Apa itu Lobektomi Paru?

Paru-paru manusia memiliki beberapa lobus, tiga di antaranya berada di paru kanan dan dua lainnya terletak di paru kiri. Jika salah satu lobus tidak berfungsi dengan baik, dokter akan merekomendasi bedah pengangkatan lobus paru. Prosedur ini dikenal dengan istilah lobektomi paru dan bertujuan untuk mencegah komplikasi serius.

Lobektomi paru dibedakan berdasarkan jumlah dan lokasi lobus yang akan diangkat, yaitu bilobektomi (pengangkatan dua lobus), lobektomi kiri atas, dan lobektomi kanan bawah.

Siapa yang Perlu Menjalani Lobektomi Paru dan Hasil yang Diharapkan

Lobektomi paru bertujuan mengobati:

  • Kanker paru-paru, untuk menghentikan penyebaran kanker pada organ dan bagian tubuh lain
  • Tuberkulosis yang tidak dapat disembuhkan oleh obat
  • Abses atau bisul
  • Beberapa bagian paru-paru mengalami luka atau melepuh
  • Emfisema atau infeksi jamur, jika tidak tersedia perawatan atau bantuan medis lainnya
    Lobektomi paru untuk anak hanya akan dilakukan pada anak yang terdiagnosis cacat adenomatoid kistik bawaan (sejak lahir memiliki benjolan pada jaringan paru, namun tidak bersifat kanker) atau sequestration paru (sebelum lahir sudah memiliki jaringan paru yang tidak normal).

Sebelum menjalani lobektomi, pasien dirawat di unit perawatan intensif selama beberapa hari, kemudian dipindahkan ke bangsal rumah sakit. Proses pemulihan pasca lobektomi berlangsung bertahap, dalam beberapa minggu hingga bulan. Pasien juga diberi obat untuk mengatasi nyeri. Untuk mempercepat penyembuhan dan mengembalikan kinerja paru-paru, pasien perlu menjalani terapi fisik. Hasil yang diperoleh dari prosedur lobektomi dapat beragam, tergantung pada faktor usia, status kesehatan pasien secara umum, dan tingkat keparahan penyakit.

Cara Kerja Lobektomi Paru

Lobektomi paru dimulai dengan penyuntikan obat bius.

Lobektomi dapat dilakukan dengan dua metode. Metode pertama adalah metode tradisional atau bedah terbuka yang disebut thorakotomi, di mana dokter bedah akan membuat sayatan besar di dada. Tulang iga dikeluarkan untuk menemukan dan mengangkat lobus yang tidak normal.

Metode kedua adalah dengan membuat sayatan kecil di area dada untuk memasukkan alat bedah kecil yang dilengkapi kamera. Prosedur minimal invasif ini disebut bedah thoraskopik dengan bantuan video (VATs) dan hanya meninggalkan sedikit bekas luka dibanding thorakotomi.

Dokter bedah perlu memutuskan pembuluh darah yang masuk dan keluar dari lobus yang akan diangkat. Kemudian, dokter akan memasukkan tabung-tabung ke dada untuk mengeringkan cairan dan membuang timbunan udara. Setelah semua ini diselesaikan, sayatan akan ditutup dengan jahitan atau staple bedah.

Dalam kondisi tertentu, dokter boleh melakukan thorakotomi walaupun pasien telah menjalani VATs. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan keberhasilan prosedur.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Lobektomi Paru

Pasien yang menjalani prosedur bedah besar cenderung rentan terhadap resiko yang mengancam nyawanya. Resiko ini termasuk reaksi melawan zat bius, pendarahan dalam, pembekuan darah, infeksi bakteri, atau infeksi darah yang disebut septicemia.

Walaupun sudah ditanam tabung di dalam dada, penumpukan cairan di dalam paru-paru masih menjadi kekhawatiran utama. Oleh karena itu, pasien perlu dipantau selama beberapa hari pasca lobektomi paru. Udara yang tidak dikeluarkan dapat menimbulkan kebocoran udara di antara paru-paru dan dinding dada. Paru-paru kempis juga merupakan salah satu komplikasi yang memicu kegagalan pernapasan, bahkan kematian.

Beberapa pasien melaporkan irama jantung menjadi tidak normal serta perubahan fungsi paru-paru, pasca lobektomi paru.

Rujukan:

  • Putnam JB Jr. Lung, chest wall, pleura, and mediastinum. In: Townsend CM Jr., Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2012: bab 58.

  • Tsiouris A, Horst HM, Paone G, Hodari A, Eichenhorn M, Rubinfeld I. Preoperative risk stratification for thoracic surgery using the American College of Surgeons National Surgical Quality Improvement Program data set: Functional status predicts morbidity and mortality. J Surg Res. 2012: epub ahead of print.

Bagikan informasi ini: