Apa itu Septoplasty?

Septoplasty adalah prosedur bedah untuk mengubah bentuk atau posisi dari septum yang bengkok dengan memperbaiki tulang rawan dan tulang di hidung. Prosedur ini juga dikenal dengan istilah operasi septum.

Septum merupakan bagian hidung yang memisahkan kedua lubang hidung. Septum terdiri dari tulang dan tulang rawan. Karena beberapa alasan, septum dapat menjadi bengkok atau menyimpang, sehingga salah satu lubang hidung menjadi lebih besar. Walaupun tidak selalu memerlukan pembedahan, kondisi ini biasanya akan menghambat peredaran udara di saluran hidung. Septum yang bengkok juga dapat mengakibatkan masalah lain, seperti nyeri dan pendarahan hidung. Kondisi ini hanya dapat disembuhkan dengan septoplasty.

Septoplasty tidak boleh disalahartikan dengan rhinoplasty atau operasi hidung. Walaupun sama-sama dilakukan pada hidung, namun septoplasty tidak akan mengubah bentuk hidung. Rhinoplasty merupakan prosedur kecantikan, sedangkan septoplasty merupakan prosedur rekonstruktif, yang berarti prosedur ini dapat ditanggung asuransi.

Siapa yang Perlu Menjalani Septoplasty dan Hasil yang Diharapkan

Ada dua alasan utama mengapa septum menjadi bengkok: kelainan bawaan dan trauma. Kelainan bawaan dapat disebabkan oleh gangguan perkembangan janin atau bayi mengalami cedera saat melewati saluran kelahiran.

Sedangkan pada kasus cedera traumatis, septum dapat menjadi bengkok secara langsung atau bertahap. Septum akan langsung bengkok bila hidung terkena benturan yang sangat keras, misalnya jika pasien jatuh ke atas lantai konkrit atau mengalami kecelakaan bermotor. Contoh kasus pembengkokan yang bertahap adalah pada pasien yang aktif berolahraga dan hidungnya berulang kali terkena bola.

Banyak kasus pembengkokan septum yang tergolong ringan dan tidak mengganggu pernapasan. Dokter atau spesialis THT dapat memastikan diagnosis melalui tes sederhana yang menggunakan scope untuk memeriksa jaringan dalam hidung. Apabila pasien sering mengalami mimisan yang tidak disebabkan penyakit lain atau ia mengalami nyeri di setidaknya salah satu sisi hidung, maka kemungkinan besar septumnya bermasalah. Faktor lain, seperti usia dan gangguan hidung (mis. rhinitis), juga dapat memperparah kondisi ini.

Operasi septum diharapkan dapat melancarkan peredaran udara pasien serta membuat pasien dapat bernapas dengan lebih baik. Dengan begitu, kualitas hidup, mobilitas, dan ketahanan pasien juga akan sangat meningkat.

Cara Kerja Septoplasty

Septoplasty akan dilakukan oleh dokter bedah THT. Sebelum pembedahan, pasien perlu menjalani beberapa tes, seperti rontgen, tes darah, dan pemeriksaan fisik untuk memastikan bahwa kondisinya memungkinkan untuk menjalani pembedahan. Pasien yang sedang mengonsumsi obat-obatan, terutama pengencer darah dan aspirin, akan diminta berhenti mengonsumsi obat tersebut setidaknya dua minggu sebelum septoplasty. Ini dilakukan untuk mencegah pendarahan berlebih. Dokter bedah juga perlu merencakan pembedahan dan biasanya akan mengambil gambar hidung untuk perbandingan.

Septoplasty dapat dilakukan dengan bius total atau bius lokal. Namun yang sering digunakan adalah bius total, untuk memaksimalkan kenyamanan pasien. Saat pembedahan, pasien akan berbaring di meja operasi. Seluruh wajahnya akan ditutupi, kecuali hidung. Lalu, dokter bedah akan membuat sayatan kecil di hidung. Dengan alat bedah mikro, membran mukosa yang melapisi septum akan diangkat.

Kemudian, dokter bedah akan mulai memperbaiki septum dengan mengubah bentuk atau posisi tulang dan tulang rawan, serta mengangkat kelebihan tulang atau tulang rawan. Sesudah itu, membran mukosa akan dikembalikan ke septum, dan sayatan akan dijahit. Penyangga hidung biasanya akan dipasang supaya hidung dapat tetap stabil selama masa pemulihan. Tampon hidung juga dapat diletakkan pada hidung untuk mengurangi pendarahan. Tampon ini dapat dilepas dalam 1-2 hari.

Operasi septum membutuhkan waktu 1-2 jam. Pasien biasanya dapat langsung pulang seusai pembedahan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Septoplasty

Pasien biasanya akan merasakan nyeri dan tidak nyaman setelah septoplasty, namun keduanya akan hilang dengan sendirinya dalam 24-48 jam. Resiko lainnya adalah pendarahan serta bekas luka. Pada kasus yang sangat langka, bentuk hidung dapat terlihat berbeda. Apabila ada saraf yang rusak akibat pembedahan, pasien dapat mengalami gangguan penciuman.

Rujukan:

  • Kridel RWH, Strum-O'Brien A. The nasal septum. In: Flint PW, Haughey BH, Lund LJ, et al, eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA:Elsevier Mosby; 2015:chap 32.
Bagikan informasi ini: