Apa itu Radioterapi Konformal 3D?

Radioterapi konformal 3D adalah jenis pengobatan kanker yang menggunakan pancaran radiasi yang bentuknya sama dengan tumor yang akan diobati. Metode ini merupakan peningkatan dari teknologi radioterapi sebelumnya, di mana radiasi hanya memiliki tinggi dan lebar yang sama dengan tumor, sehingga ada jaringan sehat yang juga terkena radiasi. Seperti intensity-modulated radiation therapy atau IMRT, terapi ini merupakan pilihan yang lebih tepat bagi pasien yang memiliki tumor ganas, sehingga dapat mengurangi kemungkinan efek samping yang dapat terjadi.

Siapa yang Harus Menjalani Radioterapi Konformal 3D dan Hasil yang Diharapkan

Radioterapi konformal tiga dimensi dapat menyerupakan bentuk dari tumor, variasi dari radioterapi yang standar ini adalah pengobatan yang dapat sangat bermanfaat bagi pasien yang memiliki tumor dengan bentuk yang tidak beraturan. Selain itu, terapi ini merupakan pilihan yang lebih aman bagi pasien yang memiliki tumor yang terletak sangat dekat dengan organ dan jaringan yang sehat atau tumor yang posisinya akan menyebabkan ada banyak jaringan sehat yang terkena radiasi. Catatan menunjukkan bahwa teknik radioterapi lebih banyak digunakan untuk tumor ganas yang ada di otak, paru-paru, hati, dan prostat. Radioterapi juga merupakan jenis pengobatan yang banyak dipilih untuk menangani kanker pada kepala dan leher, karena pertimbangan daerah sensitifnya.

Dengan menggunakan radioterapi konformal 3D dalam kasus seperti itu, jaringan yang sehat dan organ di sekitarnya tidak akan terkena efek dari pengobatan, sehingga dapat mengurangi efek samping yang negatif.

Selain itu, karena jaringan yang sehat dapat diamankan, dokter ahli kanker dapat menambah dosis radiasi, sehingga dapat menambah tingkat kesuksesan dan mengurangi efek samping. Pengobatan ini memang telah menyebabkan peningkatan jumlah kasus di mana tumor dapat menyusut dan dihancurkan, karena tingkat radiasi yang lebih tinggi pada setiap sesinya.

Cara Kerja Radioterapi Konformal 3D

Terapi radiasi konformal 3D dimulai dengan uji pencitraan terperinci yang bertujuan untuk mendapatkan gambar dari tumor serta mengetahui lokasi, ukuran, dan bentuknya. Uji pencitraan ini dapat meliputi ultrasound, pemindaian CT (computed tomography), MRI (magnetic resonance imaging), dan pemindaian PET (positron emission tomography).

Setelah bentuk tumor diketahui, terapi ini akan menggunakan teknologi 3D khusus yang bernama “multi-leaf collimator” untuk membentuk pancaran radiasi sesuai dengan bentuk tumor. Setelah pancaran radiasi dibentuk dan jumlahnya dipastikan, dokter ahli kanker akan mengatur dosis dari setiap pancaran agar sesuai dengan tujuan dari setiap tahap pengobatan. Detail dari pengobatam, misalnya berapa banyak sesi yang dibutuhkan dan jumlah radiasi yang harus dipancarkan setiap sesi, akan bergantung pada ukuran dan stadium tumor.

Karena pancaran radiasi yang sama akan digunakan dalam setiap sesi, maka pasien juga akan diminta untuk berbaring dalam posisi yang sama dalam setiap sesi. Dalam beberapa kasus, pasien juga akan diberi tato yang berukuran kecil seperti bintik-bintik untuk menandai letak radiasi. Namun, saat ini, untuk memastikan pasien berbaring dalam posisi yang benar dalam setiap sesi, cetakan tubuh khusus yang disesuaikan dengan tubuh pasien juga akan digunakan. Posisi berbaring pasien, yang tidak terlalu berperan penting dalam terapi radiasi standar, harus sangat diperhatikan dalam radioterapi konformal 3D.

Setelah pasien berada dalam posisi yang benar dan aman, sistem penghantaran radiasi akan mulai memancarkan radiasi ke arah tumor, dengan bergerak secara melingkar dan memancarkan radiasi dari berbagai sudut. Pasien tidak akan merasa sakit selama tindakan, sehingga obat penenang tidak perlu digunakan. Setiap sesi akan membutuhkan waktu sekitar 30 menit, dilakukan sekali setiap hari sampai tujuh minggu. Apabila tujuan dari pengobatan belum terwujudkan, maka durasi pengobatan akan diperpanjang.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Radioterapi Konformal 3D

Semua jenis terapi radiasi untuk pengobatan kanker memiliki efek samping. Terapi radiasi adalah jenis pengobatan yang agresif untuk tumor ganas, dan walaupun teknologi konformal 3D dapat menjaga agar jaringan yang sehat tidak terkena radiasi, tetap ada beberapa efek samping yang dapat terjadi saat sel kanker dihancurkan.

Radioterapi otak

  1. Kecapekan
  2. Kerontokan rambut
  3. Kehilangan pendengaran

Radioterapi kepala dan leher

  1. Gangguan pada mulut dan gigi
  2. Penurunan berat badan
  3. Kesulitan menelan
  4. Perubahan suara
  5. Kerontokan rambut

Radioterapi Dada

  1. Kesulitan menelan
  2. Napas terengah-engah

Radioterapi Perut

  1. Diare
  2. Gangguan pada kandung kemih

Selain itu, radioterapi juga memiliki efek samping yang umum, yang dapat bersifat sementara, seperti kelelahan dan gangguan pada kulit, atau terjadi dalam jangka waktu yang lama, seperti masalah kesuburan dan defisiensi hormon pertumbuhan. Pasien juga dapat terpengaruh secara emosional; efek ini merupakan bagian yang normal dari proses pengobatan kanker, dan juga harus dimasukkan ke dalam rencana pengobatan, baik melalui konseling atau grup pendukung.

Rujukan:

  • Zemen EM, Schreiber EC, Tepper JE. Basics of radiation therapy. In: Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, et al., eds. Abeloff's Clinical Oncology. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2013:chap 27.

  • National Cancer Institute. Radiation therapy and you: support for people who have cancer. Available at: http://www.cancer.gov/cancertopics/coping/radiation-therapy-and-you.

Bagikan informasi ini: