Apa itu Valvulopasti Pulmonal?

Pulmonary valvuloplasti atau valvuloplasti pulmonal adalah prosedur yang dilaksanakan untuk memperlebar katup pulmonal yang mengalami penyempitan (stenosis) baik kasus sedang maupun parah. Kini, prosedur ini dilakukan dengan pendekatan invasif minimal dengan kateter balon.

Valvuloplasti pulmonal invasif minimal pertama kali dilaksanakan pada tahun 1982 dan dianggap sebagai milestone dalam bidang kardiologi intervensional. Pendekatan ini mampu menggantikan bedah jantung terbuka sebagai pilihan pengobatan utama untuk penyempitan katup pulmonal.

Siapa yang Perlu Menjalani Valvuloplasti Pulmonal dan Hasil yang Diharapkan

Valvuloplasti pulmonal adalah pilihan pengobatan untuk penyempitan katup pulmonal atau yang juga dikenal dengan sebutan valvar pulmonic stenosis. Kondisi ini membatasi aliran darah dari jantung ke paru-paru.

Penyempitan katup pulmonal biasanya cacat bawaan yang berkembang saat janin masih dalam kandungan. Dari seluruh kasus cacat jantung bawaan, kondisi ini berkontribusi 8 – 10%. Kondisi yang bisa menjadi penyebab munculnya kondisi lain ini, seperti sindrom karsinoid dan demam rematik, memicu beberapa gejala seperti:

  • Murmur jantung

  • Napas pendek

  • Nyeri dada

  • Kelelahan

  • Hilangnya kesadaran

  • Pusing

  • Palpitasi

  • Edema, atau saat kaki, pergelangan kaki, dan perut mengalami pembengkakan

  • Retensi cairan, yang memicu turunnya berat badan tanpa sebab

Jika dibiarkan, penyempitan katup pulmonal dapat semakin parah, menyebabkan infeksi, serta aritmia. Selain itu, risiko gagal jantung penderitanya juga meningkat.

Namun, dengan pengobatan yang tepat, pasien dengan penyempitan katup pulmonal dapat hidup normal tanpa menggunakan defibrillator atau alat pacu jantung. Biasanya dokter merekomendasikan valvuloplasti pulmonal balon atau bedah jantung terbuka tergantung keparahan kondisi pasien. Meskipun kebanyakan kasus dapat diatasi dengan pendekatan invasif minimal, dalam kasus yang lebih parah, pasien perlu menjalani bedah jantung terbuka. Pendekatan invasif minimal memang minimalisir risiko bagi pasien, namun dari segi hasil, keduanya efektif memperbesar bukaan katup, mengembalikan aliran darah normal, dan meningkatkan fungsi katup.

Cara Kerja Valvuloplasti Pulmonal

Valvuloplasti pulmonal balon perkutan dilakukan dengan memasukkan kateter balon ke pembuluh darah besar (femoral atau jugular) dan kemudian mengarahkan kateter ke katup pulmonal yang mengalami penyempitan. Kateter yang digunakan dalam prosedur ini adalah tabung tipis dengan balon yang dapat dikembangkempiskan pada ujungnya. Setelah kateter mencapai katup, dokter bedah akan mengembangkan balonnya guna memperlebar katup pulmonal dan meningkatkan aliran darah. Setelah katup berhasil dilebarkan, kateter balon akan dikeluarkan. Kemudian, kateter lain dimasukkan dan didiamkan hingga 12 jam untuk mengeluarkan cairan berlebih pada area bedah.

Valvuloplasti pulmonal balon perkutan dapat berlangsung hingga empat jam. Selama prosedur berlangsung pasien akan dibius lokal, sehingga pasien tetap terjaga namun tidak merasakan sakit pada area bedah.

Setelah prosedur selesai, pasien akan dipantau secara ketat selama beberapa jam. Selama dipantau, pasien terhubung dengan mesin EKG untuk memeriksa apakah ada ritme jantung abnormal. Kulit pada area bedah juga diobservasi untuk melihat tanda-tanda infeksi.

Pemulihan pasca valvuloplasti pulmonal balon cenderung cepat dan kebanyakan pasien dapat kembali menjalani aktivitas seperti biasa setelah pulang dari rumah sakit. Namun, pasien perlu melakukan pemeriksaan rutin seumur hidup untuk mengawasi kondisi katup yang diobati.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Valvuloplasti Pulmonal

Meskipun tingkat kesuksesan prosedur ini tinggi, ada beberapa potensi komplikasi. Di antaranya:

  • Regurgitasi katup, atau saat darah bocor dan kembali ke katup pulmonal

  • Perdarahan pada area di mana kateter dimasukkan

  • Infeksi

  • Gumpalan darah pada kaki dan paru-paru

  • Embolisme, atau saat jaringan katup pecah dan potongannya berpindah ke bagian tubuh lain seperti otak dan paru-paru, dan menyebabkan sumbatan

  • Kerusakan jaringan sekitar, seperti pembuluh darah terdekat

  • Kehilangan darah

  • Gagal ginjal

  • Stroke

  • Pecahnya katup

Pasien perlu mengonsumsi obat pengencer darah selama beberapa bulan bahkan tahun pasca prosedur. Ini dilakukan untuk mencegah penggumpalan darah. Selain itu, pasien disarankan menjalani tes darah regular untuk memastikan obat-obat yang dikonsumsi memberikan hasil yang diharapkan.

Risiko lain yang dihadapi pasien adalah katup kembali menyempit (restenosis). Karena penyempitan adalah masalah umum bagi pasien yang juga menderita penyakit katup lainnya. Dalam kasus demikian, pasien menjalani prosedur valvuloplasti pulmonal yang telah dimodifikasi, di mana rasio balon pada kateter akan disesuaikan.

Rujukan:

  • Rao PS. “Balloon pulmonary valvuloplasty: A review.” Clin Cardiol. 1989 Feb; 12(2): 55-74. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2653678

  • McCrindle BW. “Long-term results after balloon pulmonary valvuloplasty.” http://circ.ahajournals.org/content/circulationaha/83/6/1915.full.pdf

  • Aldoss O, Gruenstein D (2012) “Percutaneous Balloon Pulmonary Valvuloplasty.” Pediat Therapeut S5:003. doi: 10.4172/2161-0665.S5-003. https://www.omicsonline.org/percutaneous-balloon-pulmonary-valvuloplasty-2161-0665.S5-003.php?aid=4019

Bagikan informasi ini: