Apa itu Perbaikan Luka Superfisial Sederhana pada Wajah, Telinga, Kelopak Mata, Bibir, dan/atau Selaput Lendir?

Perbaikan luka superfisial pada wajah, telinga, kelopak mata, hidung, dan/atau selaput lendir adalah prosedur untuk mengobati luka di lapisan kulit atas. Luka ini memerlukan penutupan sederhana menggunakan teknik yang disesuaikan dengan bagian tubuh.

Secara umum, penyembuhan luka merujuk pada prosedur penanganan yang tidak memerlukan jahitan. Namun, mungkin saja memerlukan elektrokauterisasi atau plester untuk membantu penutupan. Prosedur ini merupakan satu dari tiga metode penyembuhan luka, selain metode tahap lanjut dan rumit.

Siapa yang Perlu Menjalani Perbaikan Luka Superfisial Sederhana pada Wajah, Telinga, Kelopak Mata, Bibir, dan/atau Selaput Lendir dan Hasil yang Diharapkan

Yang perlu menjalani prosedur ini adalah pasien dengan luka kecil di bagian atau struktur wajah. Luka ini hanya merusak lapisan kulit luar atau epidermis. Luka superfisial merupakan luka terbuka. Klasifikasi luka superfisial berdasarkan penyebab dan karakteristiknya, adalah:

  • Laserasi
  • Lecet atau terserempet
  • Luka tusuk
  • Luka bakar ringan


Karena luka terjadi di wajah dan strukturnya, dokter perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang memicu bekas luka di wajah.

Dibandingkan kulit bagian tubuh lain, karakteristik kulit wajah membuat perawatan lebih mudah. Kulit wajah secara alami lentu sehingga resiko kehilangan jaringan dan pembengkakan sangat minim. Pasokan darah ke area wajah lebih banyak, sehingga mendukung pemulihan yang cepat. Luka pada bagian tubuh lain harus segera diobati dalam 6 jam, namun pengobatan luka wajah dapat ditunda bahkan selama satu hari, asalkan kebersihan luka terjaga. Resiko infeksi luka superfisial termasuk kecil. Perbaikan luka superfisial sederhana di wajah, telinga, kelopak mata, hidung, bibir, dan/atau selaput lendir sangat efektif dengan bekas luka minim.

Cara Kerja Perbaikan Luka Superfisial Sederhana pada Wajah, Telinga, Kelopak Mata, Bibir, dan/atau Selaput Lendir

Dokter memulai prosedur dengan memeriksa area luka. Ini dimaksudkan untuk menentukan perluasan cedera, memeriksa potensi berbahaya atau kontaminasi. Bila tidak menembus struktur dalam (saraf dan tendon), dokter akan melaksanakan prosedur sederhana dan memeriksa kebutuhan zat sedasi atau anestesi.

Apabila luka terkontaminasi, prosedur dimulai dengan membersihkan luka dan benda asing serta debris. Debridemen tidak diperlukan karena pasokan darah yang baik membuat jaringan wajah pulih secara alami, kecuali bila telah mati.

Sebelum diperbaiki, luka akan dibasuh dengan larutan anti-bakteri. Dokter sangat berhati-hati dalam memberikan larutan anti-bakteri pada luka wajah, terutama hidung dan kelopak mata. Terkadang, larutan dibatasi maksimal 10% campuran iodine povidon, agar aman digunakan di sekitar mata dan selaput lendir.

Apabila memerlukan pembiusan, dokter umumnya memakai kombinasi lidocaine-adrenaline atau lidocaine murni. Pada luka superfisial kecil, obat bius disuntikkan sepanjang pinggiran luka. Untuk luka besar namun termasuk superfisial, obat penghambat saraf lebih diutamakan.

Pada luka di selaput lendir atau mulut, tujuan prosedur ini memastikan kesesuaian batasan basah dan kering. Sebaiknya prosedur ini tidak melukai saluran liur selama pengobatan. Saluran liur mengandung gundukan lendir mulut di dalam pipi, berada di dekat geraham atas kedua.

Terakhir, dokter akan menutup area luka dengan kasa steril.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Perbaikan Luka Superfisial Sederhana pada Wajah, Telinga, Kelopak Mata, Bibir, dan/atau Selaput Lendir

Infeksi bisa terjadi pada luka apapun, sehingga pasien harus diberi larutan atau salep antibiotic yang tepat. Namun, untuk luka di kelopak mata, antibiotik topikal umumnya berpotensi menyebabkan konjungtivitis. Kondisi ini ditandai konjungtiva yang meradang dan kemerahan. Untuk menghindarinya, dokter menggunakan antibiotik yang memang dapat digunakan pada mata.

Anestesi yang digunakan juga dapat menimbulkan komplikasi seperti reaksi alergi, iritasi ataupun cedera pada wajah. Oleh karena itu, dokter sangat hati-hati dalam memilih obat bius untuk luka wajah.

Rujukan:

  • Bhattacharya V. “Management of soft tissue wounds of the face.” Indian J Plast Surg. 2012 Sep-Dec; 45(3). http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3580340/

  • “Clinical Practice Guidelines: Lacerations.” The Royal Children’s Hospital Melbourne. http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/lacerations/

Bagikan informasi ini: