Apa itu Biopsi Prostat?

Biopsi prostat adalah pemeriksaan diagnostik untuk memastikan keberadaan kanker prostat. Pada prosedur ini, dokter akan menganalisis sampel jaringan yang diambil dari kelenjar prostat.

Kelenjar prostat adalah salah satu organ yang ada pada sistem kemih pria. Kelenjar ini berdampingan dengan kandung kemih dan dikelilingi oleh bagian-bagian uretra, yang menghubungkan kandung kemih dengan ginjal. Kelenjar prostat berperan penting dalam reproduksi air mani, oleh karena itu, kelenjar ini tidak akan ditemukan pada saluran kemih wanita.

Kelenjar prostat akan mengalami perubahan seiring dengan pertumbuhan usia. Pada usia 60 tahun, prostat pria menjadi sangat besar sehingga akan menekan uretra dan menghambat aliran kemih. Prostat di usia ini juga rentan terserang sel kanker. Apabila seseorang diduga mengidap kanker prostat, maka dokter perlu mengambil sampel jaringan prostat melalui prosedur biopsi untuk mengenali keberadaan sel kanker.

Siapa yang Perlu Menjalani Biopsi Prostat dan Hasil yang Diharapkan

Biopsi prostat dilatarbelakangi oleh dua alasan yang membuat dokter spesialis gangguan kesehatan sistem kemih dan reproduksi pria (urolog), meminta pasien pria untuk menjalaninya.

Pertama, gejala yang dialami pasien mengarah pada penyakit kanker prostat. Gejala yang dimaksud berupa sulit buang air kecil, adanya darah pada air seni dan mani, sensasi terbakar saat buang air kecil, nyeri paha atau punggung bawah, dan disfungsi ereksi (impotensi). Biopsi prostat juga dapat mengenali penyakit prostat lain yang memiliki gejala serupa, seperti prostatitis atau radang kelenjar prostat.

Kedua, hasil pemeriksaan kadar prostat spesifik antigen (PSA) menunjukkan abnormalitas. Pemeriksaan kadar PSA adalah tes darah untuk mengukur kadar protein prostat di dalam tubuh dan merupakan salah satu prosedur pemeriksaan kanker rutin untuk pasien pria. Pemeriksaan ini dilaksanakan pada pasien yang dinyatakan memiliki risiko tinggi, seperti berusia 60 tahun atau lebih, keturunan Afrika-Amerika, kelebihan berat badan (obesitas), atau riwayat keluarga yang mengidap kanker prostat.

Cara Kerja Biopsi Prostat

Sebelum melaksanakan biopsi prostat, dokter akan menerangkan rincian prosedur pada pasien. Rincian ini meliputi manfaat, risiko, dan kemungkinan komplikasi akibat biopsi. Setelah itu, pasien perlu menandatangani formulir yang berisi pernyataan setuju untuk mengikuti prosedur.

Tanda vital pasien akan diperiksa terlebih dahulu sebelum ia dibawa ke laboratorium untuk berganti pakaian dengan baju pasien. Kemudian, ia akan diberi suntikan bius (anestesi) lokal atau umum dan antibiotik untuk mengurangi infeksi pasca biopsi.

Dalam prosedur biopsi, dokter akan menggunakan jarum untuk mengambil sampel jaringan. Ada tiga cara untuk memasukkan jarum tersebut, yaitu melalui dubur (transrektal), melalui kulit di antara skrotum (kantung pelir) dan anus, atau melalui penis yang melewati uretra. Pada biopsi transrektal, dokter terlebih dahulu akan memasukkan cairan pembersih ke dalam usus melalui anus (prosedur enema) untuk membersihkan isi perut pasien. Selanjutnya, prosedur akan berjalan dengan bantuan USG, sebagai panduan bagi dokter. Jarum biopsi akan dimasukkan dan mengumpulkan sedikitnya 10 hingga 12 sampel jaringan.

Prosedur biopsi prostat akan selesai dalam 15 menit dan hasilnya sudah siap pada minggu berikutnya.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Biopsi Prostat

Setelah biopsi selesai, pasien akan merasa sedikit tidak nyaman dan mengalami perdarahan. Jika perdarahan berlanjut selama lebih dari satu hari, maka pasien harus segera mendapatkan penanganan medis. Walaupun dokter telah memberikan antibiotik sebelum prosedur berjalan, namun pasien kemungkinan tetap mengalami infeksi, terutama bila ia mengidap prostatitis.

Risiko lain adalah hasil pemeriksaan yang tidak akurat, sehingga perihal pasien mengidap kanker belum dapat ditentukan. Jika hal ini disebabkan oleh pengambilan sampel jaringan yang terlalu sedikit, maka dokter akan meminta pasien untuk melakukan prosedur ini sekali lagi atau menunggu hingga pasien merasakan gejala kanker prostat lainnya. Hasil biopsi berpotensi menjadi positif-palsu, sehingga membuat pasien mengikuti pemeriksaan dan pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan, atau negatif-palsu yang membuat dokter terlambat menangani dan memberikan pengobatan kanker.


References:

  • Aliotta PJ, Fowler GC. Prostate and seminal vesicle ultrasonography and biopsy. In: Pfenninger JL, Fowler GC, eds. Pfenninger and Fowler's Procedures for Primary Care. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2011: bab 121.

  • American Cancer Society. How Is Prostate Cancer Diagnosed? Updated 3/12/21015. http://www.cancer.org/cancer/prostatecancer/detailedguide/prostate-cancer-diagnosis. Accessed 9/1/2015.

  • Trabulsi EJ, Halpern EJ, Gomella LG. Ultrasonography and Biopsy of the prostate. In: Wein AJ, Kavoussi LR, Novick AC, Partin AW, Peters CA. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012: bab 97.

Bagikan informasi ini: