Apa itu Perbaikan Rotator Cuff?

Perbaikan rotator cuff adalah prosedur bedah untuk memperbaiki kerusakan atau robekan otot dan tendon yang menopang lengan melalui sendinya. Tendon ini pun digunakan untuk memudahkan gerakan bahu.

Rotator cuff menghubungkan lengan atas atau humerus, dengan skapula atau mata bahu. Komponen otot menciptakan fleksibilitas gerakan, sedangkan tendon pada manset bertanggung jawab untuk melabuhkan dan menyeimbangkan bahu.

Robekan pada rotator cuff biasanya terjadi di tendon. Sedangkan cedera pada area ini umumnya berujung pada radang atau iritasi otot dan tendon. Robekan ini merupakan akibat dari pemakaian berlebih, keretakan, atau cedera. Namun, kondisi ini tidak lantas memperlihatkan gejala apalagi pada tahap awal. Selain itu, tidak semua kondisi memerlukan perbaikan segera, terutama jika kerusakannya hanya parsial. Bahkan untuk beberapa kasus, pasien hanya akan diminta untuk menjalani pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kondisi ini.

Siapa yang Perlu Menjalani Perbaikan Rotator Cuff dan Hasil yang Diharapkan

Pasien yang menderita kerusakan pada rotator cuff mungkin dianjurkan untuk menjalani prosedur bedah perbaikan, bila merasakan nyeri (khususnya saat beristirahat atau tidur) selama beberapa bulan dan telah mencoba alternatif pengobatan tanpa bedah, namun kondisinya tidak membaik.

Pasien yang menjalani prosedur bedah perbaikan rotator cuff, antara lain:

  • Atlet yang mengalami sobekan tendon yang besar, ini bisa memicu kehilangan fungsi bahu dan rasa nyeri saat mengangkat benda.

  • Aktif menggunakan bahu (seperti pekerjaan tangan/kasar) untuk mencegah kehilangan sumber mata pencarian.

  • Mengalami cedera dan trauma bahu mendadak, terutama jika kondisinya bukan disebabkan oleh pemakaian dan keretakan.


Prosedur ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, terutama pada pasien yang mengalami cedera mendadak. Pada kasus tertentu, di mana pasien mengalami tendon yang berangsur sobek, maka sulit untuk mengembalikan seluruh fungsi dan mobilitas bahu. Prosedur perbaikan biasanya dilanjutkan dengan rangkaian sesi terapi fisik untuk mendukung proses pemulihan dan mengembalikan kekuatan tendon yang rusak. Selama beberapa minggu pasca operasi, pasien perlu membatasi aktivitas bahu. Artinya, ia tidak boleh melakukan aktivitas berat, karena lengan disangga. Seiring berjalannya waktu, pasien akan merasa gejala semakin berkurang dan mobilitas bahu meningkat.

Cara Kerja Perbaikan Rotator Cuff

Beberapa tindakan dalam perbaikan rotator cuff, adalah artroskopi, teknik bedah terbuka, dan terbuka-mini.

Sebelum menjalani prosedur, pasien akan diberi bius total atau lokal. Untuk teknik artroskopi akan dibuat sayatan kecil di area bedah. Teropong kecil yang disebut artroskop dimasukkan untuk memandu visualisasi bagian yang rusak. Peralatan bedah khusus lainnya pun dimasukkan untuk membawa jahitan yang lantas diikatkan pada kedua ujung tendon yang rusak. Prosedur ini terus diulang hingga sobekan berhasil diperbaiki. Jahitan jangkar dipasang pada rotator cuff untuk membantu stabilitas. Kemudian, peralatan bedah dan artroskop akan dikeluarkan.

Pada prosedur terbuka-mini, sebuah artroskop digunakan untuk memandu visualisasi dan mengangkat jaringan yang rusak. Apabila terdapat pertumbuhan tulang kecil yang menusuk, maka akan dibuang sebelum dokter membuat sayatan lain sebagai jalan masuk menuju tendon yang sobek. Lalu, tendon akan segera dijahit dan diperbaiki.

Untuk sobekan besar, dokter kemungkinan memilih teknik perbaikan dengan bedah terbuka dengan membuat sayatan besar pada area yang rusak. Otot deltoid atau otot bahu dilepaskan dan dipindahkan agar akses menuju tendon menjadi lebih baik. Kemudian, dokter akan menjahit area yang robek, membuang pertumbuhan tulang yang menonjol. Otot deltoid disambungkan kembali sebelum sayatan ditutup.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perbaikan Rotator Cuff

Seperti prosedur bedah pada umumnya, pasien kemungkinan mengalami reaksi penolakan terhadap obat bius. Kemungkinan lain adalah pendarahan berat dan infeksi pada area bedah.

Setelah menjalani prosedur bedah terbuka, otot deltoid kemungkinan akan lepas dan tidak sembuh total selama rehabilitasi pasca operasi. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi bahu secara keseluruhan.

Komplikasi lain yaitu otot yang telah diperbaiki akan terasa kaku. Jika tidak ditangani, hal ini menjadi permanen dan bisa mengurangi mobilitas bahu.

Meskipun jarang, saraf yang membantu otot deltoid pun bisa mengalami cedera.

Selain itu, kemungkinan lain adalah tendon mengalami sobekan lagi setelah beberapa waktu, atau pasien mengalami cedera di bagian yang sama. Kondisi ini membuat pasien harus menjalani bedah perbaikan lagi.

Rujukan

  • Beasley Vidal LS, et al. (2007). Shoulder injuries. In PJ McMahon, ed., Current Diagnosis and Treatment in Sports Medicine, pp. 118-145. New York: McGraw-Hill.

  • Lin KC, et al. (2010). Rotator cuff: 1. Impingement lesions in adult and adolescent athletes. In JC DeLee et al., eds., DeLee and Drez's Orthopaedic Sports Medicine, Principles and Practice, 3rd ed., vol. 1, pp. 986-1015. Philadelphia: Saunders Elsevier.

  • Murphy RJ, Carr AJ (2010). Shoulder pain, search date August 2009. Online version of BMJ Clinical Evidence: http://www.clinicalevidence.com.

Bagikan informasi ini: