Apa itu Scrotoplasty?

Skrotum adalah kantung yang terletak di dasar penis dan merupakan bagian penting dari sistem reproduksi pria. Skrotum memberikan perlindungan terhadap testis yang merupakan tempat produksi sperma. Skrotum juga berperan mengatur suhu di dalam testis, membuat kondisi yang optimal untuk produksi dan perkembangan sperma.

Scrotoplasty adalah prosedur bedah untuk membentuk skrotum bagi wanita yang ingin mengganti jenis kelamin. Istilah scrotoplasty juga dilaksanakan sebagai operasi perbaikan skrotum yang cacat atau rusak. Namun, terdapat pula kondisi dimana rekonstruksi skrotum dilakukan dengan tujuan kecantikan, untuk memperbaiki penampilan dan menghindari penurunan karena kulit yang berlebihan.

Siapa yang Perlu Menjalani Scrotoplasty dan Hasil yang Diharapkan

Scrotoplasty sangat direkomendasi untuk:

  • Wanita yang menjalani prosedur pergantian kelamin – Scrotoplasty adalah salah satu prosedur yang dilakukan untuk wanita yang ingin melengkapi transformasi menjadi pria. Biasanya, prosedur ini dilakukan setelah pasien menjalani evaluasi psikologis dan terapi hormon. Pada kondisi ini, prosedur dilaksanakan bersama dengan prosedur lain, seperti pembentukan penis.

  • Pria yang menderita penurunan ukuran penis. Kondisi ini terjadi bila kulit terbuang terlalu banyak saat sirkumsisi dan menyebabkan kulit skrotal menumpuk pada batang penis.

  • Pria yang ingin menghilangkan kulit skrotal berlebihan akibat penuaan – Kulit skrotal berlebih, bukan sekedar masalah estetika, namun dapat membuat tidak nyaman, khususnya saat memakai pakaian ketat. Orang-orang yang tidak memiliki gangguan psikologis, namun ingin memperbaiki penampilan alat kelaminnya dapat mempertimbngkan prosedur ini
  • Bayi laki-laki yang lahir dengan kondisi webbed penis – Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan penis tersembunyi atau terkubur. Scrotoplasty adalah salah satu prosedur beah untuk menangani kondisi ini.
  • Pria yang menderita cedera parah pada skrotumnya atau terdiagnosis tumor skrotum.
    Mengenai hasil yang diharapkan, scrotoplasty memiliki hasil yang memuaskan dengan waktu pemulihan yang singkat dan nyeri dalam skala ringan. Hampir seluruh pasien mengungkapkan kepuasannya terhadap fungsi dan penampilan area yang sudah di bedah.

Cara Kerja Scrotoplasty

Scrotoplasty dilaksanakan secara rawat jalan dan memerlukan bius lokal. Saat operasi untuk perubahan kelamin, dokter akan membuat sayatan di atas tulang pubis dan di bagian bawah labia mayora. Kulit di ujung bawah akan diangkat dan dijahit untuk membuat kantung. Setelah beberapa waktu, pasien harus menjalani prosedur bedah lainnya yang bertujuan memasukann implan testis ke kantung tersebut, agar ia terkesan maskulin. Kemudian. sayatan tersebut akan dijahit.

Teknik rekonstruksi skrootum lainnya digunakan sebagai pengobatan webbed penis. Sebuah sayatan akan dibuat untuk memisahkan penis dari skrotum dan sebuah sayatan lain untuk membuang jaringan berlebih pada area tersebut. Setelah selesai, sayatan akan dijahit.

Saat operasi plastik untuk membuang penurunan kulit skrotum, sayatan akan dibuat sepanjang garis tengah skrotum di antara kedua kantung skrotal. Ketika jaringan yang berlebihan telah terbuang, maka sayatan akan dijahit.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Scrotoplasty

Scrotoplasty memiliki resiko dan komplikasi sebagai berikut:

  • Pendarahan saat atau setelah prosedur operasi
  • Reaksi penolakan zat bius
  • Infeksi pada area bedah
  • Luka di dalam atau sekitar area bedah
  • Sensasi yang dirasakan skrotum berubah atau berkurang
  • Bekas luka gores yang memerlukan prosedur bedah lainnya
  • Penolakan anggota tubuh terhadap implan
  • Nyeri, dapat menjadi kronis dan berdampak buruk pada kualitas hidup pasien
    Hasil dari prosedur rekonstruksi skrotum terbilang permanen dan hanya sedikit pasien yang merasa tidak puas dengan hasilnya, baik bentuk ataupun fungsinya.

    Rujukan:

  • Hoar RM, Calvano CJ, Reddy PP, Bauer SB, Mandell J Unilateral suprainguinal ectopic scrotum: the role of the gubernaculum in the formation of an ectopic scrotum. Teratology 1998;57:64–9.

  • Elder JS, Jeffs RD Suprainguinal ectopic scrotum and associated anomalies. J Urol 1982;127:336–8

Bagikan informasi ini: