Apa itu Ablasi Retina?

Retina merupakan lapisan tipis jaringan di dalam mata yang menerima dan mengubah cahaya yang masuk pada lensa menjadi sinyal yang ditransmisikan ke otak. Ablasi retina merupakan kondisi serius di mana retina pindah dari posisi aslinya. Ketika hal ini terjadi, retina tidak lagi menerima oksigen dengan jumlah yang seharusnya untuk membuatnya dapat berfungsi.

Penting bagi pasien Ablasi retina untuk mendapatkan pengobatan yang tepat untuk mencegahnya bertambah buruk. Jika kondisi ini dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan total pada mata yang terserang.

Pada kebanyakan kasus, Ablasi retina mulanya adalah robekan retina. Tanda dan gejala robekan retina cukup jelas, yang menjadi alasan mengapa terdapat cukup waktu bagi dokter ahli mata untuk memberikan pengobatan sebelum kondisi memburuk menjadi Ablasi retina sepenuhnya.

Penyebab Ablasi Retina

Ablasi retina bermula dari robekan atau lubang kecil yang disebut robekan retina. Cairan di dalam vitreous/cairan air mata mengalir melalui robekan tersebut dan menumpuk di bawah retina. Pada akhirnya, cairan tersebut menjauhkan retina dari pembuluh darah yang memasok oksigen ke retina.

Robekan retina dapat disebabkan oleh luka, diabetes lanjut, atau peradangan pada mata. Penting untuk diingat bahwa gangguan radang mata juga dapat menyebabkan penumpukan cairan tanpa menimbulkan robekan retina. Hal ini juga akan menyebabkan Ablasi retina.

Proses penuaan normal juga dapat menyebabkan robekan retina. Sejalan seseorang bertambah tua, cairan vitreous mulai menyusut menyebabkan kondisi umum yang disebut posterior vitreous detachment (PVD), yang juga disebut keruntuhan vitreous.

Ketika vitreous menyusut, vitreous mulai terlepas dari retina sehingga menyebabkan robekan. Cairan vitreous kemudian akan mengalir ke robekan tersebut dan akhirnya menyebabkan ablasi retina.

Ablasi retina dapat terjadi pada siapa saja dari segala usia, namun lebih sering terjadi pada orang dengan usia di atas 40 tahun. Orang yang menderita rabun jauh parah, yang sebelumnya menjalani operasi mata, atau telah mengalami ablasi retina pada satu matanya menjadi lebih rentan terhadap kondisi tersebut. Luka parah atau trauma pada mata, gangguan mata, dan riwayat keluarga atas ablasi retina juga meningkatkan risiko kondisi ini.

Gejala Utama Ablasi Retina

Menyadari tanda ablasi retina merupakan kunci untuk mencegah kondisi ini memburuk. Untungnya, tidaklah sulit untuk mengidentifikasi gejalanya. Yang paling umum adalah kilatan cahaya pada mata yang terserang, munculnya floater (bintik-bintik kecil yang mempengaruhi penglihatan), atau penglihatan mulai kabur pada daerah yang terserang.

Ketika tanda dan gejala ini muncul, penting untuk Anda berkonsultasi dengan dokter mata Anda untuk segera mendapatkan pengobatan. Jika kondisi memburuk, Anda kemungkinan besar akan kehilangan penglihatan pada mata yang terserang.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Oftamologis adalah dokter mata yang memenuhi syarat untuk melakukan operasi mata, seperti pengangkatan katarak dan pengobatan ablasi retina. Dokter akan memeriksa kondisi Anda dengan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti ultrasonografi atau dengan menggunakan oftalmoskop.

Oftalmoskop adalah alat yang menggunakan cahaya terang dan lensa khusus. Alat ini memberikan gambar bagian dalam mata 3 dimensi, yang memungkinkan dokter untuk melihat setiap lubang atau air mata pada retina, atau jika retina telah terlepas.

Pada ultrasonografi, perangkat menggunakan gelombang suara yang diarahkan pada mata. Komputer kemudian akan melacak pergerakan gelombang suara ketika gelombang ini bergerak pada mata untuk membuat gambar.

Jika dokter memastikan adanya robekan retina atau ablasi retina, rencana pengobatan akan segera diresepkan.

Operasi merupakan bentuk pengobatan utama untuk ablasi retina atau robekan retina. Jika robekan belum berkembang menjadi ablasi retina, dokter mungkin memilih untuk melakukan operasi laser atau tindakan yang disebut pembekuan.

Operasi laser, yang juga disebut sebagai fotokoagulasi, melibatkan penggunaan laser untuk membakar robekan retina dan membuat bekas luka yang menutup robekan. Proses pembekuan, yang disebut kriopeksi retina, yang melibatkan penggunaan alat pembeku untuk membekukan robekan dan membuat bekas luka.

Tindakan di atas memerlukan beberapa waktu untuk mendapatkan efek sepenuhnya. Selama periode ini, pasien akan dianjurkan untuk menghindari aktivitas berat. Jika retina sudah terlepas, dokter akan melakukan tindakan lain, seperti retinopeksi pneumatik, tekuk sclera, atau vitrektomi.

Retinopeksi pneumatik melibatkan penyuntikkan gas atau udara ke dalam mata sehingga terbentuk gelembung. Kemudian, gelembung akan bergerak kearah air mata dan menutupnya dengan efektif, sehingga mencegah lebih banyak kebocoran cairan. Setelah beberapa waktu, robekan akan sembuh dan gelembung akan diserap. Cairan yang menumpuk di bawah retina juga akan diserap sehingga memungkinkan retina untuk menempel kembali.

Pada tindakan tekuk sklera, dokter bedah menempelkan silicon karet pada sclera di atas robekan retina. Dokter bedah juga dapat menggunakan spons selain silicon. Bahan tersebut kemudian akan membuat lekukan untuk meringankan tekanan. Jika terdapat beberapa robekan, bahan tersebut akan melekat pada sclera membentuk sabuk, yang akan menetap di tempatnya selama hidup pasien.

Pada tindakan vitrektomi, cairan dan jaringan lain yang menarik retina dikeringkan. Kemudian, gas atau udara akan digunakan untuk menempelkan retina pada tempatnya. Dalam beberapa kasus, dokter bedah dapat memilih untuk menggunakan minyak silikon sebagai penggantinya. Tidak seperti halnya gas atau udara, yang diserap oleh mata, minyak silikon perlu dikeluarkan setelah beberapa bulan.

Perlu dipahami bahwa tindakan bedah untuk memasang kembali retina tidak dijamin keberhasilannya. Tindakan kemungkinan gagal. Jika tindakan tindak berhasil, terdapat kemungkinan penglihatan tidak kembali ke kondisi normal. Terdapat juga kemungkinan penglihatan tidak kembali sama sekali.

Jika tindakan ini berhasil, maka akan berlangsung beberapa bulan sebelum hasilnya terlihat. Selama masa tunggu ini, penglihatan Anda akan masih tetap terpengaruh kondisi. Bergantung pada tingkat keparahan kehilangan penglihatan Anda, Anda akan memerlukan bantuan dalam mengatasi kondisi Anda saat Anda menunggu penglihatan Anda membaik. Penting untuk menghindari operasi mata apapun pada masa ini, jadi pastikan rumah Anda aman atau Anda memiliki seseorang untuk membantu Anda.

Rujukan:

  • American Academy of Ophthalmology Retina Panel. Preferred Practice Pattern Guidelines. Posterior vitreous detachment, retinal breaks, and lattic degeneration. San Francisco, Ca: American Academy of Ophthalmology; 2013. Accessed August 29, 2013.

  • Connolly BP, Regillo CD. Rhegmatogenous retinal detachment. In: Tasman W, Jaeger EA, eds. Duane’s Ophthalmology on DVD-ROM - 2013 Edition. Philadelphia, Pa: Lippincott Williams & Wilkins; 2013: vol 3, chap 27.

  • Wolfe JD, Williams GA. Techniques of scleral buckling. In: Tasman W, Jaeger EA, eds. Duane’s Ophthalmology on DVD-ROM - 2013 Edition. Philadelphia, Pa: Lippincott Williams & Wilkins; 2013: vol 6, chap 59.

Bagikan informasi ini: