 (9):1021-7.

  • McCallum IJ, King PM, Bruce J. Healing by primary closure versus open healing after surgery for pilonidal sinus: systematic review and meta-analysis. BMJ. 2008 Apr 19. 336(7649):868-71

Bagikan informasi ini: