Apa itu Salpingektomi?

Salpingektomi adalah prosedur bedah untuk mengangkat salah satu atau kedua tuba fallopi, namun tetap membiarkan keberadaan rahim dan indung telur. Ini dirancang sebagai prosedur pengobatan utama untuk kehamilan ektopik, tapi bisa juga dilaksanakan untuk menangani kondisi atau gangguan pada sistem reproduksi wanita.

Tuba fallopi adalah tempat sel sperma membuahi sel telur, ini juga disebut sebagai saluran rahim. Selain kondisinya yang tepat sebagai lokasi pembuahan, tuba fallopi mengangkut dan membawa sel telur dari indung telur menuju rahim. Sistem reproduksi wanita normal memiliki dua tuba fallopi dengan ujung yang berada di dekat rahim untuk menangkap dan mengangkut sel telur. Pada kondisi kehamilan ektopik, sel telur yang telah dibuahi tidak akan memasuki rahim, namun akan tetap berada di dalam tuba fallopi.

Umumnya, untuk mengangkat salah satu tuba fallopi dilakukan salpingektomi unilateral, di mana pasien masih dapat hamil dan bereproduksi pasca prosedur. Sedangkan, pengangkatan kedua tuba fallopi disebut salpingektomi bilateral dan hanya dilakukan pada kasus yang termasuk parah.

Siapa yang Perlu Menjalani Salpingektomi dan Hasil yang Diharapkan

Indikasi utama dari salpingektomi adalah kehamilan ektopik, di mana sel telur yang telah dibuahi hanya memiliki kesempatan yang sangat kecil untuk tetap hidup. Biasanya, dokter menganjurkan untuk segera menggagalkan kehamilan saat pasien terdiagnosis kondisi yang membahayakan nyawa ini.

Salpingektomi juga bisa direkomendasi bagi pasien yang terdiagnosis salpingitis atau infeksi tuba fallopi. Bagian yang terinfeksi akan meradang dan menimbulkan jaringan parut, yang menghambat perjalanan sel telur menuju rahim. Salpingitis berperan dalam menyebabkan kehamilan ektopik. Peradangan biasanya disebabkan oleh penyakit menular seksual atau infeksi pasca melahirkan atau aborsi. Terdapat kasus dimana tuba fallopi menjadi tersumbat dan dipenuhi cairan. Kondisi ini dikenal dengan istilah hydrosalpinx dan dapat diobati dengan salpingektomi.

Di beberapa kasus, penanaman alat intrauterin pun bisa merusak tuba fallopi. Pasien perlu menjalani salpingektomi untuk mengobati dan mencegah kerusakan yang lebih parah.

Salpingektomi juga dapat dilakukan pada pasien yang menjalani histerektomi atau pengangkatan rahim karena terserang penyakit. Pasien yang diduga mengidap kanker rahim pun dapat dirujuk pada salpingektomi sebagai tindakan pencegahan.

Wanita yang menginginkan kontrasepsi efektif disarankan untuk menjalani salpingektomi bilateral. Namun, pasien harus benar-benar mempertimbangkan keputusannya, karena hasil dari prosedur ini bersifat permanen dan tidak ada prosedur pembalikan.

Keberhasilan salpingektomi tergantung pada tujuannya. Bila untuk mengobati kehamilan ektopik atau salpingitis, hasilnya biasanya berhasil tanpa ada komplikasi, dan pasien masih memiliki potensi besar untuk hamil. Proses penyembuhan pun sangat cepat, terutama bila pasien mengikuti program rehabilitasi pasca pasien nyeri pasca operasi dan mendorong proses pemulihan. Selama beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung pada keparahan kondisi.

Bagi wanita yang terdiagnosis penyakit yang menyerang organ sistem reproduksi lain, seperti rahim dan indung telur, salpingektomi merupakan salah satu langkah yang diperlukan untuk menyempurnakan pengobatan. Pasien perlu menjalani prosedur tambahan yang mampu menangani penyakit secara efektif.

Cara Kerja Salpingektomi

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk melaksanakan salpingektomi, yang paling umum dan paling disukai adalah laparoskopi. Dokter memulai prosedur dengan membuat sayatan kecil di bagian perut, biasanya di dekat pusar. Kemudian, laparoskop, alat yang menyerupai teleskop kecil, dimasukkan agar dokter dapat mengidentifikasi tuba fallopi yang perlu diangkat. Alat satelit dimasukkan melalui sayatan kedua di sekitar area kemaluan, untuk melihat area bedah. Tuba fallopi yang rusak akan dijepit dan dikauterisasi. Kemudian, dipotong atau dipisahkan dari bagian-bagian sistem reproduksi. Kemudian, mesosalpinx dan sayatan di daerah perut akan dijahit.

Beberapa dokter bedah lebih memilih untuk melakukan prosedur ini dengan perangkat pengintai dengan membuat sayatan di perut bagian bawah untuk mengangkat tuba fallopi. Proses ini dikenal dengan istilah mini-laparotomi.

Tindakan yang lebih invasif adalah laparotomi, yang membutuhkan sayatan besar di perut bagian bawah agar lebih mudah menjangkau bagian dalam perut. Tindakan ini lebih dipertimbangkan untuk pengangkatan kedua tuba fallopi.

Pada kasus yang termasuk jarang, salpingektomi dilakukan melalui sayatan di daerah vagina, disebut kolpotomi. Metode ini memungkinkan pengangkatan tuba fallopi melalui vagina.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Salpingektomi

Seperti prosedur bedah pada umumnya, salpingektomi beresiko memicu reaksi penolakan terhadap obat bius dan pendarahan berat, saat atau setelah operasi.

Kemungkinan bagian sistem reproduksi di sekitar tuba fallopi, seperti rahim, indung telur, pembuluh darah, dan saraf akan mengalami kerusakan. Bahkan, meskipun jarang, usus ikut mengalami cedera atau kerusakan, sehingga memerlukan intervensi bedah tambahan. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah usus tersumbat dan membuat perut kram, kembung, dan terus menerus bersendawa.

Area bedah menyebabkan rasa nyeri yang dapat diobati dan hilang dalam beberapa minggu. Selain itu, operasi akan meninggalkan bekas luka, baik di dalam dan luar tubuh.

Rujukan

  • Johnson N, van Voorst S, Sowter MC, Strandell A, Mol BW. Surgical treatment for tubal disease in women due to undergo in vitro fertilisation. Cochrane Database Syst Rev. 2010. (1):CD002125.

  • Audebert A, Pouly JL, Bonifacie B, et al. Laparoscopic surgery for distal tubal occlusions: lessons learned from a historical series of 434 cases. Fertil Steril. 2014 Oct. 102(4):1203-8.

Bagikan informasi ini: